Liverpool 2018--2019

Alisson Becker, Manchester United, dan Omong Kosong Juergen Klopp

Gregah Nurikhsani Estuning 20 Juli 2018 16:31 WIB
liga inggrisliverpool
Alisson Becker, Manchester United, dan Omong Kosong Juergen Klopp
Juergen Klopp dan Alisson Becker berpelukan. (Foto: Twitter/@LFC)
Jakarta: Liverpool terus berbenah sejak beberapa musim belakangan, tepatnya usai Juergen Klopp melipir ke Merseyside menangani Jordan Henderson cs. Manuver transfernya terbilang canggih, menyulap The Reds menjadi tim yang (kembali) disegani tak hanya di Inggris tapi juga di Eropa. Akan tetapi, publik tidak akan pernah melupakan sindirannya kepada Manchester United, yang membuat manajer asal Jerman itu harus menelan ludah sendiri.

Dua tahun lalu, Man United menggelontorkan dana mencapai 89,3 juta pounds untuk memboyong Paul Pogba ke Old Trafford dari Juventus. Gaung pemberitaan transfer tersebut menggetarkan Anfield, membuat publik Liverpool gemetar sekaligus nyinyir, terutama Klopp yang sempat berujar tak akan mengikuti langkah sang rival yang jor-joran membelanjakan dana besar untuk satu pemain saja.

"Saya maunya berbeda. Saya akan melakukan hal berbeda meskipun saya punya kuasa dan memiliki uang untuk dihambur-hamburkan," ujar Klopp mengomentari transfer Pogba ke Man United.


Komentar Klopp di atas nyatanya cuma omong kosong. Selama mantan pelatih Borussia Dortmund itu menangani Liverpool, sudah ada dua pembelian yang memecahkan rekor. Musim lalu, Virgil van Dijk menjadi bek termahal dunia ketika The Reds merekrutnya dari Southampton dengan dana mencapai 75 juta pounds.

Di musim yang sama, mereka juga telah mengamankan tanda tangan Naby Keita dari RB Leipzig dengan kocek sedalam 54 juta pounds. Menariknya, Keita baru bisa bergabung pada musim ini. Ia datang bersama dengan Fabinho, pemain multi-posisi dari AS Monaco. Dana tak kurang dari 45 juta pounds digelontorkan manajemen Merseyside Red.

Rekor kedua masih hangat diperbincangkan: kiper termahal. Adalah Alisson Becker, kiper timnas Brasil yang menyusul mantan rekan setimnya di AS Roma, Mohamed Salah. Ia menjadi penjaga gawang paling mahal setelah Liverpool mengiyakan permintaan Gialorossi sebesar 66,8 juta pounds, mengalahkan rekor milik Gianluigi Buffon dan Ederson.

Klik: Liverpool Resmi Dapatkan Alisson Becker

Kendati ia harus menelan ludah sendiri, manuver transfer yang dilakukan Klopp cukup membuahkan hasil. Ia berhasil membawa Roberto Firmino cs ke final Liga Champions 2017--2018. Van Dijk misalnya, meski sempat diragukan bisa menjadi jawaban atas keroposnya sektor pertahanan, ia membuktikan bahwa bukanlah seperti yang dikritik publik, dan yang paling penting, kepemimpinannya di lini belakang menjadi faktor kuat gemilangnya Liverpool musim kemarin.

Untuk bersaing dengan yang terbaik, tentu dibutuhkan pemain terbaik, dan finansial memang harus dikorbankan. Kecermatan manajemen klub dengan jajaran staf kepelatihan menjadi kuncinya. Liverpool dan pendukungnya tak perlu khawatir neraca keuangan jomplang menyusul belanja besar-besaran dalam setahun terakhir (mencapai 250 juta pounds), dan lagi pula bisnis belum lah usai.

Penjualan Philippe Coutinho ke Barcelona dengan dana 142 juta pounds tengah musim kemarin membuat tabungan klub cukup untuk belanja pemain sebanyak musim ini. Mungkin masih belum balik modal, tetapi, jendela transfer belumlah usai, dan Liverpool kemungkinan besar akan menjual sejumlah pemainnya seperti Loris Karius atau Simon Mignolet.

Mengenai kebijakan transfer yang jor-joran, ini merupakan pembuktian nyata Fenway Sports Group saat membeli Liverpool sembilan tahun lalu, bahwa mereka menjanjikan strategi yang berbeda dalam hal jual beli pemain dan penggunaan pemain muda. Mindset spend more to gain more membawa mereka kembali ke jajaran empat besar, namun tidak melupakan talenta-talenta lokal.

Trent Alexander-Arnold, Ben Woodburn, Sheyi Oyo sampai Dominik Solanke masuk ke skema utama The Reds. Mereka berkesempatan mendapatkan banyak pengalaman bermain dengan pemain senior lainnya macam Henderson, Adam Lallana, maupun Dejan Lovren. Kembali ke Alisson, klaim "terlampau mahal" tampaknya tak akan dipusingkan Liverpool dan Klopp. Intinya adalah, Liverpool sejak dulu memang butuh pemain yang lebih baik. Itu sudah ditunjukkan Klopp meski bertahap, semisal mendatangkan Salah untuk memperbaiki lini serang, merekrut Alex-Oxlade Chamberlain guna menambah daya dobrak dari tengah, dan tentunya Van Dijk yang berfungsi memberikan ketebalan di area pertahanan.

Masuknya Alisson sudah barang tentu merupakan cara Klopp memperbaiki kurangnya kualitas di bawah mistar gawang. Simon Mignolet dan Loris Karius harus bersaing memperebutkan tempat pertama musim lalu. Ujung-ujungnya, keduanya dinilai masih memiliki banyak kelemahan, seperti Karius yang melakukan dua blunder fatal di final Liga Champions kontra Real Madrid.

Ketika Klopp datang ke Anfield tiga tahun lalu, kondisi klub masih labil. Pada musim pertamanya, ia hanya sanggup membawa Liverpool finis di tangga ke-8, kalah bersaing dengan Southampton dan West Ham United. Sulit tentunya untuk merayu pemain-pemain top seperti yang dilakukan oleh Man United dan pesaing lainnya di Liga Primer Inggris.

Salah satu cara agar bisa mendapatkan pemain-pemain incaran dan sesuai kebutuhan klub adalah dengan transfer besar-besaran. Hasilnya, dua musim berikutnya, Klopp mengantar Liverpool dua kali ke posisi empat besar. Lebih jauh, performa impresif klub membuat mereka lebih mudah menarik pemain bintang. Sebab sejarah mentereng saja tak cukup.

Liverpool, fan, dan Klopp tinggal menutup kuping saja setiap kali ada pihak yang mengungkit perihal nyinyiran Klopp kepada Man United ketika memboyong Pogba ke Old Trafford. Sebab, yang penting menang.

Video: Timnas U-19 Ditargetkan Lolos ke Final Piala Asia 2018
 



(FIR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id