Mbah Darsi (60) menyapu jalan di mulut Gua Jepang Kaliurang, Yogyakarta. Pekerjaan itu dilakukan saat pengunjung sepi. (Foto: Dok. Medcom.id/Arthurio Oktavianus)
Mbah Darsi (60) menyapu jalan di mulut Gua Jepang Kaliurang, Yogyakarta. Pekerjaan itu dilakukan saat pengunjung sepi. (Foto: Dok. Medcom.id/Arthurio Oktavianus)

Aneka

Penjaga Setia Gua Jepang di Yogyakarta

Rona kisah
Arthurio Oktavianus Arthadiputra • 21 Juni 2019 18:28
Setiap negara pasti memiliki situs sejarah yang menjadi penanda penting sebagai saksi bisu pernah terjadinya suatu peristiwa penting di tempat tersebut. Satu situs sejarah yang ada di Yogyakarta adalah Gua Jepang, yang berada di kawasan lereng Gunung Merapi. Satu orang yang berperan dalam menjaga dan merawat kebersihan situs sejarah tersebut adalah Mbah Darsi (60).
 

Yogyakarta: Berada di dataran tinggi Kaliurang, Gua Jepang tak sulit untuk dikunjungi. Masuk melalui pintu pos Tlogo Nirmolo, pengunjung harus sedikit ‘latihan kaki’ dengan menyusuri jalur trekking yang sudah dilengkapi dengan penunjuk arah.
 
Bila sudah sampai di gua pertama, pengunjung pasti akan bertemu dengan Mbah Darsi, yang menjaga minuman kemasan untuk dijual kepada pengunjung yang dahaga. Bila pengunjung tak membawa senter sebagai penerang saat menjelajah gua, bisa menyewa kepada Mbah Darsi dengan biaya Rp5.000.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, dagangan yang digelar ada buku mengenai erupsi Gunung Merapi dan buku tentang Almarhum Mbah Maridjan yang meninggal dunia terkena luncuran awan panas pada 26 Oktober 2010.
 
Mbah Darsi sudah melakoni kehidupan sebagai pedagang minuman sejak tahun 1980. Dia memulai dengan menjajakan minuman kemasan dengan berkeliling di kawasan wisata Kaliurang, di Tlogo Putri dan Tlogo Nirmala. Namun, sejak 2001, penduduk Desa Kaliurang ini memutuskan untuk menggelar dagangannya di mulut Gua Jepang.
 
“Saya tak hanya berjualan di sini. Saya juga harus tahu diri untuk menjaga dan merawat kebersihan lingkungan Gua Jepang,” tuturnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
 
Setiap hari Mbah Darsi berangkat dari rumahnya dengan berjalan kaki. Tepat pukul 06.00 pagi, dia sudah meninggalkan rumah untuk menuju tempat mencari rezeki. Tiba di mulut Gua Jepang sekitar pukul 07.30 Wib, dia langsung menyusun barang dagangannya.
 
Penjaga Setia Gua Jepang di Yogyakarta
(Keberadaan Mbah Darsi juga sangat membantu pengunjung yang ingin mengetahui arah lokasi dan informasi mengenai Gua Jepang Kaliurang, Yogyakarta. Foto: Dok. Medcom.id/Arthurio Oktavianus)

Merawat Gua Jepang

Agar Gua Jepang tetap bersih, Mbah Darsi selalu menyapu jalur lintasan pengunjung. Jangan kaget bila pengunjung mendengar bunyi “srek…srek…srek…” dari arah luar saat menjelajah di dalam gua, karena bunyi itu berasal dari sapu lidi yang diayunkan tangan Mbah Darsi untuk menepikan dedaunan kering yang berjatuhan.
 
Menurutnya, pekerjaan itu dilakukan saat pengunjung sedang sepi. Sehingga, barang dagangannya bisa ditinggalkan untuk menyapu. Aktivitas lain yang dilakukan oleh Mbah Darsi saat sepi pengunjung adalah dengan membaca. Buku berjudul Babad Tanah Jawa, menjadi sumber bacaan yang saat ini selalu dibawa dalam tas ranselnya.
 
