Tarian Thousand-Hand Bodhisattva sulit dilakukan. Bayangkan yang melalukannya adalah 63 penari yang pendengarannya tak sempurna. Berikut cerita selengkapnya. (Foto: Dok. Great Big Story)
Tarian Thousand-Hand Bodhisattva sulit dilakukan. Bayangkan yang melalukannya adalah 63 penari yang pendengarannya tak sempurna. Berikut cerita selengkapnya. (Foto: Dok. Great Big Story)

Menari Tanpa Suara, Bermusik Tanpa Melihat

Rona tiongkok Tarian Thousand-Hand Bodhisattva Thousand Hand Guan Yin Dance Xiangtian Yang
Kumara Anggita • 17 Mei 2020 07:00
Jakarta: Umumnya seni berkaitan dengan panca indra. Dengan bisa mendengar, melihat, bersuara dan lain-lain seseorang akan dengan memudah memahami, mengikuti, dan pada akhirnya berkreasi.
 
Namun ternyata, yang terpenting bukanlah itu. Menjadi seniman kuncinya adalah niat. Hal ini tergambar dalam kisah penyandang cacat di Tiongkok. 
 
Dilansir dari Great Big Story tercatat pada tahun 1987, di Tiongkok telah berdiri Kelompok Pertunjukan Seni Penyandang Cacat - Thousand Hand Guan Yin di mana orang-orang yang memiliki keterbatasan melakukan berbagai pertunjukan seperti sandiwara, opera, musik, dan tari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, pertunjukan yang paling populer dan terkenal di tempat ini adalah Thousand Hands Dance. Tarian yang begitu sulit.
 
Menariknya, orang yang menarikan ini tidak bisa mendengar. Mereka menggunakan getaran suara untuk menafsirkan irama dan musiknya sendiri juga dimainkan oleh pemusik yang tak bisa melihat.
 
Xiangtian Yang, Konduktor Bahasa Isyarat bercerita bagaimana dia melatih para penari berbakat ini.
 
Menari Tanpa Suara, Bermusik Tanpa Melihat
(Tarian Thousand-Hand Bodhisattva begitu indah dan membutuhkan ketepatan gerakan. Kekurangan pendengaran mereka tak membuat mereka menyerah. Foto: Dok. Great Big Story)
 
“Jika saya bertepuk tangan, mereka tidak dapat mendengar suara-suara itu tetapi melalui ketukan drum, kaki mereka dapat merasakan dan mengikuti getaran suara yang datang melalui lantai. Ini membantu menafsirkan ketukan,” ungkapnya.
 
Tentunya ini bukanlah hal mudah, dibutuhkan lebih banyak tenaga dan waktu agar semua bisa mengikutinya namun lama-lama para penari ini bisa belajar lebih mandiri. “Awalnya mereka hanya menatap saya, dan itu memengaruhi proses belajar,” ungkapnya.
 
“Kami ingin para penari tidak terlalu bergantung pada arah kami. Dengan menggabungkan ritme ke dalam gerakan mereka, mereka belajar menari dengan lancar,” tambahnya.

Kebersamaan membuat usaha ini berhasil

Tarian ini tentunya dilakukan oleh banyak penari dan dibutuhkan kekompakan agar bisa berhasil. Untuk membangun kekompakan ini, para penari hampir melakukan segala aktivitas bersama.
 
“Kami makan bersama, tidur bersama, berlatih bersama dan hidup bersama. Tidak ada bahasa lisan untuk menggambarkan hubungan kita. Kami menumbuhkan koneksi ini selama waktu yang lama kami habiskan bersama. Dan kita semua berada di jalur yang sama,” katanya.
 
Menari Tanpa Suara, Bermusik Tanpa Melihat
(Para pemain musiknya juga mengandalkan napas para penari dalam performance. Sehingga dua hal pengelihatan dan pendengaran yang kurang sempurna tetap bisa tampil dengan sempurna. Foto: Dok. Great Big Story)

Bagaimana dengan musiknya?

Ketika para penari yang tak bisa mendengar bisa mengikuti arahan dengan getaran, para pemusik yang tak mampu melihat ini justru menggantungkan pada pendengarannya. Mereka mendengar napas pemain lain.
 
“Kami mendengarkan pola pernapasan satu sama lain selama transisi yang sulit, mengimbangi dengan cara yang tidak dapat dilihat oleh audiens,” jelasnya.
 
Cara ini bekerja dengan baik. Mereka sudah memberikan banyak pertunjukan manca negara. Musik yang mereka tampilkan senilai kualitasnya dengan para pemusik lain yang bisa melihat.
 
“Setiap tahun kami tampil di AS, Jerman, Prancis, dan banyak negara lainnya. Tahun ini adalah negara ke-100 yang akan kita tuju,” jelasnya.
 
Dia berharap kerja keras mereka untuk mengejar apa yang dicintai bisa diikuti oleh orang lain. Walaupun jalannya tak semudah itu, dengan kemauan semua mungkin terjadi. 
 
“Saya berharap bahwa melalui musik dan pertunjukan kami, kami menginspirasi orang lain, baik orang cacat atau tidak, ini dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan diri dan mengejar apa yang membuat orang bahagia dan merasa penuh,” jelasnya.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif