Jakarta: Dana Otonomi Khusus (Otsus) di bidang pendidikan dinilai menjadi pintu penting bagi lahirnya generasi muda Papua yang berdaya saing. Harapan itu disampaikan dua perempuan muda Papua berprestasi, Cecilia Novani Mehue dan Yunita Alanda Monim, yang berbagi pengalaman tentang akses pendidikan dan dampaknya bagi masa depan anak muda di Tanah Papua.
“Saya ini aset hidup otonomi khusus Papua. Jadi saya harus pulang ke Papua untuk membantu masyarakat dalam bentuk apapun,” kata Cecilia saat diskusi di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
Keduanya mendorong agar pemanfaatan dana Otsus untuk pendidikan dilakukan secara maksimal, disertai sosialisasi program beasiswa yang lebih luas agar semakin banyak generasi muda Papua dapat melanjutkan studi ke berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
Cecilia Novani Mehue merupakan salah satu penerima manfaat beasiswa Otsus yang berhasil menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Ia menyelesaikan studi Sarjana dan Magister di Oregon State University, sebelum akhirnya kembali ke Papua dan kini mengemban tugas sebagai anggota DPRP Papua.
Beasiswa Otsus yang diperolehnya pada masa Gubernur Lukas Enembe membuka jalan bagi Cecilia menempuh pendidikan selama tujuh tahun di Amerika. Selama masa studi, ia juga aktif dalam gerakan pemberdayaan perempuan Papua melalui organisasi Ikatan Mahasiswa Papua Amerika dan Kanada (IMAPA), hingga dipercaya menjadi Wakil Presiden organisasi tersebut.
Latar belakang keluarga sederhana menjadi motivasi kuat bagi Cecilia untuk mengejar pendidikan melalui jalur beasiswa.
“Saya ini berasal dari keluarga yang sederhana. Karena itu saya mencari beasiswa untuk sekolah dan pulang membantu orang tua dan masyarakat kami,” ungkap Cecilia.
Sekembalinya ke Papua, ia langsung menerapkan ilmunya dengan membuka usaha kafe di Sentani dan merekrut tenaga kerja dari kalangan anak muda Papua. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan, di antaranya menjadi dosen kontrak di Universitas Swadiri Jayapura, terlibat di Yayasan Ada Kitong Pung Rumah, serta pelayanan gereja.
Melalui jalur pengangkatan Otsus, Cecilia kemudian terpilih sebagai anggota DPRP Papua periode 2024–2029 setelah mengikuti rangkaian seleksi.
“Sebagai anggota Dewan hasil pengangkatan dari jalur Otsus, tugas saya adalah menjaga dan memperjuangan hak-hak adat orang asli Papua agar bisa masuk dalam program pemerintah daerah,” ungkapnya.
Pengalaman berbeda datang dari Yunita Alanda Monim, Puteri Indonesia Papua 2023, yang mengaku tidak memperoleh beasiswa Otsus saat menempuh pendidikan. Ia menyebut keterbatasan informasi menjadi salah satu kendala utama saat itu.
Meski demikian, Yunita melihat perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir, di mana semakin banyak anak muda Papua mendapat kesempatan pendidikan melalui program Otsus.
“Yang penting pemerintah perlu terus melakukan sosialisasi tentang program-program Otsus supaya makin banyak masyarakat Papua merasakan manfaatnya, terutama di bidang pendidikan,” ungkap Yunita.
Kisah dua perempuan muda ini menunjukkan bahwa akses pendidikan melalui Otsus tidak hanya berdampak pada capaian akademik, tetapi juga mendorong kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah. Dok. Istimewa Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News