COMMUNITY
Sampah Plastik Kini Bisa Ditukar Voucher Belanja, Begini Caranya
A. Firdaus
Rabu 13 Mei 2026 / 13:16
- Program ini merupakan pengembangan dari inisiatif Nestlé Indonesia Waste Station yang telah berjalan sejak 2023.
- Kolaborasi dengan Alfamart dipilih karena jaringan ritelnya dinilai dekat dengan kawasan permukiman masyarakat
- Setiap sampah yang disetorkan akan dikonversi menjadi poin sesuai jenis dan jumlahnya.
Jakarta: Nestlé Indonesia kembali memperkuat komitmennya dalam mendukung pengelolaan sampah rumah tangga melalui peresmian lima fasilitas Waste Station terbaru hasil kolaborasi dengan Alfamart. Fasilitas tersebut tersebar di sejumlah gerai Alfamart di Jakarta, Bandung, dan Bali untuk memudahkan masyarakat menyetorkan sampah anorganik di sela aktivitas belanja sehari-hari.
Program ini merupakan pengembangan dari inisiatif Nestlé Indonesia Waste Station yang telah berjalan sejak 2023. Operasional pengelolaan sampah dilakukan bersama Rekosistem, mulai dari proses pengumpulan hingga pemilahan lanjutan. Inisiatif tersebut juga mendapat dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Ujang Solihin Sidik, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional.
“Pengelolaan sampah nasional tidak bisa lagi bergantung pada pendekatan konvensional yang berakhir di TPA. Diperlukan intervensi nyata dari hulu, termasuk peran aktif produsen dan akses fasilitas yang dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Sejak 2018, Nestlé juga terus menjalankan pendekatan Packaging Sustainability di seluruh operasional bisnisnya. Saat ini, lebih dari 95 persen kemasan Nestlé telah dirancang agar dapat didaur ulang atau digunakan kembali. Perusahaan juga menargetkan seluruh kemasan produknya dapat didaur ulang atau dipakai ulang secara global.
Peresmian lima titik baru ini membuat total fasilitas Nestlé Indonesia Waste Station menjadi 15 lokasi yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. Hingga awal 2026, fasilitas tersebut telah membantu penyerapan lebih dari 244 ribu kilogram sampah.
Sepanjang 2025, volume sampah yang terkumpul mencapai 126,16 ton atau meningkat 46,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara jumlah pengguna tercatat lebih dari 14.154 orang, tumbuh 44,6 persen secara tahunan.
Corporate Affairs Director Nestlé Indonesia, Fajar Dewantara, mengatakan tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Melalui Nestlé Indonesia Waste Station, kami ingin mendorong peran aktif industri, ritel, mitra pengelola sampah, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi,” katanya.
Kolaborasi dengan Alfamart dipilih karena jaringan ritelnya dinilai dekat dengan kawasan permukiman masyarakat. Dengan konsep ini, masyarakat dapat membawa sampah anorganik yang sudah dipilah dan dibersihkan ke Waste Station, lalu melakukan registrasi melalui QR code.
Setiap sampah yang disetorkan akan dikonversi menjadi poin sesuai jenis dan jumlahnya. Poin tersebut nantinya dapat ditukarkan menjadi voucher belanja sebagai bentuk insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat secara konsisten.
Property and Development Director Alfamart, Hans Harischandra, menyebut kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan menuju green retailing leader di Indonesia.
“Melalui Waste Station yang terintegrasi dengan aktivitas belanja sehari-hari, kami ingin menghadirkan pengalaman baru bagi konsumen, di mana berbelanja tidak hanya memenuhi kebutuhan, tetapi juga memberikan kontribusi langsung bagi lingkungan,” jelasnya.
Selain Waste Station, Nestlé Indonesia juga terus mengembangkan program pengelolaan sampah pascakonsumsi lainnya seperti Waste Dropbox. Langkah ini menjadi bagian dari implementasi Packaging Recovery and Recycling Plan untuk memastikan kemasan bekas konsumsi dapat kembali masuk ke dalam ekosistem daur ulang secara optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Program ini merupakan pengembangan dari inisiatif Nestlé Indonesia Waste Station yang telah berjalan sejak 2023. Operasional pengelolaan sampah dilakukan bersama Rekosistem, mulai dari proses pengumpulan hingga pemilahan lanjutan. Inisiatif tersebut juga mendapat dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Ujang Solihin Sidik, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional.
“Pengelolaan sampah nasional tidak bisa lagi bergantung pada pendekatan konvensional yang berakhir di TPA. Diperlukan intervensi nyata dari hulu, termasuk peran aktif produsen dan akses fasilitas yang dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Sejak 2018, Nestlé juga terus menjalankan pendekatan Packaging Sustainability di seluruh operasional bisnisnya. Saat ini, lebih dari 95 persen kemasan Nestlé telah dirancang agar dapat didaur ulang atau digunakan kembali. Perusahaan juga menargetkan seluruh kemasan produknya dapat didaur ulang atau dipakai ulang secara global.
Peresmian lima titik baru ini membuat total fasilitas Nestlé Indonesia Waste Station menjadi 15 lokasi yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. Hingga awal 2026, fasilitas tersebut telah membantu penyerapan lebih dari 244 ribu kilogram sampah.
Sepanjang 2025, volume sampah yang terkumpul mencapai 126,16 ton atau meningkat 46,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara jumlah pengguna tercatat lebih dari 14.154 orang, tumbuh 44,6 persen secara tahunan.
Corporate Affairs Director Nestlé Indonesia, Fajar Dewantara, mengatakan tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Melalui Nestlé Indonesia Waste Station, kami ingin mendorong peran aktif industri, ritel, mitra pengelola sampah, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi,” katanya.
Kolaborasi dengan Alfamart dipilih karena jaringan ritelnya dinilai dekat dengan kawasan permukiman masyarakat. Dengan konsep ini, masyarakat dapat membawa sampah anorganik yang sudah dipilah dan dibersihkan ke Waste Station, lalu melakukan registrasi melalui QR code.
Setiap sampah yang disetorkan akan dikonversi menjadi poin sesuai jenis dan jumlahnya. Poin tersebut nantinya dapat ditukarkan menjadi voucher belanja sebagai bentuk insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat secara konsisten.
Property and Development Director Alfamart, Hans Harischandra, menyebut kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan menuju green retailing leader di Indonesia.
“Melalui Waste Station yang terintegrasi dengan aktivitas belanja sehari-hari, kami ingin menghadirkan pengalaman baru bagi konsumen, di mana berbelanja tidak hanya memenuhi kebutuhan, tetapi juga memberikan kontribusi langsung bagi lingkungan,” jelasnya.
Selain Waste Station, Nestlé Indonesia juga terus mengembangkan program pengelolaan sampah pascakonsumsi lainnya seperti Waste Dropbox. Langkah ini menjadi bagian dari implementasi Packaging Recovery and Recycling Plan untuk memastikan kemasan bekas konsumsi dapat kembali masuk ke dalam ekosistem daur ulang secara optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)