Pekerja sosial di panti rehabilitasi PSMP Handayani menggelar munggahan Ramadan bersama warga panti - ex keluarga simpatisan ISIS, Selasa, 15 Mei 2018. (Medcom/Abas)
Pekerja sosial di panti rehabilitasi PSMP Handayani menggelar munggahan Ramadan bersama warga panti - ex keluarga simpatisan ISIS, Selasa, 15 Mei 2018. (Medcom/Abas)

Mengawal Surga Keluarga Radikal

Medcom Files Memburu Mimpi Penebar Teror
Dhaifurrakhman Abas • 18 Mei 2018 22:38
“Kami lelah, capai, tiada pula beristirahat. Tapi kami ikhlas, dan mereka harus segera direhabilitasi,” keluh Kepala Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani, Neneng Heryani, diBambu Apus, Jakarta Timur, Selasa, 15 Mei 2018.
 
Siang itu, kebetulan PSMP Handayani sedang menggelar munggahan menyambut Ramadan. Neneng sertakaryawan PSMP lainnya tampak sibuk mengarahi warga panti menuju sebuah aula besar.
 
Tak ada yang dibedakan. Tua-muda dan anak-anak, semua duduk bersila, kemudian makan bersama.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Panti rehabilitasi ini sudah berdiri sejak 1957, diinisiasi oleh Departemen Sosial RI. Kalaitu, panti ini diperuntukan sebagai camp untuk merangkul anak-anak tuna sosial dan anak-anakyang berhadapan dengan hukum. Di sini, mereka diberikan program pendidikan dan latihan kerja, sebelum nantinya dikembalikanke tengah masyarakat.
 
Saat ini, PSMP Handayani berada di bawah Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal RehabilitasiSosial Kementerian Sosial RI.
 
Belakangan, pada 2017, PSMP ditunjuk oleh negara sebagai rujukan penitipan ratusan Warga NegaraIndonesia yang dideportasi oleh pemerintah Turki.
 
Saat itu, penyidik dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri menghubungi PSMPHandayani. Penyidik menjelaskan, mereka dideportasi karena diduga mencoba bermigrasi ke Suriahdan bergabung dengan Kelompok teroris ISIS.
 
Tak hanya orang dewasa, para deportan ini juga terdiri dari anak-anak. “Mereka ada sekitar 176 orang. Terdiri dari anak-anak dan dewasa. Tapi mereka ini sudah adaniat ke Suriah,” ucap Neneng.
 

Mengawal Surga Keluarga Radikal
Suasana muka area panti rehabilitasi sosial diBambu Apus, Jakarta Timur. (Medcom/Abas)
 

'Putar otak'
 
Setelah acara kelar, Neneng mengajak kami berbincang di kantor PSMP Handayani. Dari aula, kamimengendarai sepeda motor menuju lokasi kantor.
 
Pemandangan di sini cukup asri. Pepohonan rindang serta gedung-gedung terihat rancak berdiri.Kebanyakan bangunan berwarna hijau dan sebagian lagi berornamen batu-bata merah.
 
“Ini luasnya 10 Hektar. Ada beberapa panti di sini. Nah, untuk PSMP Handayani sendiri, kamikedapatan lahan seluas 4,5 hektar,” kata Kasubag TU PSMP Handayani, Adi, yang ikut mendampingikami menuju lokasi kantor.
 
Sesampainya di kantor, Neneng tampak siap bercerita panjang lebar ihwal ratusan WNI yangdirujuk oleh Densus 88 ke PSMP Handayani.
 
Menurutnya, saat itu penyidik mengaku tak bisa membuktikan bahwa para deportan tersebutterlibat dengan ISIS. Namun mesti dipantau dan direhabilitasi, tentu dengan metodederadikalisasi.
 
Kondisi ini membuat Neneng mesti putar otak mencari solusi. Disatu sisi, PSMP Handayani sudahkelebihan beban menampung anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Namun di sisi lain,pihaknya tak boleh menolak permintaan rehabilitasi tersebut.
 
Apalagi, deportan itu terdiri dari orang dewasa, yang tak seharusnya ditempatkan di PSMPHandayani. Sehingga metode rehabilitasi mesti disiapkan oleh jajarannya matang-matang.
 
“Kami menerima dewasa karena mereka dan anak-anak ini berkeluarga. Maka sesuai undang-undangnomor 35 tahun 2016, anak itu tidak boleh dipisahkan dengan keluarganya. Jadi kalau ada anaknyadi sini, maka kedua orangtuanya di sini,” ujar Neneng.
 
Agar tak membeludak, sekaligus tidak mengganggu proses rehabilitasi terhadap anak-anak lain,Neneng membagi 176 deportan melalui enam angkatan.
 
“Setiap angkatan diberikan metode deradikalisasi selama masing-masing satu bulan. Setelahnya,mereka siap untuk dikembalikan kepada masyarakat,” imbuhnya.
 

Mengawal Surga Keluarga Radikal
Kepala Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani, Neneng Heryani. (Medcom/Abas)
 

Pesona Suriah, menolak Pancasila
 
Meskipun tak menjelaskan secara gamblang, dengan alasan menjaga kerahasiaan, Nenengmenceritakan motivasi para deportan menuju Suriah. Mereka ingin bergabung dengan al-Dawla al-Islamiya al-Iraq al-Syam.
 
“Mereka meyakini Suriah sebagai negeri Syam. Dimana dalam keyakinan mereka, negeri Syam adalahsebaik-baiknya tempat untuk mengakhiri hidup sampai akhir zaman,” bebernya.
 
Seruan menyambangi Suriah tersebut berawal dari informasi yang didapatkan para deportan melaluiinternet dan layanan pesan Telegram.
 
Bahkan, sebagian dari mereka mengaku terpedaya dengan iming-iming ajakan ke negeri Syam itu; kesehatan dan pendidikan gratis, dan lain-lain. Ternyata, jauh panggang dari api.
 
“Ada juga yang mengaku mengikut suami yang sudah terlebih dahulu berada di sana (Suriah). Yangjelas mereka mengaku ingin berjihad,” kata Neneng.
 
Sayang, angan-angan tersebut melayang saat hendak menunggu jemputan dari Turki ke Suriah.Otoritas Turki keburu menangkap mereka dan memulangkannya ke Indonesia.
 

Mengawal Surga Keluarga Radikal
Salah satu bangunan tempat rehabilitasi deportan WNI dari Turki, yang diduga akan bergabung dengan ISIS di Suriah, di PSMP Handayani. (Medcom/Abas)
 

Selama di PSMP Handayani, ratusan deportan ditangani melalui pendekatan personal dan mentoringdari pekerja sosial. Dan, sudah tentu disuguhi pemahaman ideologi Pancasila.
 
Dari sinilah terlihat tingkat paparan radikal yang berbeda-beda dari setiap deportan. Saatdiberikan materi kewarganegaraan, sebagian besar dari deportan menolaknya.
 
Menurut Neneng, penolakan itu terjadi lantaran mereka menganggap pancasila merupakan ajarankafir. Menerima pancasila sama saja dengan meruntuhkan akidah.

Bahkan, hal itu berlanjut sampai tahap akhir program deradikalisasi. Mereka tetap menolakmenandatangani dua pernyataan yang diujikan oleh PSMP Handayani.


Pertama, menandatangani pengakuan untuk mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Kedua, menandatangi pengakuan terhadap Pancasila sebagai dasar negara, serta Undang-UndangDasar 1945.
 
“Mereka sangat menolak. Bahkan ada satu keluarga yang sampai seharian kita tunggu untuk maumenandatangani statement yang kita berikan di atas materai,” ujar Neneng.
 
Alhasil, hingga berakhirnya program tersebut, tidak semua deportan berhasil dideradikalisasi.Beberapa diantaranya bahkan mengaku masih ingin melanjutkan mimpi berkunjung ke Suriah.
 
“Paham mereka enggak mau hilang ya. Tapi beruntung sampai saat ini, mereka tidak melakukan apa-apa,” tukasnya.
 
***
 
Serangan teror di Surabaya pekan lalu membuka tabir tidak terkawalnya keluarga simpatisan ISIS. Termasuk di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Bom-bom tersebut diledakan oleh 3 keluarga yang berbeda dan juga melibatkan anak-anak mereka.
 
Sebut saja pelaku peledakan tiga gereja, Dita Oepriarto, yang tak segan melibatkan keempat anaknya. Pula bomber Polrestabes Surabaya, Tri Murtiono, beraksi bersama ketiga anaknya.
 
Namun, pemilik bom yang meledak di Rusunawa Wonocolo, Anton Ferdiantono, tampaknya gagal mendoktrin salah satu putranya. AR (15), anak kedua Anton, mengaku tak sejalan dengan pemikiran sang Ayah.
 
Dia mengaku bahwa Anton memaksanya berpikir radikal. Termasuk dipaksa menonton film-film beraroma jihad. Bahkan, Anton juga mengajarkan anak-anaknya merakit bom.
 
Soal pendidikan, Anton juga berupaya tak menyekolahkan anak-anaknya. Tapi AR membangkang. Akibatnya AR mendapatkan perlakuan kasih sayang yang berbeda dari sang Ayah, dibanding anak-anaknya yang lain.
 
"Mereka ini didoktrin, ditontonin film-film jihad, video-video, termasuk cara merakit bom," ujar Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin di Mapolda Jatim, Selasa (15/5).
 
Kini, anak-anak dari keluarga Anton, yakni AR, FP (11), dan GHA (10) berada di tangan polisi. Termasuk si bungsu yang selamat dari keluarga bomber Polrestabes Surabaya, A (8).
 
Kepolisian akan mengambil langkah pendampingan, untuk menghilangkan pengaruh radikal warisan orang tua mereka.
 
Mengawal Surga Keluarga Radikal
 
Mengawal Surga Keluarga Radikal
 
Mengawal Surga Keluarga Radikal
 

Disengagement
 
Polemik pendekatan deradikalisasi ini barangkali yang membuat pengamat terorisme, Noor HudaIsmail, tak begitu tertarik membahasnya saat dihubungi Medcom Files.
 
Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian atau lebih dikenal dengan The Institute for InternationalPeace Building ini lebih bersemangat membahas pendekatan disengagement. Meskipun deradikalisasimaupun disengagement merupakan bagian dari upaya kontra-terorisme.
 
Menurutnya, bila deradikalisasi adalah moderatisasi pemikiran, disengagement sebagai”memutus-ikatan”. Targetnya, menarik keluar pelaku radikal dari jalan kekerasan.
 
"Dengan disengagement, barangkali tidak serta-merta merubah paham radikal seseorang. Akan tetapi mengubah perilaku seseorang untuk tidak lagi menggunakan kekerasan," ujarnya.
 
Beberapa negara telah menjalankan metode tersebut, salah satunya Inggris, yang sudah menerapkan program tersebut sedari 2007. Cara militerisme dalam menumpas kelompok yang dianggap berpotensiradikal, dianggap kontra produktif.
 
Inggris menempatkan polisi lokal (polisi setempat) dan komunitas sebagai ujung tombak programini.
 
Penekanan disengagement ada pada aspek demokrasi dan negosiasi terhadap radikalisme. Singkatcerita, para radikal bisa menyuarakan pendapatnya melalui komunitas secara politik formal.Bukan lagi dengan kekerasan.
 
Barangkali, ini yang mempengaruhi mantan kombatan teroris Jamaah Islamiyah (JI) Ali Fauzi meninggalkan kelompoknya, dan menjadi proNKRI.
 
Ketika berhasil ditangkap penyidik, bukannyadiberikan "penghukuman", justru Ali mengaku mendapat perlakuan manusiawi dari kepolisian.Saat itu kondisi tubuh Ali sudah tak berdaya. Beberapa tulangnya patah lantaran disiksakepolisian Filipina.
 
Namun sesampainya di Indonesia, Ali justru mendapatkan perawatan medis dari kepolisian. Dia sempat mendapat perawatan beberapa bulan di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati hingga akhirnya sembuh setelah di rujuk ke rumah sakit lain yang lebih memadai.
 
Selama dibina delapan bulan oleh Polri, lulusan S2 Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya itu haru. Perlakuan polri kepada dirinya semakin membuka mata hati untuk benar-benar meninggalkan kelamnya kehidupan terorisme.
 
"Di sini itu titik balik, salah satu perlakuan polisi yang super soft terhadap saya, itu yang membalikkan pemikiran saya selama ini; polisi jahat. Mungkin kalau saja saat itu saya dipukul lagi, saya mungkin kumat (lagi)," ungkap Ali.

 

(COK)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif