FAMILY
Tak Perlu Tunggu Maaf Mantan, Ini 4 Cara Pulih Setelah Putus Cinta
Fatha Annisa
Selasa 13 Oktober 2026 / 18:44
- Putus cinta tanpa permintaan maaf dari mantan dapat membuat seseorang sulit move on.
- Diamnya mantan bukan berarti rasa sakit tidak berarti, karena seseorang tetap bisa menerima perpisahan dan melanjutkan hidup tanpa kata maaf.
- Psikolog membagikan empat cara untuk pulih, meski tanpa permintaan maaf dari mantan pacar.
Jakarta: Putus cinta karena konflik yang melukai hati bukanlah hal mudah untuk dihadapi. Terlebih, tidak ada permintaan maaf dari mantan pasangan.
Hal tersebut dapat membuat seseorang sulit melupakan hubungan yang telah berakhir. Hal ini karena keinginan untuk mendapat pengakuan atas rasa sakit yang dialami cenderung membuat seseorang terus menunggu.
Namun, proses pemulihan emosional sebenarnya tidak harus bergantung pada permintaan maaf dari mantan. Diamnya mantan justru bisa menjadi pengingat bahwa tidak semua pertanyaan akan terjawab dan tidak semua luka perlu menunggu pengakuan dari orang yang menyebabkannya untuk mulai pulih.
Psikolog klinis Pooja Kulkarni menjelaskan, permintaan maaf dapat menjadi penghubung yang hilang ketika sebuah hubungan berakhir. Pengakuan atas rasa sakit, penjelasan mengenai apa yang terjadi, hingga penghargaan terhadap pengalaman selama menjalin hubungan dapat membantu seseorang memahami perpisahan tersebut.
Selain itu, permintaan maaf dapat memberikan kenyamanan sementara ketika seseorang menghadapi kesedihan, rasa kesepian, dan kerinduan terhadap masa lalu.
"Permintaan maaf adalah hal yang sering terlewatkan ketika suatu hubungan berakhir. Mungkin penting untuk mengetahui bahwa akan ada pengakuan atas rasa sakit yang dirasakan, penjelasan mengenai apa yang terjadi, atau bahkan makna dari pengalaman tersebut,” ujar Pooja kepada Hindustan Times, dikutip Selasa, 13 oktober 2026.
Meski demikian, pengakuan dari mantan tidak menjamin seseorang dapat pulih secara emosional. Karena itu, menemukan closure tidak harus bergantung pada percakapan terakhir atau kesediaan mantan untuk meminta maaf.
Melansir dari sumber yang sama, berikut empat cara yang dapat Sobat Medcom lakukan untuk membantu proses pemulihan emosional setelah putus cinta tanpa harus menunggu permintaan maaf dari mantan:
Mulailah dengan mengakui hal-hal yang menyakitkan selama hubungan berlangsung dan memahami alasan di balik perasaan tersebut. Proses pemulihan bukan berarti harus memaafkan tindakan mantan atau menganggap kesalahannya dapat dibenarkan.
Sebaliknya, seseorang perlu memisahkan tanggung jawab mantan untuk mengakui kesalahannya dari kemampuan diri sendiri untuk pulih. Tidak adanya permintaan maaf juga tidak menghapus kejadian yang telah dialami ataupun membuat rasa sakit menjadi tidak valid.
Isi suratnya bisa berupa pertanyaan yang belum terjawab, hal yang menyakitkan, hingga kekecewaan yang selama ini dipendam. Tujuannya bukan untuk mendapatkan respons dari mantan, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk mengenali dan memproses perasaan.
Untuk mendapatkan perspektif yang lebih seimbang, cobalah melihat kembali hubungan secara menyeluruh. Kenali hal-hal yang berjalan baik, masalah yang muncul, serta situasi ketika batasan pribadi tidak dihormati.
Dengan memahami pengalaman tersebut, seseorang dapat mengenali pola hubungan yang tidak ingin diulangi pada masa mendatang. Langkah ini membantu seseorang menerima bahwa sebuah hubungan dapat memiliki kenangan indah sekaligus pengalaman yang menyakitkan.
Untuk membantu mengembalikan kestabilan, cobalah membangun kembali rutinitas tidur, makan, berolahraga, bekerja, dan bersosialisasi. Meluangkan waktu bersama teman atau keluarga juga dapat membantu mengurangi perasaan terisolasi setelah perpisahan.
Rutinitas perlu mendapat perhatian khusus apabila kondisi emosional mulai mengganggu tidur, nafsu makan, konsentrasi, atau produktivitas. Jika kesulitan tersebut terus berlangsung, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang diperlukan.
Pada dasarnya, closure bukan hanya tentang mengakhiri komunikasi dengan mantan dengan sepenggal kata maaf, melainkan memahami emosi, menerima perubahan, dan menetapkan batasan yang lebih sehat.
Permintaan maaf memang dapat menjadi bentuk pengakuan atas rasa sakit yang dialami, tetapi pemulihan emosional tetap dapat berlangsung meski kata maaf itu tidak pernah datang.
(PRI)
Hal tersebut dapat membuat seseorang sulit melupakan hubungan yang telah berakhir. Hal ini karena keinginan untuk mendapat pengakuan atas rasa sakit yang dialami cenderung membuat seseorang terus menunggu.
Namun, proses pemulihan emosional sebenarnya tidak harus bergantung pada permintaan maaf dari mantan. Diamnya mantan justru bisa menjadi pengingat bahwa tidak semua pertanyaan akan terjawab dan tidak semua luka perlu menunggu pengakuan dari orang yang menyebabkannya untuk mulai pulih.
Lantas, mengapa sebagian orang masih terus menunggu permintaan maaf dari mantan?
Permintaan maaf usai hubungan berakhir bermakna dari sekadar ucapan. Bagi seseorang yang tersakiti, permintaan maaf bisa menjadi bentuk pengakuan bahwa rasa sakit yang dialami benar-benar terjadi dan hubungan tersebut juga berarti bagi pasangannya.Psikolog klinis Pooja Kulkarni menjelaskan, permintaan maaf dapat menjadi penghubung yang hilang ketika sebuah hubungan berakhir. Pengakuan atas rasa sakit, penjelasan mengenai apa yang terjadi, hingga penghargaan terhadap pengalaman selama menjalin hubungan dapat membantu seseorang memahami perpisahan tersebut.
Selain itu, permintaan maaf dapat memberikan kenyamanan sementara ketika seseorang menghadapi kesedihan, rasa kesepian, dan kerinduan terhadap masa lalu.
"Permintaan maaf adalah hal yang sering terlewatkan ketika suatu hubungan berakhir. Mungkin penting untuk mengetahui bahwa akan ada pengakuan atas rasa sakit yang dirasakan, penjelasan mengenai apa yang terjadi, atau bahkan makna dari pengalaman tersebut,” ujar Pooja kepada Hindustan Times, dikutip Selasa, 13 oktober 2026.
Meski demikian, pengakuan dari mantan tidak menjamin seseorang dapat pulih secara emosional. Karena itu, menemukan closure tidak harus bergantung pada percakapan terakhir atau kesediaan mantan untuk meminta maaf.
4 Cara Temukan Closure Tanpa Permintaan Maaf Mantan
Melansir dari sumber yang sama, berikut empat cara yang dapat Sobat Medcom lakukan untuk membantu proses pemulihan emosional setelah putus cinta tanpa harus menunggu permintaan maaf dari mantan:1. Berhenti Menggantungkan Pemulihan pada Permintaan Maaf
Langkah pertama adalah menyadari bahwa keputusan mantan untuk meminta maaf berada di luar kendali. Terus menunggu permintaan maaf hanya dapat membuat seseorang terpaku pada percakapan yang mungkin tidak akan pernah terjadi.Mulailah dengan mengakui hal-hal yang menyakitkan selama hubungan berlangsung dan memahami alasan di balik perasaan tersebut. Proses pemulihan bukan berarti harus memaafkan tindakan mantan atau menganggap kesalahannya dapat dibenarkan.
Sebaliknya, seseorang perlu memisahkan tanggung jawab mantan untuk mengakui kesalahannya dari kemampuan diri sendiri untuk pulih. Tidak adanya permintaan maaf juga tidak menghapus kejadian yang telah dialami ataupun membuat rasa sakit menjadi tidak valid.
2. Tuangkan Pikiran yang Belum Tersampaikan ke dalam Tulisan
Setelah putus cinta, seseorang kerap menyimpan banyak pertanyaan, kekecewaan, kemarahan, atau hal-hal yang belum sempat disampaikan kepada mantan. Sobat Medcom bisa menuangkan semua ini melalui surat yang tidak perlu dikirimkan.Isi suratnya bisa berupa pertanyaan yang belum terjawab, hal yang menyakitkan, hingga kekecewaan yang selama ini dipendam. Tujuannya bukan untuk mendapatkan respons dari mantan, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk mengenali dan memproses perasaan.
3. Lihat Hubungan secara Menyeluruh
Setelah putus cinta, ingatan seseorang terkadang menjadi selektif. Ada yang terus mengingat pertengkaran terakhir, namun tidak sedikit yang hanya mengenang momen-momen indah bersama mantan.Untuk mendapatkan perspektif yang lebih seimbang, cobalah melihat kembali hubungan secara menyeluruh. Kenali hal-hal yang berjalan baik, masalah yang muncul, serta situasi ketika batasan pribadi tidak dihormati.
Dengan memahami pengalaman tersebut, seseorang dapat mengenali pola hubungan yang tidak ingin diulangi pada masa mendatang. Langkah ini membantu seseorang menerima bahwa sebuah hubungan dapat memiliki kenangan indah sekaligus pengalaman yang menyakitkan.
4. Bangun Kembali Rutinitas Sehari-hari
Hubungan romantis sering menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, apalagi jika hubungan tersebut telah berjalan bertahun-tahun. Mulai dari komunikasi rutin, rencana bersama, hingga kebiasaan kecil yang dilakukan berdua. Ketika hubungan berakhir, perubahan itu cenderung membuat seseorang merasa kehilangan arah dan kesepian.Untuk membantu mengembalikan kestabilan, cobalah membangun kembali rutinitas tidur, makan, berolahraga, bekerja, dan bersosialisasi. Meluangkan waktu bersama teman atau keluarga juga dapat membantu mengurangi perasaan terisolasi setelah perpisahan.
Rutinitas perlu mendapat perhatian khusus apabila kondisi emosional mulai mengganggu tidur, nafsu makan, konsentrasi, atau produktivitas. Jika kesulitan tersebut terus berlangsung, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang diperlukan.
Pada dasarnya, closure bukan hanya tentang mengakhiri komunikasi dengan mantan dengan sepenggal kata maaf, melainkan memahami emosi, menerima perubahan, dan menetapkan batasan yang lebih sehat.
Permintaan maaf memang dapat menjadi bentuk pengakuan atas rasa sakit yang dialami, tetapi pemulihan emosional tetap dapat berlangsung meski kata maaf itu tidak pernah datang.
(PRI)