Makam pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Batam -- MI/Sumaryanto
Makam pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Batam -- MI/Sumaryanto

Merekam Jejak `Manusia Perahu` di Pulau Galang

Rona wisata
Kesturi Haryunani • 15 Agustus 2014 17:52
medcom.id, Batam: Pada 2012, film We Were Soldier yang dibintangi Mel Gibson diputar ulang. Film ini berkisah tentang seorang perwira Amerika Serikat yang ditugaskan ke medan perang di Vietnam. Situasi terburuk saat tentara AS membantu Vietnam Selatan berperang melawan Vietnam Utara, digambarkan dengan apik dalam setiap adegannya.
 
Ada lebih dari tiga juta penduduk sipil menjadi korban tanpa tahu alasan mengapa perang Vietnam terjadi. Ketika Vietnam Selatan jatuh ke pihak Utara, suasana menjadi kacau dan tak terkontrol. Ratusan ribu penduduk menyelamatkan diri dengan perahu ke berbagai tempat di Asia Tenggara. Salah satunya adalah Pulau Galang, 50 kilometer sebelah tenggara Batam.
 
Hingga kini, sisa-sisa bekas kamp pengungsian `manusia perahu` masih bisa kita kunjungi dan menjadi saksi bisu sejarah.  Dalam area seluas sekitar 80 hektar ini, tersebar benda-benda dan bangunan-bangunan yang akan memberikan gambaran kehidupan para pengungsi dengan sejarah yang pilu ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menuju ke Lokasi
 
Untuk menuju ke kamp pengunsian `manusia perahu`, tentunya kita harus ke Batam dulu. Anda bisa menghemat waktu dengan menggunakan pesawat yang menawarkan keberangkatan di pagi hari.
 
Jika Anda menginap di pusat kota, maka Anda bisa menuju ke Pulau Galang menggunakan mobil sewaan seharga Rp400 ribu - Rp500 ribu per hari. Anda tinggal menuju arah tenggara hingga melewati Jembatan Tengku Fisabilillah. Jembatan ini merupakan jembatan pertama dari rangkaian Jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang). Strukturnya kokoh dan bentuknya ikonik, hingga menarik siapa saja untuk berfoto di bawahnya.
 
Ada enam jembatan yang harus Anda lewati sebelum tiba di Pulau Galang. Pemandangan dari atas jembatan sangat indah, begitu pula dengan hutan yang membawa Anda menuju lokasi pengungsian. Anda akan melihat sebuah gapura sederhana berbentuk perahu, yang berarti Anda sudah sampai di bekas kamp pengungsi Vietnam Pulau Galang.
 
Selain menggunakan mobil, pengunjung Pulau Galang juga bisa menggunakan Metro Trans atau angkutan umum. Tarif Metro Trans rute Jodoh - Pulau Galang hanya berkisar Rp3 ribu - Rp5 ribu (harga dapat berubah sewaktu-waktu).
 
Galang Memorial
 
Memasuki Pulau Galang, pengunjung akan disambut dengan sebuah monumen yang diberi nama Humanity Statue. Monumen berupa sosok wanita dengan kepala terkulai ini sengaja dibangun untuk mengenang Tinh Han Loai, seorang wanita yang mati bunuh diri setelah diperkosa sesama pengungsi.
 
Bangunan lainnya yang masih tersisa di bekas kamp pengungsi Viaetnam adalah rumah sakit, makam, dan penjara. Bangunan-bangunan tua tersebut seolah menggambarkan kerasnya kehidupan yang dialami pengungsi kala itu.
 
Badan Penanganan Pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membangun sekolah dan tempat peribadatan seperti wihara, mushala, serta beberapa gereja di Pulau Galang. Hingga sekarang, bangunan-bangunan tersebut masih terpelihara dengan baik.
 
Suasana sunyi di sekitar Pulau Galang seperti menegaskan, bahwa kamp ini telah lama ditinggalkan. Dulu, tanah sunyi ini sempat menjadi rumah bagi 250 ribu warga Vietnam yang selamat setelah ribuan kilometer terombang-ambing di Laut Cina Selatan.
 
Selama 20 tahun, para `manusia perahu` hidup terisolasi di Pulau Galang. Mereka sengaja diisolasi oleh pemerintah Indonesia, untuk mempermudah pengawasan sekaligus menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang banyak diderita para pengungsi.
 
Setelah tinggal selama 20 tahun, pengungsi Vietnam akhirnya diberi suaka oleh negara-negara maju. Sedangkan sebagian lainnya memilih pulang ke tanah kelahiran mereka pada 1996.
 
Perahu yang digunakan pengungsi Vietnam
 
Di sebuah sudut di Pulau Galang, pengunjung akan melihat beberapa bangkai perahu tua yang teronggok. Kapal itulah yang digunakan ribuanpengungsi Vietnam untuk mencari dan memperjuangkan kebebasan. Memang, tidak ada hal baik yang didapatkan dari sebuah peperangan. Semoga Anda bisa lebih belajar untuk menghargai kehidupan. (Anida Dyah/Traveloka)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(NIN)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif