FITNESS & HEALTH
Dari Sapu ke Harapan, Gerakan Bersih yang Nular ke Semua
A. Firdaus
Jumat 13 Februari 2026 / 11:25
- Aksi bersih-bersih ini pun tidak dimaksudkan sebagai kegiatan seremonial belaka.
- Persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata.
- Sampah yang berserakan berpotensi menyumbat drainase.
Tangerang Selatan: Pagi itu, udara di Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, terasa berbeda. Bukan hanya karena sapu dan kantong sampah yang bergerak serempak, tetapi juga karena ada pesan kesehatan yang sedang disuarakan dengan cara sederhana: membersihkan lingkungan bersama.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, memimpin langsung aksi bersih-bersih di wilayah tersebut. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), sekaligus penegasan bahwa kesehatan lingkungan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.
Di antara sapu lidi dan pengki, Pilar bersama unsur pemerintah daerah, aparat kelurahan, dan warga menyisir titik-titik yang kerap dipenuhi sampah. Pinggir jalan dan saluran air menjadi perhatian utama, tempat di mana plastik, bungkus makanan, hingga puntung rokok sering kali menumpuk tanpa disadari dampaknya.
Bagi Pilar, pemandangan itu bukan sekadar persoalan estetika kota, melainkan juga soal kesehatan publik. Sampah yang berserakan berpotensi menyumbat drainase, memicu genangan, hingga menjadi sarang penyakit. Ia mengaku prihatin melihat masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kebersihan.
“Kita lihat tuh, banyak sekali puntung rokok. Orang lewat naik angkot lempar, bawa motor lempar sampah ke pinggir jalan. Ini kebiasaan buruk yang harus dihilangkan,” ujarnya di sela kegiatan, Jumat (13/02/2026).
Menurutnya, persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Tanpa keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, menjaga kebersihan kota akan selalu menjadi pekerjaan yang tak pernah selesai. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, terutama pada malam hingga dini hari, perlu dihentikan agar lingkungan tetap sehat dan nyaman.
“Jadi kita gerakkan aksi bersih-bersih ini supaya mengajak masyarakat sama-sama menjaga kebersihan kota ini. Jangan buang sampah di pinggiran jalan, tiap malam, tiap subuh. Mau sampai kapan?” tegasnya.
Aksi bersih-bersih ini pun tidak dimaksudkan sebagai kegiatan seremonial belaka. Lebih dari itu, ia menjadi simbol upaya membangun budaya hidup bersih di tengah masyarakat. Sebab, kota yang sehat bukan hanya dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan kesadaran kolektif warganya.
Gerakan ASRI diharapkan menjadi momentum bersama bahwa kebersihan lingkungan adalah investasi jangka panjang bagi kualitas hidup. Pemerintah Kota Tangerang Selatan berkomitmen untuk terus menggencarkan edukasi dan aksi nyata, agar lingkungan yang aman, sehat, resik, dan indah bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran setiap individu.
Di Jombang pagi itu, sapu yang digerakkan bukan hanya membersihkan jalan. Ia juga menyapu harapan, bahwa kota yang sehat lahir dari tangan-tangan yang peduli.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, memimpin langsung aksi bersih-bersih di wilayah tersebut. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), sekaligus penegasan bahwa kesehatan lingkungan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.
Di antara sapu lidi dan pengki, Pilar bersama unsur pemerintah daerah, aparat kelurahan, dan warga menyisir titik-titik yang kerap dipenuhi sampah. Pinggir jalan dan saluran air menjadi perhatian utama, tempat di mana plastik, bungkus makanan, hingga puntung rokok sering kali menumpuk tanpa disadari dampaknya.
Bagi Pilar, pemandangan itu bukan sekadar persoalan estetika kota, melainkan juga soal kesehatan publik. Sampah yang berserakan berpotensi menyumbat drainase, memicu genangan, hingga menjadi sarang penyakit. Ia mengaku prihatin melihat masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kebersihan.
“Kita lihat tuh, banyak sekali puntung rokok. Orang lewat naik angkot lempar, bawa motor lempar sampah ke pinggir jalan. Ini kebiasaan buruk yang harus dihilangkan,” ujarnya di sela kegiatan, Jumat (13/02/2026).
Menurutnya, persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Tanpa keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, menjaga kebersihan kota akan selalu menjadi pekerjaan yang tak pernah selesai. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, terutama pada malam hingga dini hari, perlu dihentikan agar lingkungan tetap sehat dan nyaman.
“Jadi kita gerakkan aksi bersih-bersih ini supaya mengajak masyarakat sama-sama menjaga kebersihan kota ini. Jangan buang sampah di pinggiran jalan, tiap malam, tiap subuh. Mau sampai kapan?” tegasnya.
Aksi bersih-bersih ini pun tidak dimaksudkan sebagai kegiatan seremonial belaka. Lebih dari itu, ia menjadi simbol upaya membangun budaya hidup bersih di tengah masyarakat. Sebab, kota yang sehat bukan hanya dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan kesadaran kolektif warganya.
Gerakan ASRI diharapkan menjadi momentum bersama bahwa kebersihan lingkungan adalah investasi jangka panjang bagi kualitas hidup. Pemerintah Kota Tangerang Selatan berkomitmen untuk terus menggencarkan edukasi dan aksi nyata, agar lingkungan yang aman, sehat, resik, dan indah bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran setiap individu.
Di Jombang pagi itu, sapu yang digerakkan bukan hanya membersihkan jalan. Ia juga menyapu harapan, bahwa kota yang sehat lahir dari tangan-tangan yang peduli.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)