“Karena berdagang di sini, saya hanya membantu petugas saja. Tidak mungkin petugas jaga yang jumlahnya tiga orang bisa mengurus semua, mulai dari pintu masuk sampai ke gua,” katanya.
 
Berkat peran serta Mbah Darsi, lingkungan sekitar gua terlihat bersih dan sangat terawat. Apalagi lokasi gua yang berada di dalam rerimbunan hutan Kaliurang dan banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, yang daun keringnya sering berjatuhan.
 
Penjaga Setia Gua Jepang di Yogyakarta
(Hutan rindang menjadi pemandangan sepanjang jalur trekking menuju Gua Jepang Kaliurang. Foto: Dok. Medcom.id/Arthurio Oktavianus)

Apa yang diberi, itu yang diterima

Meski pendapatan sehari-hari tidak menentu karena hanya mengandalkan para pengunjung yang membeli air minuman kemasan dagangannya, Mbah Darsi pasrah dan ikhlas dalam melakoni kehidupan. Ia selalu percaya bahwa apa yang sudah diberi itu yang diterima.
 
“Kalau kita berbuat baik pada alam dan sesama, kita pasti akan menerima kebaikan yang sama seperti apa yang sudah dilakukan,” katanya.
 
Itu dilakukannya dengan menanam Pilea urticaceae (salah satu suku anggota tumbuhan berbunga) di sepanjang jalur trekking dari pos masuk hingga mulut gua yang berjarak sekitar 900 meter. Tanaman tersebut sangat membantu dirinya dan pengunjung, terutama sebagai ‘warning’ saat melangkah menyusuri jalur trekking.
 
“Setiap pagi berangkat ke sini, saya menanam tumbuhan itu di tepi jalan. Selain sebagai pembatas agar pengunjung menjaga langkah jangan sampai terlalu di tepi karena jurang, tumbuhan itu juga terlihat bagus kalau dipandang,” katanya. Hal itu diamini juga oleh pengunjung asal Kalimantan Barat, Antonius (36), yang membawa serta anaknya, Bano (7), untuk menjelajah gua.
 
“Sepanjang jalur trekking terlihat rapi. Tumbuhan itu juga bisa membantu para orang tua yang membawa anak, agar tidak berjalan melewati tumbuhan tersebut saat berjalan. Karena, jurang yang ada juga sangat berbahaya bagi pengunjung, terutama anak-anak,” katanya.
 
Penjaga Setia Gua Jepang di Yogyakarta
(Pengunjung melihat barang dagangan yang dijual Mbah Darsi di mulut gua. Foto: Dok. Medcom.id/Arthurio Oktavianus)

Bisa jadi guide

Pengunjung yang ingin mengetahui dan menjelajahi gua juga bisa meminta Mbah Darsi menjadi guide. Informasi mengenai gua bisa dijelaskan oleh Mbah Darsi dengan sangat baik.
 
Menurutnya, gua yang ada berjumlah 25 unit dan merupakan peninggalan di masa penjajahan Jepang, sekitar tahun 1942-1945. Gua ini dahulu berfungsi sebagai tempat berlindung tentara Jepang dari tentara sekutu.
 
“Gua ini dikerjakan oleh orang pribumi dengan cara romusa. Banyak para pekerja yang meninggal saat mengerjakan gua-gua ini,” tuturnya.
Dari 25 unit gua, beberapa diantaranya saling terhubung dengan gua lain, ada juga gua yang berbentuk lorong sepanjang 10 meter.
 
Berdasarkan situs yang ada di Indonesia, Gua Jepang juga ditemukan di NTT, Bali, Papua, Bandung dan Jawa Timur.
 
Selain menjelajah gua, pengunjung di kompleks wisata Tlogo Nirmolo Kaliurang juga bisa menuju Bukit Plawangan, air terjun Muncar, bukit Pronojiwo dan taman bermain anak di dekat pintu masuk Tlogo Nirmolo.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif