Ketua Umum APJATEL, Jerry Siregar bersama Mulyadi (Direktur Akselerasi Infrastruktur  Digital, Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital) dan Soni Sumarsono (Ketua Dewan Pengawas APJATEL) (Foto: Medcom.id/Fany Wirda)
Ketua Umum APJATEL, Jerry Siregar bersama Mulyadi (Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital, Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital) dan Soni Sumarsono (Ketua Dewan Pengawas APJATEL) (Foto: Medcom.id/Fany Wirda)

Dampak Kenaikan Harga Material Fiber Optik terhadap Akselerasi Digitalisasi Indonesia

Muhammad Syahrul Ramadhan • 09 April 2026 16:48
Ringkasnya gini..
  • APJATEL melaporkan adanya lonjakan harga bahan baku fiber optik yang signifikan.
  • Kondisi yang berpotensi menekan laju pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional.
  • APJATEL mencatat bahwa sekitar 90% bahan baku fiber optik Indonesia masih berasal dari impor.
Jakarta: Ambisi Indonesia untuk mempercepat pemerataan akses internet di seluruh pelosok negeri kini menemui tantangan berat. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) melaporkan adanya lonjakan harga bahan baku fiber optik yang signifikan, sebuah kondisi yang berpotensi menekan laju pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional.
 
Ketua Umum APJATEL, Jerry Siregar, mengungkapkan bahwa industri saat ini sedang berhadapan dengan ketidakpastian rantai pasok global. Kenaikan harga ini dipicu oleh pemasok utama dari China serta dampak dari konflik geopolitik global yang berkepanjangan.
 
"Kita sedang menghadapi perfect storm atau badai yang sempurna. Di satu sisi, ada ketergantungan besar pada pemasok luar, dan di sisi lain, ketegangan geopolitik dunia telah mengganggu stabilitas harga serta ketersediaan material esensial secara ekstrem," jelas Jerry.

Ketergantungan Impor Capai 90%

Masalah utama yang membuat industri dalam negeri rentan adalah tingginya ketergantungan pada material luar negeri. APJATEL mencatat bahwa sekitar 90% bahan baku fiber optik Indonesia masih berasal dari impor.

"Angka impor 90 persen ini adalah alarm bagi kedaulatan digital kita. Ketika terjadi gejolak di negara asal pemasok seperti China, maka seluruh lini pembangunan infrastruktur di Indonesia akan langsung terdampak secara sistemik. Kita tidak lagi hanya bicara soal bisnis, tapi soal kerentanan fondasi digital nasional," tambah Jerry.
 
Salah satu komponen yang kini mulai langka dan mahal di pasar adalah corning, material inti dari kabel fiber optik. Kelangkaan ini terjadi karena tingginya permintaan global, mengingat bahan tersebut tidak hanya digunakan untuk jaringan internet, tetapi juga menjadi komponen penting dalam industri alat utama sistem persenjataan (alutsista).
 

Kenaikan Harga Material Pendukung

Selain material inti, kenaikan harga juga melanda material pelindung kabel atau High-Density Polyethylene (HDPE). Jerry menyebutkan bahwa di internal industri, kenaikan biaya komponen ini sudah mencapai angka 15% hingga 17%.
 
Meskipun distribusi dari China tidak sepenuhnya melewati jalur konflik seperti Selat Hormuz, APJATEL menilai adanya momentum bisnis yang dimanfaatkan pemasok global. “Secara peta global, distribusi dari China tidak harus lewat Selat Hormuz. Tapi momentum ini dimanfaatkan untuk menaikkan harga. Ini kan bisnis, mereka tentu mencari keuntungan,” ujar Jerry di Jakarta, Kamis, 9 April 2026.
 

Cakupan Jaringan Baru Mencapai 30%


Kenaikan biaya ini menjadi kabar buruk bagi pemerataan digital di Indonesia. Saat ini, total panjang jaringan fiber optik di tanah air baru mencapai sekitar 1 juta kilometer. Dari 514 kabupaten/kota dan 38 provinsi yang ada, cakupan layanan baru menyentuh angka 30%.
 
Investasi fiber optik yang sejak awal sudah memakan biaya besar kini semakin tertekan dengan naiknya harga bahan baku. Akibatnya, banyak penyelenggara jaringan yang harus melakukan penyesuaian target pembangunan secara drastis. “Bukan tidak ada pembangunan, tapi tidak dalam kondisi normal. Misalnya target 50 km per tahun, mungkin hanya bisa 10 km karena biaya bahan meningkat,” pungkas Jerry.

Mendorong Peran Pemerintah

Menghadapi situasi yang tidak normal ini, APJATEL mendorong pemerintah untuk memberikan perhatian khusus. Beberapa langkah yang diharapkan antara lain pemberian insentif guna meringankan biaya modal (CapEx) operator.
 
Selain itu yang tidak kalah penting adalah relaksasi kebijakan untuk mempermudah proses penggelaran kabel di berbagai daerah. Kemudian keberlanjutan proyek guna memastikan target konektivitas nasional tetap terjaga meski di tengah tekanan ekonomi global.
 
(Fany Wirda Putri)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA