COMMUNITY
Ketika Ruang Hijau Menjadi Tempat Bertemu dan Berinteraksi
Elang Riki Yanuar
Minggu 30 Agustus 2026 / 16:00
- Ruang hijau di kawasan hunian tak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi ruang bertemu dan berinteraksi antarwarga.
- Area hijau seluas 10,2 hektare di Amerta mencakup Central Lake dan Central Park yang dirancang untuk mendukung aktivitas luar ruang dan komunitas.
- Konsep ruang terbuka dan jalur pedestrian di kawasan hunian mendorong warga lebih sering berjalan kaki, beraktivitas, serta membangun hubungan dengan tetangga.
Jakarta: Konsep ruang hijau kini semakin mendapat perhatian dalam pengembangan kawasan hunian. Bukan hanya sebagai elemen estetika, ruang terbuka dapat menjadi bagian dari keseharian warga, termasuk sebagai tempat bertemu, beraktivitas, dan membangun interaksi komunitas.
Pendekatan tersebut turut diterapkan Maestria Residences melalui Amerta, cluster perdana dalam kawasan hunian seluas 55 hektare. Kawasan ini dikembangkan dengan perencanaan yang memperhatikan hubungan antara hunian, ruang terbuka, fasilitas, dan aktivitas masyarakat di dalamnya.
Salah satu bagian yang cukup menonjol adalah alokasi sekitar 10,2 hektare area hijau. Ruang tersebut mencakup Central Lake dan Central Park yang ditempatkan sebagai bagian dari lingkungan kawasan, bukan sekadar pelengkap di antara bangunan.
Kehadiran ruang hijau tersebut memungkinkan aktivitas di luar rumah berlangsung lebih leluasa. Area terbuka juga dapat menjadi titik pertemuan informal bagi penghuni, mulai dari berjalan kaki, berolahraga, hingga sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga atau tetangga.
Konsep ini sejalan dengan filosofi Maestria, yaitu Designing the neighbourhood, not just designing the house. Artinya, perhatian dalam pengembangan kawasan tidak hanya diarahkan pada desain rumah, tetapi juga bagaimana lingkungan di sekitarnya dapat membentuk pengalaman tinggal.
Yori Antar sebagai Design Principal Maestria Residences mengatakan ruang terbuka dan area komunal memiliki peran dalam membangun hubungan antarpenghuni.
“Ketika merancang sebuah kawasan, yang kami pikirkan bukan hanya rumahnya, tetapi bagaimana lingkungan dapat membentuk kualitas hidup penghuninya. Karena itu, ruang terbuka, jalur pedestrian, dan area komunal dirancang untuk mempertemukan penghuni dan menciptakan ruang untuk bersosialisasi, bahkan di tengah kesibukan sehari-hari. Di Maestria, kami ingin membangun sebuah lingkungan yang tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga mendorong interaksi dan rasa kebersamaan sebagai bagian dari keseharian,” ujar Yori Antar, Design Principal Maestria Residences.
Ruang hijau tersebut kemudian dipadukan dengan jaringan pedestrian dan sejumlah fasilitas kawasan. Dengan konektivitas tersebut, penghuni memiliki pilihan untuk melakukan aktivitas di lingkungan sekitar tanpa selalu bergantung pada kendaraan.
Bagi Hellen Triutomo, Direktur FARPOINT Realty Indonesia, hubungan antara rumah, ruang terbuka, fasilitas, dan komunitas menjadi bagian penting dalam membangun sebuah kawasan hunian.
“Amerta menjadi bagian penting dalam menerjemahkan visi Maestria ke dalam sebuah kawasan hunian yang dirancang secara menyeluruh. Sejak awal, kami ingin memastikan bahwa rumah, ruang hijau, fasilitas, dan komunitas tidak berdiri sendiri, tetapi saling terhubung untuk menciptakan tempat tinggal yang nyaman, dinamis, dan relevan dengan kebutuhan penghuninya. Bagi kami, kualitas sebuah hunian pada akhirnya juga ditentukan oleh kualitas lingkungan yang mengelilinginya,” ujar Hellen Triutomo.
Selain ruang terbuka, pendekatan terhadap lingkungan juga terlihat dari rancangan arsitektur Amerta. Cluster ini mengusung konsep tropis kontemporer yang mempertimbangkan kondisi iklim Indonesia, termasuk sirkulasi udara, pencahayaan alami, panas, serta curah hujan.
Pendekatan tersebut diterapkan melalui konsep Rumah Dua Musim yang berusaha memperhatikan hubungan antara ruang dalam dan ruang luar. Dengan demikian, desain rumah tidak hanya mempertimbangkan tampilan bangunan, tetapi juga kenyamanan penghuni dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Kehadiran Central Lake dan Central Park juga menjadi salah satu elemen yang memberikan ruang bagi interaksi sosial. Dalam sebuah kawasan hunian, ruang semacam ini dapat menjadi tempat bagi penghuni untuk bertemu secara alami tanpa harus selalu merencanakan kegiatan formal.
Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika kehidupan di kawasan hunian tidak hanya dilihat dari hubungan antara seseorang dengan rumahnya. Lingkungan yang menyediakan ruang bersama dapat membuka peluang bagi terbentuknya hubungan antarwarga dan kegiatan komunitas yang tumbuh dari keseharian.
(ELG)
Pendekatan tersebut turut diterapkan Maestria Residences melalui Amerta, cluster perdana dalam kawasan hunian seluas 55 hektare. Kawasan ini dikembangkan dengan perencanaan yang memperhatikan hubungan antara hunian, ruang terbuka, fasilitas, dan aktivitas masyarakat di dalamnya.
Salah satu bagian yang cukup menonjol adalah alokasi sekitar 10,2 hektare area hijau. Ruang tersebut mencakup Central Lake dan Central Park yang ditempatkan sebagai bagian dari lingkungan kawasan, bukan sekadar pelengkap di antara bangunan.
Kehadiran ruang hijau tersebut memungkinkan aktivitas di luar rumah berlangsung lebih leluasa. Area terbuka juga dapat menjadi titik pertemuan informal bagi penghuni, mulai dari berjalan kaki, berolahraga, hingga sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga atau tetangga.
Konsep ini sejalan dengan filosofi Maestria, yaitu Designing the neighbourhood, not just designing the house. Artinya, perhatian dalam pengembangan kawasan tidak hanya diarahkan pada desain rumah, tetapi juga bagaimana lingkungan di sekitarnya dapat membentuk pengalaman tinggal.
Yori Antar sebagai Design Principal Maestria Residences mengatakan ruang terbuka dan area komunal memiliki peran dalam membangun hubungan antarpenghuni.
“Ketika merancang sebuah kawasan, yang kami pikirkan bukan hanya rumahnya, tetapi bagaimana lingkungan dapat membentuk kualitas hidup penghuninya. Karena itu, ruang terbuka, jalur pedestrian, dan area komunal dirancang untuk mempertemukan penghuni dan menciptakan ruang untuk bersosialisasi, bahkan di tengah kesibukan sehari-hari. Di Maestria, kami ingin membangun sebuah lingkungan yang tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga mendorong interaksi dan rasa kebersamaan sebagai bagian dari keseharian,” ujar Yori Antar, Design Principal Maestria Residences.
Ruang hijau tersebut kemudian dipadukan dengan jaringan pedestrian dan sejumlah fasilitas kawasan. Dengan konektivitas tersebut, penghuni memiliki pilihan untuk melakukan aktivitas di lingkungan sekitar tanpa selalu bergantung pada kendaraan.
Bagi Hellen Triutomo, Direktur FARPOINT Realty Indonesia, hubungan antara rumah, ruang terbuka, fasilitas, dan komunitas menjadi bagian penting dalam membangun sebuah kawasan hunian.
“Amerta menjadi bagian penting dalam menerjemahkan visi Maestria ke dalam sebuah kawasan hunian yang dirancang secara menyeluruh. Sejak awal, kami ingin memastikan bahwa rumah, ruang hijau, fasilitas, dan komunitas tidak berdiri sendiri, tetapi saling terhubung untuk menciptakan tempat tinggal yang nyaman, dinamis, dan relevan dengan kebutuhan penghuninya. Bagi kami, kualitas sebuah hunian pada akhirnya juga ditentukan oleh kualitas lingkungan yang mengelilinginya,” ujar Hellen Triutomo.
Selain ruang terbuka, pendekatan terhadap lingkungan juga terlihat dari rancangan arsitektur Amerta. Cluster ini mengusung konsep tropis kontemporer yang mempertimbangkan kondisi iklim Indonesia, termasuk sirkulasi udara, pencahayaan alami, panas, serta curah hujan.
Pendekatan tersebut diterapkan melalui konsep Rumah Dua Musim yang berusaha memperhatikan hubungan antara ruang dalam dan ruang luar. Dengan demikian, desain rumah tidak hanya mempertimbangkan tampilan bangunan, tetapi juga kenyamanan penghuni dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Kehadiran Central Lake dan Central Park juga menjadi salah satu elemen yang memberikan ruang bagi interaksi sosial. Dalam sebuah kawasan hunian, ruang semacam ini dapat menjadi tempat bagi penghuni untuk bertemu secara alami tanpa harus selalu merencanakan kegiatan formal.
Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika kehidupan di kawasan hunian tidak hanya dilihat dari hubungan antara seseorang dengan rumahnya. Lingkungan yang menyediakan ruang bersama dapat membuka peluang bagi terbentuknya hubungan antarwarga dan kegiatan komunitas yang tumbuh dari keseharian.
(ELG)