Ilustrasi: IBM
Ilustrasi: IBM

Didukung AI, Kedaulatan Siber Menjadi Keharusan di Asia Pasifik

Mohamad Mamduh • 27 Februari 2026 11:33
Ringkasnya gini..
  • AI memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi ancaman, merespons secara real time.
  • Di tengah lanskap ancaman ini, perusahaan didorong untuk mengadopsi strategi kedaulatan digital guna memperkuat ketahanan keamanan mereka.
  • Untuk mendukung kebutuhan tersebut, IBM memperkenalkan Sovereign Core pada Januari 2026 sebagai fondasi perangkat lunak baru.
Jakarta: Ketahanan siber di kawasan Asia Pasifik (APAC) menjadi fokus utama dalam sesi media yang diselenggarakan IBM, yang menampilkan simulasi interaktif dan live-action gamifikasi dari pakar keamanan siber Security X-Force Cyber Range. Sesi ini bertujuan membantu organisasi menguji dan meningkatkan respons insiden mereka dalam kondisi yang aman dan terkontrol.
 
Jake Paulson, Deputy Head of IBM X-Force Cyber Range, mensimulasikan skenario serangan siber, memberikan pemahaman langsung kepada media dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina tentang cara kerja pelaku kejahatan siber dan tim pertahanan. Paulson menekankan bahwa Kecerdasan Buatan (AI) secara fundamental mengubah cara pertahanan siber diperkuat.
 
Dengan meningkatkan visibilitas, kecepatan, dan presisi di seluruh siklus keamanan, AI memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi ancaman, merespons secara real time, dan tetap selangkah lebih maju di tengah lanskap ancaman yang kompleks.

Selain simulasi interaktif, sejumlah temuan penting dari IBM X-Force 2026 Threat Intelligence Index untuk Asia Pasifik juga dibagikan. Kawasan ini menyumbang 27% dari total insiden yang ditangani X-Force secara global, turun ke peringkat kedua pada tahun 2025 dari peringkat pertama pada tahun 2024.
 
Ketergantungan yang tinggi pada eksploitasi aplikasi yang dipakai publik (50%) dan penggunaan akun yang valid (30%) sebagai vektor akses awal mengindikasikan adanya kerentanan dalam infrastruktur digital kawasan tersebut. Pelaku serangan di APAC sering menggunakan malware (45%), spam (15%), tool yang terlegitimasi (15%), dan akses server (10%) sebagai tindakan utama mereka. Adapun dampak utama yang ditargetkan atau terjadi pada korban meliputi pencurian data (14%), reputasi merek (14%), dan pengumpulan kredensial (7%).
 
Sektor manufaktur terus menjadi episentrum insiden, menyumbang 68% dari total serangan di kawasan ini, dengan 65% insiden menargetkan industri manufaktur, diikuti oleh sektor keuangan dan asuransi (17%), serta transportasi (7%).
 
Di tengah lanskap ancaman ini, perusahaan didorong untuk mengadopsi strategi kedaulatan digital guna memperkuat ketahanan keamanan mereka. Kedaulatan, dalam konteks perusahaan, adalah tingkat kendali organisasi atas aset digitalnya, termasuk data, perangkat lunak, konten, dan infrastruktur digital di seluruh operasionalnya.
 
Proyeksi menunjukkan bahwa pasar cloud yang berdaulat akan tumbuh 4,5 kali lipat pada tahun 2028, dan 80% perusahaan multinasional diperkirakan akan mengadopsi strategi data yang berdaulat pada tahun 2027. Kedaulatan digital ini terdiri dari Kedaulatan Data, Kedaulatan Teknologi, dan Kedaulatan Operasional.
 
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, IBM memperkenalkan Sovereign Core pada Januari 2026 sebagai fondasi perangkat lunak baru. Solusi ini dirancang untuk memastikan data, identitas, kunci enkripsi, dan akses administratif tetap berada dalam batas yurisdiksi yang ditetapkan, memungkinkan organisasi menerapkan sistem terkelola sendiri yang aman, patuh regulasi, dan terotomatisasi guna mendukung beban kerja AI yang berdaulat.
 
Catherine Lian, General Manager dan Technology Leader IBM ASEAN, menyimpulkan, "Kedaulatan digital menjadi suatu keharusan dalam keamanan siber di seluruh Asia Tenggara. Infrastruktur berdaulat yang siap AI memberikan tingkat keamanan, kepatuhan, dan kepastian yang dibutuhkan pelaku usaha untuk berinovasi dalam skala besar."
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA