Foto: dok MI/Ramdani.
Foto: dok MI/Ramdani.

Belajar dari Jiwasraya

Ekonomi Analisis Ekonomi Jiwasraya
Media Indonesia.com • 02 November 2020 13:24
SENIN, 26 Oktober 2020 menjadi puncak episode untuk kasus Jiwasraya. Dua terdakwa korupsi Jiwasraya masing-masing Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat divonis dengan hukuman ultimum remidium penjara seumur hidup dan denda masing-masing Rp6,078 triliun dan Rp10,72 triliun.
 
Ketukan palu untuk dua terdakwa tersebut sebelumnya sudah didahului vonis penjara seumur hidup juga untuk rombongan mantan petinggi Jiwasraya (Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo, Syahmirwan) dan direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto pada 12 Oktober.
 
Jiwasraya, perusahaan asuransi milik negara harus berakhir tragis hingga memerlukan pemulihan yang mendasar. Pemerintah melalui Kementerian BUMN melakukan restrukturisasi dan membentuk perusahaan baru bernama Indonesia Financial Group (IFG Life) sebagai perusahaan yang menampung polis hasil restrukturisasi dari Jiwasraya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun masalah tidak selesai sampai di situ. Masyarakat memerlukan kepercayaan tingkat tinggi dalam pengelolaan industri keuangan, terlebih industri asuransi yang menempatkan dananya dalam pasar modal. Dalam pembukaan perdagangan bursa saham di awal tahun kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani menekankan pentingnya menjaga kredibilitas. Itu karena kredibilitas yang terjaga merupakan bentuk perlawanan pemerintah terkait adanya manipulasi saham.

Kejahatan keuangan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan asuransi akan menginvestasikan sebagian dana nasabahnya ke instrumen investasi pasar modal. Permasalahannya adalah jika salah dalam melakukan investasi, akan berujung pada gagal bayar ke nasabah.
 
Berdasarkan catatan keuangan Jiwasraya, sebenarnya sejak 2002 perusahaan ini sudah mengalami kesulitan keuangan bahkan mengalami insolvency sebesar Rp2,6 triliun, namun dalam catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), pada 2006 Jiwasraya membukukan laba semu. Pada 2015 JS Saving Plan diluncurkan dengan bunga pasti atau fixed rate mencapai net 10 persen atau jauh di atas rata-rata bunga deposito.
 
Namun program tersebut sayangnya diinvestasikan pada instrumen saham dan reksadana berkualitas rendah. Jual-beli saham dilakukan dengan pihak-pihak tertentu dengan negosiasi harga sesuai yang diinginkan bahkan dengan pihak-pihak yang terafiliasi.
 
Beberapa emiten yang sahamnya dibeli oleh Jiwasraya adalah PT Hanson Internasional (MYRX) milik Benny Tjokro, PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) milik Heru Hidayat. Namun pangkal masalah tidak saja pada pembelian saham di kedua emiten tersebut. Masalah terbesar adalah market manipulation atau familiar disebut goreng menggoreng saham.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif