Ketika kapal terbalik, korban harus melakukan apa? Berikut informasinya. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Ketika kapal terbalik, korban harus melakukan apa? Berikut informasinya. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Tips Menyelamatkan Diri di Tengah Laut

Rona tips wisata
Sunnaholomi Halakrispen • 26 Januari 2020 16:00
Jakarta: Berdasarkan informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat, Kapal Pinisi wisata mengalami kecelakaan di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa, 21 Januari 2020 lalu dan seluruh penumpang dan anak buah kapal (ABK) selamat.
 
Gelombang tinggi dinilai menjadi penyebab kapal tersebut terbalik. Kapal tengah mengangkut sejumlah wartawan Istana Kepresidenan yang berasal dari Jakarta usai meliput kegiatan Presiden Joko Widodo. 
 
Berkaitan dengan peristiwa tersebut, ketika kapal terbalik, korban harus melakukan apa? Pertanyaan itu kerap kali muncul saat ada keluarga yang mengalami kecelakaan di laut. Apalagi, jika kita sendiri yang mengalami kondisi menakutkan itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelum kepanikan dan ketakutan itu mengelilingi pikiran Anda, tenangkan pikiran terlebih dahulu. Lalu, persiapkan sejumlah hal dasar yang perlu Anda perhatikan dan ingat selalu.
 
"Untuk orang yang mau naik kapal, saran saya harus tahu, pertama, di mana tempat penyimpanan pelampung atau lifeboat atau sekoci," ujar Letda Laut Kesehatan, dr. Rizya Mahesa selaku okter TNI AL yang sedang berdinas di Pangkalan TNI AL Gorontalo kepada Medcom.id di Jakarta.
 
Tips Menyelamatkan Diri di Tengah Laut
(Jika terjadi kapal terbalik sebaiknya Anda tenang lalu ambil pelampung. Ikuti instruksi agar tetap aman. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
 
Apabila telah memahami posisi tempat pelampung disimpan, nantinya Anda dapat mengambil ancang-ancang atau persiapan ketika terjadinya kondisi dadurat. Contohnya, saat kapal yang Anda tumpangi mengalami kecelakaan. Anda telah mengetahui harus lari ke mana, tujuannya telah terarah.
 
"Tahu juga titik berkumpul yang biasanya ada di tiap kapal. Jadi saat ada keadaan darurat, kita tidak serta merta lompat sendiri. Tapi menunggu instruksi dari awak kapal di titik kumpul," tuturnya.
 
Ia menekankan untuk tetap tenang, agar korban dapat memikirkan dengan jernih tentang hal apa saja yang harus dilakukan. Tarik napas dalam-dalam, pikirkan mau ke mana, baru kita take action.
 
"Selanjutnya, temukan pelampung. Enggak usah cari secoki atau lifeboat. Biasanya manifest jumlah penumpang dan pelampung itu sudah disesuaikan, jadi pasti satu orang dapat satu. Setelah itu, menuju ke tempat titik berkumpul," paparnya.
 
Saat berada di titik kumpul dan menemukan keberadaan awal kapal selaku petugas, Anda akan diarahkan untuk naik sekocil, lifeboat, atau melompat dari kapal. Turuti saja semua arahan dari petugas tersebut. 
 
"Kalau disuruh melompat, jangan ragu-ragu, karena jika ragu risikonya kita melompat tidak menjauhi badan kapal. Kita bisa terbentur badan kapal, atau di bawahnya ada penumpang lain jadi kita menindihnya," jelasnya.
 
Dr. Rizya menekankan, lompatlah dengan berani. Sebab, walaupun Anda tidak bisa berenang, ketika telah memakai pelampung dengan tepat pasti tubuh Anda akan mengapung. Cara ini sangat penting untuk diterapkan.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif