Mengutip Reuters, Selasa 20 Desember, anggaran yang direncanakan itu merupakan tantangan bagi upaya Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk merampingkan pengeluaran dan melanjutkan dengan konsolidasi fiskal guna mengendalikan beban utang terberat pada industri di dunia. Sejauh ini, dirinya berupaya untuk terus mengangkat perekonomian.
Pengeluaran anggaran umum untuk tahun fiskal 2017 dimulai 1 April dan menandai peningkatan dari tahun ini yang sebesar 96,70 triliun yen, sebuah draf menunjukkan. Kondisi itu mencerminkan bola salju bagi jaminan belanja sosial untuk mendanai biaya jasa bagi penduduk lansia di Jepang.
Pemerintah bertujuan untuk menyetujui fiskal 2017 atau rancangan anggaran pada pertemuan kabinet, bersamaan dengan anggaran tambahan ketiga kecil untuk tahun fiskal saat ini. penerimaan pajak untuk fiskal 2017 akan diperkirakan di 57,71 triliun yen, meningkat 110 miliar yen dibandingkan di tahun ini, sebuah draf menunjukkan.
Selain itu, Pemerintah Jepang berencana untuk menjual obligasi baru senilai 34,37 triliun yen, yang merupakan lebih rendah pada sembilan tahun dari rencana sebesar 34,43 triliun yen di tahun ini, Untuk mengendalikan penerbitan obligasi baru, pemerintah akan memanfaatkan penerimaan negara bukan pajak yang lebih besar 5,37 triliun yen.
Di sisi lain, pekerja di Jepang memangkas atas jam kerja yang panjang dan meletakkan uang lembur yang belum dibayar di bawah tekanan dari perusahaan yang menghemat biaya dan dari tokoh-tokoh pemerintahan. Hal itu dengan harapan membuat uang pekerja lebih banyak guna meningkatkan belanja konsumen.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sedang mencoba untuk melaksanakan reformasi tenaga kerja sebagai bagian dari rencana 'abenomics' untuk mengakhiri dekade pertumbuhan stagnan dan tingkat deflasi. Adapun Pemerintah Jepang dan Bank of Japan (BoJ) berupaya agar perekonomian bisa terus menggeliat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News