COMMUNITY
Gen Z Diajak Jadi Game Changer untuk Atasi Sampah
A. Firdaus
Jumat 27 Februari 2026 / 14:15
- Indonesia menghasilkan lebih dari 37 juta ton sampah setiap tahun.
- Tingkat daur ulang nasional baru menyentuh angka 14%.
- Sekitar 58% rumah tangga belum konsisten memilah sampah.
Jakarta: Isu sampah kemasan di Indonesia masih jadi PR besar. Tapi kali ini, ribuan mahasiswa nggak cuma jadi penonton, mereka turun langsung cari solusi.
Nestlé Indonesia mengajak mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu di seluruh Indonesia untuk ikut dalam ajang #GreenGeneration Sustainability Business Case Competition. Kompetisi ini dirancang sebagai ruang bagi generasi muda untuk merancang solusi bisnis yang bisa mendorong pengelolaan kemasan lebih sirkular dan bertanggung jawab.
Babak final digelar secara luring pada 16 Februari 2026, di hadapan dewan juri yang berasal dari berbagai sektor, mulai dari industri hingga pengelola sampah.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Indonesia menghasilkan lebih dari 37 juta ton sampah setiap tahun. Sekitar 19% di antaranya merupakan sampah kemasan plastik.
Masalahnya, tingkat daur ulang nasional baru menyentuh angka 14%. Bahkan, sekitar 40% sampah masih belum terkelola optimal. Di level rumah tangga, tantangannya juga terasa, sekitar 58% rumah tangga belum konsisten memilah sampah. Artinya, problemnya bukan cuma soal desain kemasan, tapi juga soal sistem dan kebiasaan.
Melalui #GreenGeneration, Nestlé Indonesia ingin menjawab tantangan itu dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Kompetisi ini jadi bagian dari komitmen global perusahaan dalam melindungi dan memperbaharui sumber daya alam untuk generasi mendatang.
Technical Director Nestlé Indonesia, Antonio Prochilo, menyampaikan bahwa ide-ide mahasiswa yang berbasis riset dan data lapangan justru memberi perspektif baru bagi perusahaan.
Lebih dari 3.600 mahasiswa yang tergabung dalam 1.355 tim ikut serta dalam seleksi. Setelah melalui proses kurasi berbasis kualitas ide, relevansi terhadap tantangan nasional, dan potensi implementasi, terpilih 20 tim finalis. Dari sana, lima tim terbaik mempresentasikan solusi mereka di babak akhir.
Salah satu juri, M. Bijaksana Junerosano dari Waste4Change, menilai keterlibatan generasi muda penting karena persoalan lingkungan bersifat sistemik dan butuh pendekatan lintas sektor.
Menurutnya, solusi berbasis data dan realitas lapangan punya potensi besar untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional.
Hal serupa disampaikan tim Greenfluence, juara pertama kompetisi ini. Lewat proyek bertajuk “PackBack”, mereka menyoroti bahwa persoalan sampah bukan cuma soal kesadaran, tetapi sistem yang masih terfragmentasi. Solusi mereka menitikberatkan pada integrasi teknologi ke dalam ekosistem yang relevan dengan perilaku masyarakat Indonesia.
Lima tim terbaik mendapatkan penghargaan sekaligus dukungan pengembangan sebagai bentuk apresiasi atas solusi yang telah dirancang.
Bagi Nestlé Indonesia, #GreenGeneration bukan hanya ajang lomba, tapi bagian dari perjalanan menuju sistem pangan dan kemasan yang lebih berkelanjutan. Perusahaan terus mendorong pengurangan penggunaan plastik, menerapkan prinsip design for recycling, serta meningkatkan pengelolaan kembali sampah kemasan.
Pesannya jelas: perubahan sistem nggak bisa jalan sendiri. Perlu kolaborasi industri, pemerintah, komunitas, dan tentu saja, anak muda yang siap jadi agen perubahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Nestlé Indonesia mengajak mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu di seluruh Indonesia untuk ikut dalam ajang #GreenGeneration Sustainability Business Case Competition. Kompetisi ini dirancang sebagai ruang bagi generasi muda untuk merancang solusi bisnis yang bisa mendorong pengelolaan kemasan lebih sirkular dan bertanggung jawab.
Babak final digelar secara luring pada 16 Februari 2026, di hadapan dewan juri yang berasal dari berbagai sektor, mulai dari industri hingga pengelola sampah.
Realita sampah: Datanya nggak main-Main
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Indonesia menghasilkan lebih dari 37 juta ton sampah setiap tahun. Sekitar 19% di antaranya merupakan sampah kemasan plastik.
Masalahnya, tingkat daur ulang nasional baru menyentuh angka 14%. Bahkan, sekitar 40% sampah masih belum terkelola optimal. Di level rumah tangga, tantangannya juga terasa, sekitar 58% rumah tangga belum konsisten memilah sampah. Artinya, problemnya bukan cuma soal desain kemasan, tapi juga soal sistem dan kebiasaan.
Bukan sekadar kompetisi, tapi ruang kolaborasi
Melalui #GreenGeneration, Nestlé Indonesia ingin menjawab tantangan itu dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Kompetisi ini jadi bagian dari komitmen global perusahaan dalam melindungi dan memperbaharui sumber daya alam untuk generasi mendatang.
Technical Director Nestlé Indonesia, Antonio Prochilo, menyampaikan bahwa ide-ide mahasiswa yang berbasis riset dan data lapangan justru memberi perspektif baru bagi perusahaan.
Lebih dari 3.600 mahasiswa yang tergabung dalam 1.355 tim ikut serta dalam seleksi. Setelah melalui proses kurasi berbasis kualitas ide, relevansi terhadap tantangan nasional, dan potensi implementasi, terpilih 20 tim finalis. Dari sana, lima tim terbaik mempresentasikan solusi mereka di babak akhir.
Ide harus kontekstual dan bisa dieksekusi
Salah satu juri, M. Bijaksana Junerosano dari Waste4Change, menilai keterlibatan generasi muda penting karena persoalan lingkungan bersifat sistemik dan butuh pendekatan lintas sektor.
Menurutnya, solusi berbasis data dan realitas lapangan punya potensi besar untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional.
Hal serupa disampaikan tim Greenfluence, juara pertama kompetisi ini. Lewat proyek bertajuk “PackBack”, mereka menyoroti bahwa persoalan sampah bukan cuma soal kesadaran, tetapi sistem yang masih terfragmentasi. Solusi mereka menitikberatkan pada integrasi teknologi ke dalam ekosistem yang relevan dengan perilaku masyarakat Indonesia.
Dari ide jadi aksi nyata
Lima tim terbaik mendapatkan penghargaan sekaligus dukungan pengembangan sebagai bentuk apresiasi atas solusi yang telah dirancang.
Bagi Nestlé Indonesia, #GreenGeneration bukan hanya ajang lomba, tapi bagian dari perjalanan menuju sistem pangan dan kemasan yang lebih berkelanjutan. Perusahaan terus mendorong pengurangan penggunaan plastik, menerapkan prinsip design for recycling, serta meningkatkan pengelolaan kembali sampah kemasan.
Pesannya jelas: perubahan sistem nggak bisa jalan sendiri. Perlu kolaborasi industri, pemerintah, komunitas, dan tentu saja, anak muda yang siap jadi agen perubahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)