Selama ini, pemerintah Tiongkok memang cukup sering memblokir layanan internet atau membuat sebuah layanan internet menjadi begitu lambat sehingga layanan tersebut tidak bisa digunakan. Keputusan pemerintah Tiongkok terkait WhatsApp membuat masyarakat mau tidak mau menggunakan aplikasi komunikasi lain, seperti WeChat, yang dapat dengan mudah dimonitor oleh pemerintah Tiongkok.
"Jika Anda hanya diperbolehkan untuk berkendara dengan kecepatan 1 mil per jam, Anda tidak akan mau melewati jalan itu, meski jalan itu boleh dilewati," ujar Tsui, seperti yang dikutip dari New York Times.
Pemblokiran WhatsApp ini bertepatan dengan waktu pemerintah Tiongkok mempersiapkan diri untuk mengadakan kongres nasional Partai Komunis, yang akan dimulai pada tanggal 18 Oktober mendatang.
Dalam kongres yang diadakan setiap 5 tahun itu, akan ditetapkan pemimpin partai baru yang kemudian akan menjadi presiden. Dalam pertemuan bulan depan, diperkirakan, Presiden Xi Jinping akan kembali ditetapkan menjadi presiden.
Beberapa tahun belakangan, Beijing tidak hanya memperketat penyensoran internet, misalnya dengan melarang penggunaan VPN, tapi juga menutup beberapa gereja dan menangkap sejumlah aktivis, pengacara dan penasehat HAM serta etnis minoritas.
"Masa menjelang kongres biasanya adalah waktu ketika peraturan menjadi lebih ketat dengan tujuan untuk memastikan Kongres Nasional diadakan dalam keadaan sosial yang ideal dan tidak akan terganggu," ujar Robert Lawrence Kuhn, penasehat para pemimpin dan perusahaan global Tiongkok pada BBC.
Namun, dia berkata, masih belum jelas apakah peraturan yang telah ditetapkan ini akan kembali dilonggarkan, seperti yang telah terjadi dalam beberapa kongres sebelumnya. Dia menambahkan, banyak analis yang percaya, peraturan tidak akan kembali dilonggarkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News