Seorang pengunjung menikmati indahnya bentuk ornamen stalaktit dan stalakmit di Gua Gong. (Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)
Seorang pengunjung menikmati indahnya bentuk ornamen stalaktit dan stalakmit di Gua Gong. (Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)

Warna-warni Keajaiban Alam Gua Gong

Rona wisata
Arthurio Oktavianus Arthadiputra • 22 Maret 2020 15:30
Pacitan: Pesona pegunungan kapur di Indonesia memiliki keajaiban alam tersendiri yang tentu saja indah untuk dilihat. Satu keajaiban indah tersebut adalah bentukan gua yang tersembunyi di dalam pegunungan kapur, seperti yang tampak di Gua Gong.
 
Berada di Dusun Pule, Desa Bomo, Pacitan, Jawa Timur, pesona Gua Gong sudah menjelajah hingga penjuru dunia, dan menjadi destinasi utama yang harus dikunjungi para traveler saat berada di Pacitan.
 
Menyusuri lorong sepanjang 256 meter adalah keharusan, untuk menyibak keindahan Gua Gong secara menyeluruh. Stalaktit dan stalakmit yang terbentuk alami dan tersimpan di dalam gua, pastinya akan membuat Anda berdecak kagum. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bahkan, ada nama yang disematkan penduduk untuk keindahan aneka bentuk stalaktit dan stalakmit di Gua Gong. Seperti Selo Pakuan Bomo, Selo Adi Citro Buwono, Selo Bantaran Angin, Selo Citro Cipto Agung dan Selo Jengger Bumi.
 
Warna-warni Keajaiban Alam Gua Gong
(Ruangan luas dengan ornamen stalaktit dan stalakmit di Gua Gong bak istana bawah laut nan sangat indah dan artistik. Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)

Penuh warna

Terkenal dengan julukan kota 1001 gua, pemerintah Kota Pacitan sangat sadar mengelola Gua Gong sebagai objek wisata utama. Lampu warna-warni semarak menerangi dalam gua, agar pengunjung bisa menikmati panorama keajaiban alam yang tersimpan di Gua Gong.
 
Alfi, pengunjung asal Bandung, mengatakan bahwa gradasi warna lampu yang menerangi dalam gua memberikan nuansa indah tersendiri saat melihat aneka bentuk stalaktit dan stalakmit Gua Gong.
 
“Lampu penuh warna sehingga tidak monoton pada warna tertentu saja. Pengaturan lampu yang mengeluarkan cahaya selang-seling menyuguhkan gambaran stalktit dan stalakmit yang mengagumkan,” tuturnya, beberapa waktu lalu.
 
Warna-warni lampu itu diletakkan pada titik tertentu ruangan yang ada di Gua Gong. Seperti ruang Pertapaan, ruang Sendang Bidadari, ruang Kristal dan Marmer, ruang Bidadari dan ruang Batu Gong. Sesuai nama gua, ruang Batu Gong ditemukan stalakmit yang bila dipukul dengan tangan terkepal akan mengeluarkan bunyi seperti gong.
 
Warna-warni Keajaiban Alam Gua Gong
(Pengunjung di Gua Gong sangat ramai dan antusias saat menyibak pesona Gua Gong dengan bantuan penerangan lampu senter. Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)

Bagai istana bawah laut

Gua Gong termasuk dalam kawasan Gunung Sewu Unesco Global Geopark dengan luasan 1.300 km persegi mulai dari wilayah Gunung Kidul (DIY), Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur). 
 
Ornamen stalaktit dan stalakmit di Gua Gong ada yang berbentuk bulatan dan gerigi. Menurut Santi, pengunjung asal Jakarta, bentuk tersebut sangat unik dan menarik. Stalaktit yang menjuntai, seperti pilar-pilar ruangan nan indah.
 
“Kita bagai sedang berada di istana bawah laut yang tak dipenuhi air. Stalaktit dan stalakmitnya sangat indah sekali, seperti tiang istana nan artistik,” katanya.
 
Keberadaan Gua Gong yang indah juga sangat membantu penduduk setempat. Tak hanya memberikan sumber pendapatan daerah, Gua Gong juga memiliki mata air yang digunakan penduduk setempat untuk kebutuhan sehari-hari.
 
Warna-warni Keajaiban Alam Gua Gong
(Pendaran cahaya lampu yang warna-warni menjadi penerang dalam Gua Gong. Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)

Sumber air

Gua Gong disibak sekitar tahun 1930-an oleh Mbah Noyosemito dan Mbah Joyorejo. Peran dua warga lokal ini sangat besar saat menyusuri gua di masa awal ditemukan. Semula, tujuan Mbah Noyo dan Mbah Joyo hanya untuk mencari sumber air akibat daerahnya mengalami kekeringan dan sulit air akibat kemarau berkepanjangan.
 
Ety Teguh Setyawati, Pramuwisata Gua Gong, mengatakan kemudian gua mulai ditelusuri kembali oleh delapan warga di tahun 1995, yang dilanjutkan dengan pengelolaan Gua Gong sebagai destinasi wisata oleh pemerintah daerah.
 
“Sejak dulu air dalam gua sangat bening dan digunakan oleh penduduk. Bahkan, stalaktit dan stalakmitnya ketika itu tampak putih bersih. Kalau sekarang ada yang tampak kusam dan hitam,” katanya.
 
Kusam dan hitamnya stalaktit dan stalakmit dimungkinkan karena padatnya pengunjung yang datang untuk menikmati ornamen dalam gua. Apalagi ada pengunjung yang dengan sengaja memukul stalaktit dan stalakmit yang mengeluarkan bunyi gong.
 
Dalam sehari, ada sekitar 2500 pengunjung yang datang. Terutama pada saat weekend. Sehingga, pengunjung masuk berjubel-jubel ke dalam gua untuk menyusuri keindahan panoramanya. 
 
(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif