Kompetisi tahun ini diikuti oleh lebih dari 160 finalis dari berbagai negara di Asia-Pasifik, yang berhasil menyisihkan lebih dari 8.000 peserta di babak awal. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2015, inisiatif ini telah bertransformasi menjadi platform raksasa yang menarik minat lebih dari 170.000 mahasiswa dari 2.000 universitas di lebih dari 80 negara.
Sekretaris Jenderal ASEAN, Dr. Kao Kim Hourn, dalam sambutannya menekankan bahwa masa depan kawasan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi itu sendiri, tetapi oleh kualitas manusia di baliknya. "Talenta TIK bukan lagi sebuah pilihan, melainkan fondasi utama bagi daya saing, inovasi, dan pertumbuhan inklusif di seluruh kawasan ASEAN," tegasnya di hadapan para inovator muda.
Sementara itu, Peter Pan Junfeng, Vice President Huawei Asia Pacific, menyatakan bahwa para peserta adalah pemecah masalah nyata bagi masyarakat. Melalui jalur kompetisi seperti Network dan Cloud, ajang ini bukan sekadar unjuk kebolehan teknis, melainkan sarana pemberdayaan untuk mencetak pemimpin digital masa depan.
Kolaborasi antara Huawei dan ASEAN Foundation ini menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi digital kawasan yang diproyeksikan akan mencapai angka fantastis sebesar USD 2 triliun pada tahun 2030 mendatang.
Dengan berakhirnya edisi ke-10 ini, Huawei berkomitmen untuk terus menginspirasi inovasi dan mendukung generasi talenta digital berikutnya demi membangun Asia-Pasifik yang lebih cerdas dan terkoneksi sepenuhnya.
Baca Juga :
Huawei Gelar Penghargaan ICT Competition dan Teacher Summit 2025, Perkuat Talenta Digital Nasional
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News