Ilustrasi (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Kemenperin Sebut Negara Maju Akibat Industri Tangguh

Angga Bratadharma • 01 Februari 2017 13:04
medcom.id, Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meyakini suatu negara dikatakan maju apabila industrinya tangguh. Sebagai negara berkembang dengan pasar terbesar, Indonesia ditantang untuk bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dan mampu meningkatkan produktivitasnya.
 
"Beberapa upaya strategis yang telah dilakukan oleh pemerintah, seperti paket kebijakan ekonomi dan penurunan harga gas, diharapkan mampu mendongkrak kinerja pertumbuhan industri nasional yang signifikan di tahun ini," kata Plt Sekjen Kemenperin Haris Munandar, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (1/2/2017).
 
Sasaran pembangunan industri nonmigas di 2017, antara lain pertumbuhan ditargetkan mencapai 5,5 persen, sumbangan terhadap perekonomian nasional sebesar 18,7 persen, kontribusi ekspor industri terhadap total ekspor 76,8 persen, penyerapan jumlah tenaga kerja sebanyak 16,3 juta orang, dan nilai tambah yang diciptakan dari luar Pulau Jawa sekitar 28,4 persen.

Baca: Indonesia Butuh Jutaan Wirausaha Baru Demi Merajai MEA
 
"Agar bisa mencapai target-target tersebut, kami telah menetapkan enam kebijakan prioritas untuk medukung pengembangan industri nasional," ujarnya.
 
Keenam kebijakan itu adalah penguatan SDM melalui vokasi industri, pendalaman struktur industri melalui penguatan rantai nilai, mendorong kinerja industri padat karya dan berorientasi ekspor, pengembangan IKM melalui platform digital, pengembangan industri berbasis sumber daya alam, serta pengembangan perwilayahan industri.
 
Baca: Pembangunan Kawasan Industri Morowali Percepat Pengembangan IKM
 
Kemenperin optimistis melalui program hilirisasi industri dapat meningkatkan nilai tambah bagi sumber daya alam di Indonesia. Dari sisi hilirisasi di sektor pertambangan seperti di Kawasan Industri Morowali yang tengah mengembangkan industri smelter berbasis nikel pig iron untuk menjadi stainless steel.
 
Menurut Haris, jika hilirisasi di sektor tersebut berjalan lancar, Indonesia akan menghasilkan empat juta ton stainless steel pada 2018-2019 dan menjadi produsen ketiga terbesar di dunia setelah Tiongkok dan Eropa. Saat ini, perkembangan hilirisasi industri berbasis logam mencakup 32 perusahaan dengan total nilai investasi USD16,3 miliar di 22 kabupaten/kota dan 11 provinsi.
 
Baca: Kemenperin Dorong IKM Nasional Masuk Pasar Global
 
Perkembangan hilirisasi industri berbasis agro mencakup 21 perusahaan dengan nilai investasi USD3,47 miliar di sembilan provinsi. Sedangkan, perkembangan hilirisasi industri berbasis migas dan batu bara, yakni ada sembilan perusahaan dengan total nilai investasi USD15,35 miliar di enam provinsi.
 
"Rencana investasi industri 2017-2020 ditargetkan mencapai 91 proyek dengan nilai investasi sebesar Rp662 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 544 ribu orang," ungkapnya.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ABD)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan