BEAUTY

Sebelum Rhinoplasty, Ketahui 5 Kelompok Orang yang Tidak Disarankan Jalani Operasi Ini

Fatha Annisa
Senin 25 Mei 2026 / 16:51
Ringkasnya gini..
  • Rhinoplasty atau operasi hidung menjadi salah satu prosedur estetika paling populer.
  • Namun perlu diketahui bahwa prosedur ini tidak aman dilakukan oleh semua orang.
  • Memahami kondisi fisik dan psikologis sebelum rhinoplasty penting untuk mencegah komplikasi medis maupun kekecewaan pascaoperasi.m
Jakarta: Rhinoplasty atau yang dikenal juga sebagai ‘nose job’ merupakan operasi rekonstruksi hidung. Ini menjadi salah satu prosedur bedah estetika yang paling banyak diminati di seluruh dunia.
 
Mulai untuk alasan memperbaiki fungsi pernapasan akibat struktur medis yang terganggu maupun meningkatkan harmonisasi visual wajah, Rhinoplasty telah dilakukan oleh selebritas tanah air hingga dunia.
 
Namun, di balik popularitas dan hasil transformatif yang ditawarkan, rhinoplasty bukanlah prosedur kosmetik yang bisa dilakukan secara sembarangan oleh semua orang, lho. Prosedur ini bisa menjadi sangat berisiko bagi sebagian orang.
 
Bagi yang sedang mempertimbangkan untuk merombak struktur hidung, penting untuk memahami apakah kondisi kamu memungkinkan untuk menjalani prosedur ini.
 
Baca juga: Alasan Rina Nose Operasi Plastik dengan Dokter Tompi

 

Kelompok Individu yang Harus Menghindari Rhinoplasty

Ada kelompok individu dengan kriteria medis dan psikologis khusus yang sangat disarankan untuk menghindari atau menunda prosedur rhinoplasty. Keputusan untuk membatasi tindakan ini demi menghindari komplikasi bedah yang fatal, kegagalan fungsional hidung, hingga kekecewaan psikologis pascaoperasi.
 
Dirangkum dari berbaga sumber, berikut penjelasan lengkapnya:

1. Remaja yang Pertumbuhan Tulang Wajahnya Belum Sempurna

Faktor usia memainkan peran yang sangat krusial dalam keberhasilan jangka panjang operasi hidung. Remaja berusia di bawah 15-16 tahun untuk perempuan, dan di bawah 17-18 tahun untuk laki-laki, umumnya dilarang melakukan rhinoplasty estetika.
 
Pada usia tersebut, lempeng pertumbuhan tulang dan tulang rawan wajah (facial skeleton) masih terus berkembang. Melakukan operasi pada struktur yang belum matang dapat mengganggu pertumbuhan alami wajah dan mengubah hasil estetika operasi di kemudian hari.
 
Baca juga: Wanita Tiongkok Tewas Usai 6 Kali Operasi Plastik dalam Sehari

 

2. Penderita Gangguan Psikologis BDD (Body Dysmorphic Disorder)

Kondisi mental pasien sama pentingnya dengan kondisi fisik sebelum masuk ke ruang operasi. Individu yang mengidap Body Dysmorphic Disorder (BDD) sangat tidak disarankan untuk menjalani bedah plastik apa pun, termasuk rhinoplasty.
 
Nah, BDD sendiri merupakan gangguan mental di mana seseorang terobsesi secara berlebihan terhadap cacat fisik yang sebenarnya sangat kecil atau bahkan tidak kasat mata oleh orang lain.
 
Pasien dengan BDD memiliki ekspektasi yang tidak realistis. Berapa kali pun operasi dilakukan dan bagaimanapun sempurnanya hasil secara medis, mereka akan tetap merasa tidak puas dan terus menemukan kekurangan pada hidung mereka, yang berujung pada kecanduan operasi revisi yang berbahaya.
 

3. Pengidap Penyakit Autoimun Aktif dan Gangguan Pembekuan Darah

Pasien dengan riwayat penyakit kronis seperti lupus, rheumatoid arthritis, diabetes yang tidak terkontrol, serta gangguan pembekuan darah (hemofilia) masuk dalam kategori risiko tinggi
 
Alasannya, penyakit autoimun dan diabetes yang tidak terkontrol secara signifikan dapat menghambat proses regenerasi jaringan dan penyembuhan luka, sehingga meningkatkan risiko infeksi pascaoperasi atau nekrosis (kematian jaringan kulit).
 
Sementara itu, gangguan pembekuan darah dapat memicu pendarahan hebat (haemorrhage) yang mengancam nyawa selama atau setelah operasi.

 
Baca juga: Rhinoplasty: Tujuan, Harga, dan Risiko Operasi Hidung yang Bisa Bikin Lebih PD

 

4. Perokok Berat

Merokok bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan kontraindikasi medis utama dalam dunia bedah plastik.Kandungan nikotin dalam rokok menyebabkan penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi), yang berakibat pada berkurangnya aliran darah dan suplai oksigen ke area hidung yang sedang disembuhkan.
 
Hal ini meningkatkan risiko kegagalan cangkok tulang rawan, jaringan parut yang buruk, hingga robeknya jahitan operasi. Pasien wajib berhenti merokok setidaknya 4 minggu sebelum dan sesudah operasi.
 

5. Individu dengan Ekspektasi Tidak Realistis

Banyak pasien datang ke klinik bedah plastik dengan membawa foto selebritas pujaan dan meminta replika hidung yang persis sama. Dokter bedah yang kredibel biasanya akan menolak pasien dengan pola pikir seperti ini.
 
Perlu diingat bahwa struktur hidung baru harus disesuaikan dengan anatomi, proporsi, dan rasio wajah asli masing-masing individu agar fungsi pernapasannya tetap berjalan optimal. Seseorang tidak bisa mengharapkan replika hidung yang sama persis dengan orang lain.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(PRI)

MOST SEARCH