Selain itu jika perusahaan asing yang masuk menggantikan Shell, diharapkan akan membawa teknologi mereka untuk bisa digunakan diadopsi dalam mengelola migas di Tanah Air terutama di proyek tersebut.
"Kalau bisa itu asing yang datang ke Indonesia, yang bisa membawa uang supaya pertumbuhan ekonominya bergerak. Kalau kita dalam arti Pertamina, harus pinjam uang dari luar," ujar Tumbur.
Tumbur juga menilai jika Pertamina didorong masuk ke proyek tersebut malah akan membebani Pertamina yang saat ini pun sudah dihadapkan oleh banyaknya pekerjaan rumah untuk meningkatkan produksi dari pengelolaan puluhan wilayah kerja migas di Tanah Air. Sehingga, lanjut mantan Direktur Utama Saka Energi ini, dalam proyek migas tidak hanya bisa mengedepankan perkara nasionalisme, tetapi juga melihat keberlanjutan kinerja hulu migas ke depannya.
"Kita tahu Pertamina sudah menangani dari Sabang sampai Merauke. Mereka bersar sekali kebutuhan capital-nya. Jangan lagi dibebankan dengan Masela. Jadi jangan melihat nasionalismenya dulu, kita lihat mereka mau ngapain ke depannya," jelas Tumbur.
Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mempersilakan Pertamina untuk masuk mendampingi Inpex Corporation yang memiliki 65 persen kepemilikan di Blok Masela.
"Kalau Pertamina berminat tentu dipersilakan open data dan ikut tender. Tentu kami enggak bisa memaksa kalau Pertamina enggak punya keberminatan," kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(DEV)