FAMILY
Moms Wajib Tahu! 11 Efek Samping Epidural yang Dapat Menimbulkan Gejala
A. Firdaus
Sabtu 24 Januari 2026 / 18:05
Jakarta: Epidural adalah pembiusan regional yang umum digunakan untuk meredakan nyeri. Terutama saat persalinan normal dengan menyuntikkan obat anestesi ke dalam ruang epidural di tulang belakang bagian bawah.
Penting untuk mengetahui efek samping dari proses epidural ini agar persalinan menjadi momen nyaman, bukan malah merasa tersiksa oleh efek samping epidural.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah 11 efek samping dari prosedur epidural yang kebanyakan ibu mungkin akan mengalaminya saat melakukan prosedur ini.
Sekitar 1 dari 100 wanita mengalami sakit kepala spinal beberapa hari setelah prosedur. Hal ini dapat terjadi jika jarum epidural menusuk kantong cairan yang mengelilingi sumsum tulang belakang, menyebabkan cairan bocor.
Gejala biasanya muncul saat berdiri dan hilang saat berbaring. Beritahu dokter jika mengalami sakit kepala saat berdiri yang hilang saat berbaring.
Masalah ini dapat diatasi dengan prosedur epidural blood patch, yaitu pengambilan darah dari lengan dan disuntikkan ke punggung, di mana darah tersebut menggumpal dan menutup lubang yang disebabkan oleh jarum.
Epidural meningkatkan risiko mengalami demam selama persalinan. Tidak ada yang tahu pasti mengapa hal ini terjadi, tetapi salah satu teori adalah bahwa bernapas dan berkeringat lebih sedikit, sehingga tubuh kesulitan melepaskan panas yang dihasilkan oleh persalinan.
Demam ini biasanya ringan dan tidak berbahaya, tetapi bisa membuat ibu merasa tidak nyaman. Ini tidak meningkatkan risiko atau bayi terkena infeksi, tetapi karena infeksi selama persalinan cukup umum, bisa jadi sulit untuk menentukan apakah demam disebabkan oleh epidural atau infeksi.
Obat bius epidural bisa membuat gatal di perut dan kaki karena merangsang reseptor kulit. Ini bisa diatasi dengan obat antihistamin jika mengganggu.
Area di mana jarum dimasukkan mungkin nyeri atau sensitif selama beberapa hari setelah persalinan, seperti memar kecil. Biasanya sembuh sendiri tanpa perawatan khusus.
Tekanan darah bisa turun selama infus, terutama saat dosis awal, yang membuat pusing atau mual. Tim medis akan berikan cairan infus untuk stabilkan.
Epidural bisa sebabkan mual, terutama jika tekanan darah turun signifikan. Mual lebih jarang dibanding obat narkotika lain, dan banyak wanita merasa mual saat persalinan meski tanpa obat. Jika parah, bisa diberi obat anti-mual.
Anestesi epidural bisa membuat tidak sadar kapan perlu buang air kecil. Jadi, akan dipasang kateter di uretra untuk menguras urine selama persalinan. Kateter ini aman dan dilepas setelah persalinan, meski mungkin tidak nyaman sebentar.
Dalam kasus sangat jarang, jika anestesi naik terlalu tinggi, bisa pengaruhi otot pernapasan. Tim obstetri dan anestesi bisa tangani dengan aman, risiko rendah dan dideteksi dini lewat pemantauan.
Sangat jarang, jika anestesi disuntikkan ke pembuluh darah alih-alih saraf, bisa membuat kebas, kesemutan, atau detak jantung cepat. Tes dosis sebelumnya untuk cegah ini, dan gejala hilang cepat jika dosis disesuaikan.
Dalam kasus sangat jarang, pendarahan dekat sumsum tulang belakang bisa tekan sumsum atau saraf, sebabkan nyeri dan mungkin kerusakan.
