COMMUNITY
Padel for Hope: Saat Olahraga Jadi Cara Baru Buat Peduli Sesama
A. Firdaus
Sabtu 23 Mei 2026 / 14:09
- Mengusung semangat Play for a Cause, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penggalangan dukungan untuk membangun Rumah Singgah.
- Padel for Hope bukan sekadar turnamen olahraga, tetapi bentuk gerakan kolektif untuk menghadirkan harapan bagi keluarga pasien anak di Indonesia.
- Yayasan RMHC ingin memastikan keluarga pasien tetap memiliki ruang aman dan nyaman selama mendampingi anak berobat.
Jakarta: Olahraga kini bukan hanya soal kompetisi atau gaya hidup sehat. Lewat turnamen Padel for Hope Vol. 2, Yayasan Ronald McDonald House Charities (RMHC) Indonesia mengajak masyarakat menjadikan olahraga sebagai gerakan kepedulian sosial untuk keluarga pasien anak pejuang penyakit kronis.
Turnamen yang digelar pada 8–10 Mei 2026 di KALMA Social Club, Jakarta, ini berhasil mengumpulkan lebih dari 260 peserta dari berbagai komunitas dan kalangan masyarakat.
Mengusung semangat Play for a Cause, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penggalangan dukungan untuk membangun Rumah Singgah kelima berkapasitas 33 kamar di RS Kemenkes Surabaya, sekaligus menghadirkan Ruang Tunggu Keluarga di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, Lampung.
Di balik atmosfer pertandingan yang kompetitif, tersimpan misi sosial yang besar. Selama ini, banyak keluarga pasien anak dari luar kota harus rela tidur di selasar rumah sakit, masjid, bahkan pom bensin demi mendampingi anak mereka menjalani pengobatan.
Ketua Yayasan RMHC, Caroline Djajadiningrat, mengatakan bahwa Padel for Hope bukan sekadar turnamen olahraga, tetapi bentuk gerakan kolektif untuk menghadirkan harapan bagi keluarga pasien anak di Indonesia.
“Kontribusi yang diberikan memiliki peran besar dalam menghadirkan lebih banyak fasilitas Rumah Singgah dan Ruang Tunggu Keluarga Yayasan RMHC bagi ribuan keluarga pasien anak di berbagai daerah,” ujar Caroline.
Data internal RS Kemenkes Surabaya menunjukkan sekitar 70 persen pasien anak berasal dari luar daerah seperti Banyuwangi, Jember, Madiun, hingga Madura. Sebagian keluarga bahkan harus menempuh perjalanan hingga 10 jam demi mendapatkan pengobatan terbaik bagi anak mereka.
Tak sedikit dari pasien tersebut menjalani pengobatan penyakit kronis seperti kanker, gangguan jantung, hingga penyakit ginjal yang membutuhkan pendampingan jangka panjang.
Selama proses pengobatan, keluarga pasien rata-rata membutuhkan biaya akomodasi dan kebutuhan hidup hingga Rp8,5 juta per bulan. Beban ini membuat banyak keluarga kesulitan mendapatkan tempat tinggal layak selama mendampingi anak di rumah sakit.

Kondisi itu pernah dialami Elfridus, salah satu orang tua pasien anak di Rumah Singgah Denpasar. Saat anaknya menjalani pengobatan leukemia jauh dari kampung halaman, ia harus menghadapi tekanan mental dan keterbatasan biaya sekaligus.
“Yang paling berat bukan hanya soal biaya, tetapi juga rasa lelah dan kebingungan saat harus menjalani semuanya di kota yang jauh dari rumah,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan Rumah Singgah sangat membantu keluarga pasien karena menyediakan tempat tinggal nyaman dan gratis yang dekat dengan rumah sakit.
Melalui program Rumah Singgah dan Ruang Tunggu Keluarga, Yayasan RMHC ingin memastikan keluarga pasien tetap memiliki ruang aman dan nyaman selama mendampingi anak berobat.
Rumah Singgah menyediakan kamar pribadi gratis untuk keluarga pasien luar kota, sementara Ruang Tunggu Keluarga menjadi area istirahat di lingkungan rumah sakit agar keluarga tidak kelelahan selama proses perawatan.
Saat ini, Yayasan RMHC telah mengoperasikan empat Rumah Singgah di Jakarta dan Denpasar. Secara keseluruhan, fasilitas tersebut telah melayani lebih dari 23 ribu keluarga dengan total lebih dari 66 ribu malam menginap.
“Rumah Singgah bukan sekadar tempat tinggal sementara, tetapi ruang pemulihan yang menghadirkan rasa nyaman dan suasana hangat seperti di rumah,” kata Caroline.
Semangat gotong royong juga terasa kuat dalam Padel for Hope Vol. 2. Dukungan datang dari komunitas olahraga, figur publik, hingga berbagai mitra, termasuk McDonald’s Indonesia yang kembali menjadi sponsor utama dalam kegiatan tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Turnamen yang digelar pada 8–10 Mei 2026 di KALMA Social Club, Jakarta, ini berhasil mengumpulkan lebih dari 260 peserta dari berbagai komunitas dan kalangan masyarakat.
Mengusung semangat Play for a Cause, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penggalangan dukungan untuk membangun Rumah Singgah kelima berkapasitas 33 kamar di RS Kemenkes Surabaya, sekaligus menghadirkan Ruang Tunggu Keluarga di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, Lampung.
Di balik atmosfer pertandingan yang kompetitif, tersimpan misi sosial yang besar. Selama ini, banyak keluarga pasien anak dari luar kota harus rela tidur di selasar rumah sakit, masjid, bahkan pom bensin demi mendampingi anak mereka menjalani pengobatan.
Ketua Yayasan RMHC, Caroline Djajadiningrat, mengatakan bahwa Padel for Hope bukan sekadar turnamen olahraga, tetapi bentuk gerakan kolektif untuk menghadirkan harapan bagi keluarga pasien anak di Indonesia.
“Kontribusi yang diberikan memiliki peran besar dalam menghadirkan lebih banyak fasilitas Rumah Singgah dan Ruang Tunggu Keluarga Yayasan RMHC bagi ribuan keluarga pasien anak di berbagai daerah,” ujar Caroline.
Banyak Keluarga Pasien Datang dari Luar Kota
Data internal RS Kemenkes Surabaya menunjukkan sekitar 70 persen pasien anak berasal dari luar daerah seperti Banyuwangi, Jember, Madiun, hingga Madura. Sebagian keluarga bahkan harus menempuh perjalanan hingga 10 jam demi mendapatkan pengobatan terbaik bagi anak mereka.
Tak sedikit dari pasien tersebut menjalani pengobatan penyakit kronis seperti kanker, gangguan jantung, hingga penyakit ginjal yang membutuhkan pendampingan jangka panjang.
Selama proses pengobatan, keluarga pasien rata-rata membutuhkan biaya akomodasi dan kebutuhan hidup hingga Rp8,5 juta per bulan. Beban ini membuat banyak keluarga kesulitan mendapatkan tempat tinggal layak selama mendampingi anak di rumah sakit.

Kondisi itu pernah dialami Elfridus, salah satu orang tua pasien anak di Rumah Singgah Denpasar. Saat anaknya menjalani pengobatan leukemia jauh dari kampung halaman, ia harus menghadapi tekanan mental dan keterbatasan biaya sekaligus.
“Yang paling berat bukan hanya soal biaya, tetapi juga rasa lelah dan kebingungan saat harus menjalani semuanya di kota yang jauh dari rumah,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan Rumah Singgah sangat membantu keluarga pasien karena menyediakan tempat tinggal nyaman dan gratis yang dekat dengan rumah sakit.
Rumah Singgah Jadi Tempat Pulang Sementara
Melalui program Rumah Singgah dan Ruang Tunggu Keluarga, Yayasan RMHC ingin memastikan keluarga pasien tetap memiliki ruang aman dan nyaman selama mendampingi anak berobat.
Rumah Singgah menyediakan kamar pribadi gratis untuk keluarga pasien luar kota, sementara Ruang Tunggu Keluarga menjadi area istirahat di lingkungan rumah sakit agar keluarga tidak kelelahan selama proses perawatan.
Saat ini, Yayasan RMHC telah mengoperasikan empat Rumah Singgah di Jakarta dan Denpasar. Secara keseluruhan, fasilitas tersebut telah melayani lebih dari 23 ribu keluarga dengan total lebih dari 66 ribu malam menginap.
“Rumah Singgah bukan sekadar tempat tinggal sementara, tetapi ruang pemulihan yang menghadirkan rasa nyaman dan suasana hangat seperti di rumah,” kata Caroline.
Semangat gotong royong juga terasa kuat dalam Padel for Hope Vol. 2. Dukungan datang dari komunitas olahraga, figur publik, hingga berbagai mitra, termasuk McDonald’s Indonesia yang kembali menjadi sponsor utama dalam kegiatan tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)