Jakarta: Pemulihan pascabencana di Sumatra hingga banjir di Jawa, dioptimalkan seluruh pihak. Termasuk, badan usaha milik negara (BUMN).
Guru Besar Ilmu Sosiologi FISIP Universitas Indonesia Prof. Richardi Adnan mengatakan, pemerintah kerap menjadikan BUMN sebagai tumpuan dalam penanganan bencana alam.
”BUMN meski di bawah pemerintah namun mereka bisa bergerak secara independen,” ujar Guru Besar Ilmu Sosiologi Fisip Universitas Indonesia Prof. Richardi Adnan.
Lebih lanjut Prof. Richardi mengatakan bahwa selama ini memang BUMN kerap dijadikan tumpuan oleh pemerintah dalam menangani bencana alam.
”Mereka memiliki saldo yang berlebih, terbiasa dengan program tanggung jawab sosial (CSR) dan terlatih karena banyak berhubungan juga dengan perusahaan-perusahaan serupa di mancanegara,” tuturnya.
Ia mengatakan salah satu BUMN yang punya jam terbang tinggi dalam menghadapi krisis adalah Pertamina. Hal ini dikarenakan energi merupakan kebutuhan dasar.
Sosiolog Universitas Indonesia Nadia Yovani menyoroti peran Pertamina dalam menjaga ketersediaan energi nasional sekaligus memberikan bantuan kemanusiaan selama masa krisis. “Dari sisi tanggung jawab sosial, Pertamina cukup tanggap,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta.
Ia menilai, sebagai perusahaan besar, Pertamina memiliki organisasi yang mapan dan jaringan logistik yang luas.
“Selevel Pertamina tentu organisasinya sudah mapan dan luas, baik secara logistik maupun jaringan,” kata Nadia.
Namun, ia mengingatkan agar bantuan yang diberikan tidak berhenti pada respons jangka pendek.
”Konsepnya harus jelas, jangan cuma kasih (uang/bantuan) terus ditinggal. Ada fungsi pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Selain memulihkan operasional, Pertamina melalui program Pertamina Peduli menyalurkan bantuan senilai miliaran rupiah. Bantuan tersebut digunakan untuk pembangunan posko kesehatan terpadu yang melayani lebih dari 15.000 pengungsi di Aceh Utara dan Pidie Jaya.
Pertamina juga menggelar dapur umum mandiri, menyediakan LPG 12 kilogram dan Bright Gas secara gratis di 120 titik pengungsian, serta membangun sumur bor dan instalasi penjernihan air menggunakan teknologi reverse osmosis di wilayah yang sumber airnya tercemar lumpur.
Di Pulau Jawa, Pertamina menyalurkan bantuan sembako dan pasokan BBM untuk mempercepat pemulihan di wilayah terdampak parah, seperti Desa Tempur di Jepara, Jawa Tengah. Bantuan LPG juga diberikan untuk mendukung operasional dapur umum agar kebutuhan pangan pengungsi tetap terpenuhi.
Pengamat dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia Udi Hamzah mengapresiasi langkah Pertamina dalam penanganan bencana. “Kalau untuk tanggung jawab sosial perusahaan saja Pertamina mampu melakukan, apalagi untuk bencana, semestinya bisa,” ujarnya.
Ia juga menilai penggunaan multimoda transportasi darat, laut, dan udara efektif untuk menembus wilayah terisolasi. “Penyaluran avtur, BBM, dan LPG sangat vital untuk logistik, dapur umum, termasuk penyediaan air bersih, listrik tenaga surya, dan komunikasi,” kata Udi.
”Sebagai perusahaan minyak dan gas nasional, Pertamina tentu menerapkan sistem tanggap darurat yang komprehensif untuk menjamin keberlangsungan pasokan energi dan keselamatan operasional di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Udi.
Seperti diketahui Pertamina mengaktifkan skema Regular, Alternative, and Emergency (RAE) untuk memastikan suplai BBM dan LPG tidak terputus.
Sebagai tindak lanjut dari pengalaman tahun 2025, Pertamina kini telah memperkuat infrastruktur depot dan terminal BBM di Sumatera dengan teknologi Early Warning System yang terintegrasi dengan data BMKG. Hal ini bertujuan agar gangguan distribusi dapat diminimalisir jika terjadi bencana serupa di masa depan. Dok. Istimewa Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News