Ini terjadi jika area epidural terinfeksi bakteri, membuat abses yang tekan kolom tulang belakang. Sangat jarang, tapi bisa sebabkan kelumpuhan atau kematian jika tidak diobati cepat.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Penting untuk mengetahui efek samping dari proses epidural ini agar persalinan menjadi momen nyaman, bukan malah merasa tersiksa oleh efek samping epidural.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah 11 efek samping dari prosedur epidural yang kebanyakan ibu mungkin akan mengalaminya saat melakukan prosedur ini.
1. Sakit kepala spinal
Sekitar 1 dari 100 wanita mengalami sakit kepala spinal beberapa hari setelah prosedur. Hal ini dapat terjadi jika jarum epidural menusuk kantong cairan yang mengelilingi sumsum tulang belakang, menyebabkan cairan bocor.
Gejala biasanya muncul saat berdiri dan hilang saat berbaring. Beritahu dokter jika mengalami sakit kepala saat berdiri yang hilang saat berbaring.
Masalah ini dapat diatasi dengan prosedur epidural blood patch, yaitu pengambilan darah dari lengan dan disuntikkan ke punggung, di mana darah tersebut menggumpal dan menutup lubang yang disebabkan oleh jarum.
Baca Juga :
Mengenal Fase Crowning Saat Persalinan
2. Demam
Epidural meningkatkan risiko mengalami demam selama persalinan. Tidak ada yang tahu pasti mengapa hal ini terjadi, tetapi salah satu teori adalah bahwa bernapas dan berkeringat lebih sedikit, sehingga tubuh kesulitan melepaskan panas yang dihasilkan oleh persalinan.
Demam ini biasanya ringan dan tidak berbahaya, tetapi bisa membuat ibu merasa tidak nyaman. Ini tidak meningkatkan risiko atau bayi terkena infeksi, tetapi karena infeksi selama persalinan cukup umum, bisa jadi sulit untuk menentukan apakah demam disebabkan oleh epidural atau infeksi.
3. Gatal
Obat bius epidural bisa membuat gatal di perut dan kaki karena merangsang reseptor kulit. Ini bisa diatasi dengan obat antihistamin jika mengganggu.
4. Nyeri di tempat penyisipan
Area di mana jarum dimasukkan mungkin nyeri atau sensitif selama beberapa hari setelah persalinan, seperti memar kecil. Biasanya sembuh sendiri tanpa perawatan khusus.
5. Penurunan tekanan darah
Tekanan darah bisa turun selama infus, terutama saat dosis awal, yang membuat pusing atau mual. Tim medis akan berikan cairan infus untuk stabilkan.
6. Mual dan muntah
Epidural bisa sebabkan mual, terutama jika tekanan darah turun signifikan. Mual lebih jarang dibanding obat narkotika lain, dan banyak wanita merasa mual saat persalinan meski tanpa obat. Jika parah, bisa diberi obat anti-mual.
7. Tidak menyadari buang air kecil
Anestesi epidural bisa membuat tidak sadar kapan perlu buang air kecil. Jadi, akan dipasang kateter di uretra untuk menguras urine selama persalinan. Kateter ini aman dan dilepas setelah persalinan, meski mungkin tidak nyaman sebentar.
8. Anestesi naik terlalu tinggi (jarang)
Dalam kasus sangat jarang, jika anestesi naik terlalu tinggi, bisa pengaruhi otot pernapasan. Tim obstetri dan anestesi bisa tangani dengan aman, risiko rendah dan dideteksi dini lewat pemantauan.
9. Suntikan ke pembuluh darah (jarang)
Sangat jarang, jika anestesi disuntikkan ke pembuluh darah alih-alih saraf, bisa membuat kebas, kesemutan, atau detak jantung cepat. Tes dosis sebelumnya untuk cegah ini, dan gejala hilang cepat jika dosis disesuaikan.
10. Hematoma epidural (jarang)
Dalam kasus sangat jarang, pendarahan dekat sumsum tulang belakang bisa tekan sumsum atau saraf, sebabkan nyeri dan mungkin kerusakan.
11. Abses epidural (jarang)
Ini terjadi jika area epidural terinfeksi bakteri, membuat abses yang tekan kolom tulang belakang. Sangat jarang, tapi bisa sebabkan kelumpuhan atau kematian jika tidak diobati cepat.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)