COMMUNITY
Kompetisi Ilustrasi Jadi Ruang Generasi Kreatif Kembangkan Karya dan Cerita
Elang Riki Yanuar
Minggu 06 September 2026 / 18:00
- Ratusan kreator Indonesia mendapat ruang berkarya lewat kompetisi ilustrasi yang mengangkat cerita makanan, keluarga, budaya, dan kebersamaan.
- Muhammad Ridlo meraih juara pertama berkat ilustrasi tentang kehangatan makan bersama keluarga yang dinilai kuat dari sisi storytelling dan visual.
- Kompetisi ilustrasi ini membuka peluang kreator mengembangkan karya ke berbagai medium, dari pameran hingga merchandise, sekaligus memperluas pengalaman berkarya.
Jakarta: Meja makan tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati hidangan, tetapi juga ruang tempat berbagai cerita dan kenangan tercipta. Gagasan tersebut menjadi inspirasi bagi ratusan kreator dari berbagai daerah di Indonesia untuk menuangkan ide seni mereka dalam FINNA ART Design Illustration Competition 2026.
Mengusung tema Satu Meja, Sejuta Cerita Bersama FINNA FOOD, kompetisi ilustrasi tersebut menjadi ruang bagi generasi kreatif untuk mengeksplorasi cerita tentang makanan, keluarga, budaya, hingga momen kebersamaan.
Beragam perspektif muncul melalui karya para peserta. Ada yang mengangkat kehangatan keluarga, pengalaman di sekitar meja makan, hingga melihat meja makan sebagai tempat bertemunya berbagai cerita dalam kehidupan sehari-hari.
Muhammad Ridlo menjadi kreator yang berhasil meraih posisi pertama melalui karya berjudul Kehangatan Makan Bersama Keluarga. Ilustrasi tersebut berangkat dari kenangan masa kecil Ridlo mengenai momen berkumpul bersama keluarga di meja makan.
Karya Ridlo mendapatkan apresiasi dari dewan juri karena dinilai mampu menyampaikan cerita secara kuat melalui karakter visual yang menarik. Ilustrasinya juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan dalam berbagai bentuk karya turunan.
“Dari storytelling-nya bagus, karakternya juga bagus. Untuk peletakan desain ke merchandise dan lain-lainnya kita perhatiin juga. Semuanya dari brief masuk dan komersial banget, cocok sama brand FINNA. Ya, itulah kenapa dia jadi juara 1,” ujar WD Willy, salah satu dewan juri FINNA ART 2026.
Penilaian serupa disampaikan Liffi Wongso. Menurutnya, karya Ridlo memiliki konsep yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah diterima secara emosional oleh penikmatnya.
Posisi kedua ditempati Sandy Hasan melalui karya Satu Meja Makan Bisa Menyimpan Begitu Banyak Cerita. Sandy tidak hanya menjadikan makanan sebagai fokus utama, tetapi juga menggambarkan manusia, pengalaman, dan berbagai cerita yang muncul ketika orang berkumpul untuk makan bersama.
Sementara itu, Hendrik Yudha Prasetio meraih posisi ketiga lewat karya Meja Makan adalah Sebuah Panggung Kecil Tempat Jutaan Kisah Saling Bertemu. Ia menggambarkan meja makan sebagai ruang sederhana yang mempertemukan waktu, percakapan, pengalaman, dan kebersamaan.
Selain tiga pemenang utama, sejumlah kreator lainnya turut mendapatkan penghargaan. Evieriel Nurial Primadani, Nur Shanti Indriani, dan Milfa Saadah masuk dalam Top 6, sedangkan Cicilia Sri Bintang Lestari, Aini Siti Rohmah, Dinda Rizki Rachmadhani, dan Hannathasya Hoan masuk dalam Top 10.
Hannathasya Hoan juga memperoleh penghargaan Most Favorite on Social Media. Rangkaian penghargaan tersebut memperlihatkan banyaknya pendekatan kreatif yang lahir dari satu tema yang sama.
FINNA ART 2026 menyediakan total hadiah senilai Rp80 juta. Namun, pengalaman yang diperoleh para peserta tidak berhenti pada kompetisi dan hadiah. Para finalis juga mendapat dukungan perjalanan dan akomodasi untuk menghadiri rangkaian acara di Jakarta.
Karya para finalis kemudian dipamerkan dalam final exhibition yang berlangsung pada 5 hingga 6 September 2026 di ARTKET 07. Sejumlah karya juga diwujudkan dalam bentuk merchandise seperti sticker, enamel pin, keychain, card holder, scarf, laptop bag, hingga padel bag.
Bagi para kreator, kesempatan membawa karya dari tahap submission digital hingga hadir dalam pameran memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan sebuah ide. Karya yang awalnya dibuat sebagai ilustrasi kompetisi kemudian dapat dilihat dalam bentuk dan konteks yang lebih luas.
Ruang seperti ini menjadi penting bagi kreator muda karena memberikan kesempatan untuk mempertemukan karya dengan publik. Selain mengasah kemampuan visual, mereka juga dapat belajar bagaimana sebuah gagasan dikembangkan, dikomunikasikan, dan diterapkan ke berbagai medium.
Liffi Wongso pun mendorong para peserta untuk tidak berhenti berkarya setelah kompetisi berakhir. Menurutnya, pengalaman mengikuti FINNA ART dapat menjadi salah satu tahapan dalam perjalanan kreatif masing-masing peserta.
“Yang pasti terus berkarya, jangan berhenti walaupun kompetisi ini selesai. Anggap kompetisi FINNA ini sebagai checkpoint. Proses ke FINNA kan lumayan panjang, dan akhirnya menjadi 10 finalis dan juga pemenang. Anggap ini sebagai checkpoint, lalu nanti terus berkarya untuk mencapai checkpoint-checkpoint selanjutnya,” ujar Liffi.
