Putri: Jika kita tidak bisa melakukan sesuatu, pilihannya adalah belajar atau melupakan saja. (Foto: Raka/Medcom.id)
Putri: Jika kita tidak bisa melakukan sesuatu, pilihannya adalah belajar atau melupakan saja. (Foto: Raka/Medcom.id)

Putri Handayani, si Penakluk Gunung-gunung Tertinggi

Rona kisah
Raka Lestari • 06 Agustus 2019 11:05
Sebagai seorang perempuan, lazimnya lebih tertarik berkarier di perkantoran atau menjadi model. Tapi Putri Handayani punya ketertarikan lain, yaitu mendaki gunung. Awalnya mendaki gunung merupakan sebuah hobi, namun dewasanya, terselip misi kemanusaian yang ingin ia tuntaskan lewat sebuah pendakian.
 
Jakarta: Ketika memasuki usia 13 tahun, tak banyak anak perempuan yang ingin mencoba tantangan. Biasanya pada seusia itu mereka lebih mementingkan merias wajahnya, karena sedang lagi masa puber.
 
Tapi tak demikian dengan Diansyah Putri Fitri Handayani yang akrab dipanggil Putri Handayani. Pada usia ke-13 tahun, ia malah harus bersahabat dengan alam liar, seperti mendaki gunung.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ya, Putri mengaku kalau pada usia 13 tahun, dia sudah mendaki beberapa gunung. Dan, ketika dia baru saja lulus dari bangku Sekolah Menengah Pertama, Putri sudah menginjakkan kakinya di dua gunung besar, Gunung Sibayak dan Gunung Merbabu.
 
“Mendaki gunung itu pertama kali dari umur 13 tahun. Waktu masih kecil kan baru menaiki gunung yang kecil-kecil saja, pas lulus SMP itu aku malah pernah mendaki Sibayak di Karo Sumatera Utara dan juga pernah ke Gunung Sinabung,” ujar Putri membuka pengalamannya kepada Medcom.id.

Sempat tak tertarik mendaki gunung

"Kalau dulu sebenarnya waktu masih kecil, yang namanya anak kecil ya kita sebenarnya cuma penasaran saja, tidak ada keinginan tertentu mau apa-apa. Jadi sebenarnya cuma coba-coba saja waktu ikut Pramuka," tutur Putri.
 
Bahkan menurut pengakuan Putri, pada awalnya ia sempat tidak tertarik mendaki gunung. Sebab kegiatan tidak membuatnya merasa nyaman, karena harus melewati jalur yang basah, becek, dan membutuhkan persiapannya yang tidak mudah. Pokoknya dia anggap itu semua ribet.
 
Namun begitu dirinya sampai ke puncak Gunung Sibayak, justru ia merasakan hal yang berbeda. Di sana, dia menemukan sesuatu yang tak pernah dia lupakan hingga saat ini.
 
“Begitu sampai di puncak Gunung Sibayak dan saya baru pertama kali melihat sunrise di atas gunung. Mungkin bagi anak umur 13 tahun tuh adalah sesuatu yang wah banget gitu kan," jelasnya.
 
Putri Handayani, si Penakluk Gunung-gunung Tertinggi
Putri saat berpose di Gunung Gede (Foto: @putri.handayani22)
 
Gunung Sibayak memiliki kawah yang bisa digunakan untuk merebus telur yang memiliki cerita yang berkesan buat Putri. Di sana ia disuruh bawa telur untuk direbus di kawah Sibayak.
 
“Untuk anak 13 tahun merebus telur tanpa api dan kompor menjadi sesuatu yang sangat keren. Jadi sejak itu aku jadi suka kegiatan-kegiatan outdoor, seperti mendaki gunung,” terang Putri yang mengaku mulai ketagihan mendaki puncak-puncak gunung.
 
Sempat tak aktif pada kegiatan alam saat memasuki SMA, kemudian daftar pengalaman Putri mendaki gunung terus bertambah. Terutama ketika ia duduk di bangku kuliah dan mengikuti kegiatan pencinta alam. Gunung Gede, Pangrango, hingga Gunung Salak pun telah masuk ke buku pengalaman mendakinya.

Vakum di kegiatan alam

Memasuki dunia kerja, Putri kembali tak begitu aktif melakukan pendakian. Bahkan alumni Fakultas Ilmu Teknik Universitas Indonesia (FTUI) ini benar-benar vakum dari kegiatan alam tersebut.
 
"Kebetulan aku bekerja di bidang pengeboran minyak lepas pantai, setelah lulus itu benar-benar insinyur lapangan yang kerjanya 80 persen di tengah laut. Jadi tidak sempat kemana-mana banget,” keluh Putri.
 
Putri Handayani, si Penakluk Gunung-gunung Tertinggi
Bergerak di bidang pengeboran minyak lepas pantai, membuatnya vakum dari pendakian (Foto: @putri.handayani22)
 
Barulah setelah empat tahun bekerja di perusahaan di Qatar tersebut, dirinya dipindah ke Amerika. Di Negeri Paman Sam, banyak faktor mendukung yang membuatnya comeback ke habitatnya.
 
Saat dikirim ke Amerika, kebetulan waktu Putri lebih banyak di kantor, bukan di lapangan. Awalnya ia melakukan indoor wall climbing dulu. Kemudian menjajal ke beberapa spot di Amerika yang bagus dan modern.
 
"Karena kita, at least aku sebagai orang Indonesia kalau mendengar Amerika tuh identiknya dengan  New York, Times Square, gitu kan. Tapi di sana bukan hanya itu, ada sejumlah taman nasional di Amerika. Seperti Rocky National Park, Yellowstone, Grand Canyon, dan masih banyak lagi,” ujar Putri melanjutkan kisahnya.

Membagi waktu

Beruntungnya Putri bekerja di Amerika. Sebab dengan itu, ia tak kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dengan kegiatannya di outdoor. Bahkan dalam sesibuk apa pun pekerjaannya, Putri masih bisa melakukan kegiatan sosial.
 
“Sempat merasa susah sih, tapi manageable. Kalau menurut aku sih gini, you make your choice. Jadi ya dijalanin saja," jelas Putri.
 
Putri mengaku sempat keteteran, misalnya saja dengan banyaknya orang yang mengirimkan direct message ke akun Instagram pribadinya. Beruntung, pekerjaannya punya waktu libur yang cukup panjang, sehingga ia bisa tetap melakukan semuanya.
 
"Kalau dihitung per tahunnya itu aku rata-rata dapat libur jauh lebih banyak daripada orang-orang yang kerja biasa di kantor. Alhamdulillah sekarang lagi dapat kerja baru lagi di perusahaan yang beda dan jadwalnya jauh lebih bagus. Empat minggu kerja di Qatar, empat minggu libur di sini. Jadi sebenarnya satu tahun itu kerja full time-nya cuma enam bulan,” jelas Putri.

Mendaki gunung sambil beramal

Putri mengaku, saat menginjak dewasa ia merasakan mendaki gunung bukan sekadar ingin mencapai puncak. Ada sisi lain di mana ia melihatnya terdapat filosofi di setiap gunung.
 
“Naik gunung itu kan banyak filosofinya lah, banyak kerja kerasnya, tapi at the same time, sense of achievement-nya juga ada. Dan menurut aku untuk mental dan pembentukan karakter sangat baik karena yang namanya hidup tidak akan nyaman terus kan sama kaya naik gunung,” Putri menekankan.
 
Kini, tak sekadar mendaki yang ia ingin cari. Ada sebuah kegiatan sosial yang membuatnya tergerak meski kaitannya masih dalam urusan mendaki.
 
Putri Handayani, si Penakluk Gunung-gunung Tertinggi
Jelajah Putri, mendaki sekaligus edukasi. (Foto: @putri.handayani22)
 
Kegiatan tersebut diberi nama Jelajah Putri, di mana ia melakukan kampanye pendidikan yang akan mendukung sekolah alam dan kamp pembelajaran tentang Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM) kepada anak-anak pedalaman. Terutama untuk perempuan. Proyek tersebut rencananya akan dilakukan di Papua.
 
Dan memang kebetulan ketika bekerja di Dubai, Putri juga aktif di organisasi yang bernama Gulf for Good (GFG) yang merupakan Non-Government Organization (NGO) yang selalu mengadakan berbagai charity. Jadi kalau misalnya mereka ke Kilimanjaro, mereka akan raising untuk Amani Children, mereka ke Himalaya mereka fund raising untuk Himalayan children.

Cita-cita

Putri mengaku, sebelum mewujudkan sebuah proyek kemanusiaan tersebut, ia lebih dulu menyelesaikan misi Seven Summit.
 
"Proyek Jelajah Putri itu awalnya muncul saat bekerja di Dubai, cuma masalahnya waktu itu aku memulai proyeknya itu bersama para perempuan dari berbagai negara. Jadi waktu itu kami ada tujuh perempuan dari tujuh negara yang memang memiliki cita-cita untuk bisa Seven Summit, dan memang kita maunya setiap kita datang kita bikin sesuatu. Ada cost yang dibawa," tutur Putri.
 
Putri Handayani, si Penakluk Gunung-gunung Tertinggi
Aconcagua, salah satu gunung yang telah ditaklukkan Putri. (Foto: @putri.handayani22)
 
Seven Summit juga merupakan cita-cita Putri demi meraih gelar The Explorers Grand Slam dan menjadi perempuan pertama asal Indonesia yang meraih gelar ini. Predikat yang akan didapat ketika seseorang berhasil mendaki puncak-puncak tertinggi di tujuh benua dan menjelajah Kutub Utara dan Kutub Selatan.
 
Sejauh ini perempuan berusia 35 tahun tersebut baru mendaki empat dari tujuh gunung yang dituju. Di antaranya Kilimanjaro (gunung teringgi di Afrika), Carstenz Pyramid (Papua), Elbrus (gunung tertinggi di Eropa), dan Aconcagua (gunung tertinggi yang terletak di Amerika Selatan).

Tak ada diskriminasi

Menjadi salah satu pendaki perempuan yang ada di Indonesia, Putri merasa bahwa tidak ada perlakuan berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Putri memandang itu semua balik lagi ke perspektif masing-masing. Ia mengaku tak pernah sekalipun merasa direndahkan.
 
"Jadi kalau misalnya perlakuan tertentu seseorang, walaupun niatnya baik tetapi kalau kita nangkapnya jelek ya jadi jelek. Sama seperti ketika kita memiliki tujuan tertentu. Kadang menurut aku sebenarnya perempuan memiliki kesempatan yang lebar, tidak ada diskriminasi tetapi kita sebagai perempuan yang membatasi diri kita sendiri," jelas Putri.
 
Menurut Putri, jika tidak bisa melakukan sesuatu, pilihannya adalah belajar atau melupakan saja. Dan yang terpenting adalah, agar mengetahui kekuatan yang dimiliki.
 
“Apalagi zaman sekarang teknologi sudah semakin berkembang. Jangan jadikan keterbatasan kita sebagai penghambat, jutsru kita harus tahu kekuatan kita di mana dan maksimalkan dalam hal itu,” tutup Putri.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif