Di titik ini, Kuroda menegaskan, langkah pertimbangan itu bukan untuk menjaga kebijakan longgar yang sudah dilakukan sekarang ini guna mencapai tujuan inflasi BoJ di angka dua persen. Tidak ditampik, sejauh ini BoJ terus berupaya mencapai inflasi dua persen melalui sejumlah instrumen moneter.
Selain itu, lanjut Kuroda, dirinya tidak melihat yen yang baru-baru ini jatuh sebagai masalah bagi perekonomian Jepang. Pasalnya, mata uang yang lemah membantu mempercepat inflasi dengan meningkatkan biaya impor dan dengan demikian meningkatkan ekspektasi inflasi -elemen penting dalam rencana BoJ untuk mengalahkan stagnasi ekonomi.
Baca: Kinerja Ekspor Jepang Alami Peningkatan di November
"Kami masih jauh dari target inflasi dua persen kami. Ini karena tepat untuk melanjutkan pelonggaran moneter yang kuat. Ini benar-benar tidak terjadi bahwa imbal hasil obligasi Pemerintah Jepang diperbolehkan naik seiring dengan tingkat suku bunga jangka panjang," kata Kuroda, dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (21/12/2016).
Pernyataan Kuroda ini datang setelah keputusan secara luas BoJ diharapkan untuk menjaga janjinya guna membimbing suku bunga jangka pendek pada minus 0,1 persen dan imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun berada di sekitar nol persen.
Baca: Pekerja di Jepang Mulai Pangkas Jam Kerja
Suku bunga jangka panjang Jepang telah meningkat seiring dengan imbal hasil obligasi global berada pada ekspektasi kenaikan dari suku bunga acuan AS dan kebijakan inflasi mulai terpicu dari menangnya Donald Trump dalam sebuah Pemilihan Presiden AS beberapa waktu lalu.
Baca: Pemerintah Jepang Berencana Menyusun Anggaran Awal untuk 2017
"Kuroda tidak tertarik dalam meningkatkan target hasil dan tidak akan terganggu oleh kelemahan yen lebih lanjut. Kuroda mengatakan dia tidak menargetkan yen. Dia tampak senang dengan pasar yang bergerak baru-baru ini," kata Ekonom Tokai Tokyo Research Center Hiroaki Muto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News