Perumpamaan tersebut diutarakan oleh Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Dalam menjalankan tugasnya, ia mengibaratkan dirinya seperti seorang konduktor pertunjukan orkestra. Menurut dia menjadi pemimpin sebuah perusahaan adalah sebuah seni.
Seorang konduktor harus memahami target audience-nya. Hal itu juga yang harus dilakukan sebagai seorang pimpinan. Ia harus mengetahui berbagai kebutuhan dan keinginan para nasabah. Dengan begitu, layanan dan jasa yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan nasabah. Kerap menyediakan layanan dan produk jasa perbankan yang dibutuhkan dan diinginkan nasabah serta masyarakat luas, menjadi amanat BCA tiada henti.
Jahja mengatakan dirigen mungkin tidak bisa memainkan seluruh alat musik yang ada. Namun, sebagai pemimpin patut mengetahui nada-nada yang keluar dari setiap instrument yang dimainkan. Pun begitu dengan seorang pemimpin perusahaan, patut mengetahui kelebihan dan kekurangan perusahaan. Menonjolkan kelebihan dan memperbaiki kekurangan adalah hal yang perlu selalu dilakukan.
Selain itu, memimpin juga harus disesuaikan dengan tempo maupun irama lagu. Sebagai pemimpin, tak selamanya bisa memaksakan pertumbuhan bisnis perusahaan terlebih di saat sulit yang tidak memungkinkan. Menurut Jahja, ia juga harus senantiasa mempertimbangkan situasi makro dan mikro ekonomi.
Dengan begitu, pemimpin akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berlari kencang mengembangkan bisnis dan kapan waktu untuk bersabar menghadapi situasi alias slow down. “Tidak boleh terus-terusan menggenjot bisnis demi target semata, karena ini tidak baik. Kita harus meneliti jika ada target yang tidak tercapai, maka harus bersama-sama melakukan evaluasi. Harus saling melengkapi dan tidak saling menyalahi agar bisa menimbulkan kekompakan,” ucap Jahja.
Sebagai pimpinan tertinggi di bank swasta nasional terbesar di Indonesia, ia kerap mendengar masukan-masukan dari berbagai pihak. Sebab, seorang pemimpin bukanlah super hero yang bisa mengetahui segalanya. Namun sebagai pemimpin, tentu bisa memilah berbagai pilihan yang ada serta melakukan kajian yang lebih mendalam.
Pria kelahiran 14 September 1955 ini menuturkan, dalam memimpin BCA, Jahja tak segan mengambil hal positif dari orang lain dan mengkombinasikannya dengan banyak sumber lainnya. Dengan demikian, ramuan tersebut dapat menghasilkan suatu hal yang positif untuk diterapkan di perusahaan. Dengan mendengarkan, kata Jahja, maka pemimpin dapat melakukan sinkronisasi kinerja seluruh karyawan dan membawa perusahaan menjadi lebih baik lagi.
Meski menerapkan gaya kepemimpinan yang fleksibel, namun strategi manajemen perusahaan tetap dilakukan. Mulai dari perencanaan, struktur organisasi, sumber daya manusia yang mumpuni, pelaksanaan serta pengawasan tetap dilakukan. Urutan manajemen tersebut, kata Jahja, menjadi pakem manajemen perseroan dan seluruhnya harus dijalankan.
“Variasi pelaksanaannya tergantung masing-masing pribadi pemimpin. Ada pemimpin yang memimpin dengan gaya kepemimpinan yang keras, ada yang sangat disiplin. Kalau saya cenderung memimpin dengan lebih fleksibel. Berikan suatu apresiasi, reward, bukan hanya dalam bentuk materi tetapi dalam bentuk pujian kepada karyawan. Itu, perlu dilakukan,” ucap Jahja.
Oleh sebab itu, tak segan Jahja mengirimkan rangkaian bunga kepada kolega kepala divisi maupun kepala kantor wilayah yang sedang berulang tahun. Menurutnya, hal-hal kecil namun mengena itu, dapat mempersatukan kekompakan di kantor. Dengan begitu, tak ada jarak antara pemimpin dengan yang dipimpinnya.
Perpaduan harmonisasi seluruh lini dan karyawan inilah yang membuahkan berbagai penghargaan yang diraih oleh BCA. Jahja mengungkapkan, seluruh penghargaan yang berhasil diraih BCA, merupakan hasil support dari seluruh karyawan, para nasabah serta peranan media yang memberikan pemberitaan-pemberitaan yang positif.
Seperti diketahui, BCA baru saja menerima penghargaan sebagai Best Manage Company oleh majalah berwawasan Asia yaitu Finance Asia. Penghargaan ini diberikan kepada BCA tidak hanya sebagai bank, melainkan sebagai satu perusahaan terbaik di Indonesia. Penghargaan tersebut diraih BCA selama dua tahun berturut-turut. Dalam kurun waktu itu pula, Jahja Setiaatmadja didapuk sebagai Best CEO.
Tetap Bersosialisasi
Tak hanya imbang dalam urusan kerja, Jahja pun berupaya imbang dalam kehidupan pribadinya. Menurut Jahja, terdapat lima hal yang mendukung kesuksesan hidup seseorang. Kesehatan, materi, karir, hubungan dengan keluarga serta hubungan dengan Tuhan. Kelima hal tersebut harus terus dijaga harmonisasinya.
Dalam hal kesehatan, misalnya. Setiap hari, pria berusia 61 tahun ini selalu menyempatkan diri untuk olahraga renang selama lebih kurang 45 menit. Ia juga menyempatkan bermain golf pada Sabtu pagi. Tak sedikit piagam yang dikoleksinya dari olahraga ini.
Lewat golf, Jahja mengaku bisa relaksasi sekaligus bersosialisasi dengan kerabat dan juga sahabat. Sebab, tak jarang usai menyelesaikan permainan golf, Jahja menghabiskan waktu dengan makan bersama dan melakukan aktivitas bersama lainnya.
“Menikmati persahabatan dengan teman. Ini adalah upaya mengimbangi hidup agar tidak cepat tua,” seloroh Jahja.
Sabtu Malam dan hari Minggu, merupakan hari keluarga bagi Jahja. Pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini biasanya menghabiskan akhir pekan bersama istri, anak-anak, serta dua orang cucunya. “Kami sekeluarga selalu mencari waktu untuk bisa bersama, menjalin komunikasi keluarga,” ungkap Jahja.
Sumber: Website BCA Prioritas
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News