Pada akhirnya, FINNA ART 2026 tidak hanya mempertemukan kompetisi ilustrasi dengan para pemenangnya. Ajang ini juga membuka ruang kolaborasi bagi generasi kreatif untuk menyampaikan gagasan, berbagi cerita, serta melihat kemungkinan baru bagi karya mereka.
(ELG)
Mengusung tema Satu Meja, Sejuta Cerita Bersama FINNA FOOD, kompetisi ilustrasi tersebut menjadi ruang bagi generasi kreatif untuk mengeksplorasi cerita tentang makanan, keluarga, budaya, hingga momen kebersamaan.
Beragam perspektif muncul melalui karya para peserta. Ada yang mengangkat kehangatan keluarga, pengalaman di sekitar meja makan, hingga melihat meja makan sebagai tempat bertemunya berbagai cerita dalam kehidupan sehari-hari.
Muhammad Ridlo menjadi kreator yang berhasil meraih posisi pertama melalui karya berjudul Kehangatan Makan Bersama Keluarga. Ilustrasi tersebut berangkat dari kenangan masa kecil Ridlo mengenai momen berkumpul bersama keluarga di meja makan.
Karya Ridlo mendapatkan apresiasi dari dewan juri karena dinilai mampu menyampaikan cerita secara kuat melalui karakter visual yang menarik. Ilustrasinya juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan dalam berbagai bentuk karya turunan.
“Dari storytelling-nya bagus, karakternya juga bagus. Untuk peletakan desain ke merchandise dan lain-lainnya kita perhatiin juga. Semuanya dari brief masuk dan komersial banget, cocok sama brand FINNA. Ya, itulah kenapa dia jadi juara 1,” ujar WD Willy, salah satu dewan juri FINNA ART 2026.
Penilaian serupa disampaikan Liffi Wongso. Menurutnya, karya Ridlo memiliki konsep yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah diterima secara emosional oleh penikmatnya.
Baca Juga :
Wadah Ilustrator Muda Indonesia Pamerkan Karya
Posisi kedua ditempati Sandy Hasan melalui karya Satu Meja Makan Bisa Menyimpan Begitu Banyak Cerita. Sandy tidak hanya menjadikan makanan sebagai fokus utama, tetapi juga menggambarkan manusia, pengalaman, dan berbagai cerita yang muncul ketika orang berkumpul untuk makan bersama.
Sementara itu, Hendrik Yudha Prasetio meraih posisi ketiga lewat karya Meja Makan adalah Sebuah Panggung Kecil Tempat Jutaan Kisah Saling Bertemu. Ia menggambarkan meja makan sebagai ruang sederhana yang mempertemukan waktu, percakapan, pengalaman, dan kebersamaan.
Selain tiga pemenang utama, sejumlah kreator lainnya turut mendapatkan penghargaan. Evieriel Nurial Primadani, Nur Shanti Indriani, dan Milfa Saadah masuk dalam Top 6, sedangkan Cicilia Sri Bintang Lestari, Aini Siti Rohmah, Dinda Rizki Rachmadhani, dan Hannathasya Hoan masuk dalam Top 10.
Hannathasya Hoan juga memperoleh penghargaan Most Favorite on Social Media. Rangkaian penghargaan tersebut memperlihatkan banyaknya pendekatan kreatif yang lahir dari satu tema yang sama.
FINNA ART 2026 menyediakan total hadiah senilai Rp80 juta. Namun, pengalaman yang diperoleh para peserta tidak berhenti pada kompetisi dan hadiah. Para finalis juga mendapat dukungan perjalanan dan akomodasi untuk menghadiri rangkaian acara di Jakarta.
Karya para finalis kemudian dipamerkan dalam final exhibition yang berlangsung pada 5 hingga 6 September 2026 di ARTKET 07. Sejumlah karya juga diwujudkan dalam bentuk merchandise seperti sticker, enamel pin, keychain, card holder, scarf, laptop bag, hingga padel bag.
Bagi para kreator, kesempatan membawa karya dari tahap submission digital hingga hadir dalam pameran memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan sebuah ide. Karya yang awalnya dibuat sebagai ilustrasi kompetisi kemudian dapat dilihat dalam bentuk dan konteks yang lebih luas.
Ruang seperti ini menjadi penting bagi kreator muda karena memberikan kesempatan untuk mempertemukan karya dengan publik. Selain mengasah kemampuan visual, mereka juga dapat belajar bagaimana sebuah gagasan dikembangkan, dikomunikasikan, dan diterapkan ke berbagai medium.
Liffi Wongso pun mendorong para peserta untuk tidak berhenti berkarya setelah kompetisi berakhir. Menurutnya, pengalaman mengikuti FINNA ART dapat menjadi salah satu tahapan dalam perjalanan kreatif masing-masing peserta.
“Yang pasti terus berkarya, jangan berhenti walaupun kompetisi ini selesai. Anggap kompetisi FINNA ini sebagai checkpoint. Proses ke FINNA kan lumayan panjang, dan akhirnya menjadi 10 finalis dan juga pemenang. Anggap ini sebagai checkpoint, lalu nanti terus berkarya untuk mencapai checkpoint-checkpoint selanjutnya,” ujar Liffi.
Pada akhirnya, FINNA ART 2026 tidak hanya mempertemukan kompetisi ilustrasi dengan para pemenangnya. Ajang ini juga membuka ruang kolaborasi bagi generasi kreatif untuk menyampaikan gagasan, berbagi cerita, serta melihat kemungkinan baru bagi karya mereka.
(ELG)