Warung Selasa, restoran terkecil di Queens, New York, menyajikan masakan khas Indonesia. (Foto: Dok. Instagram Warung Selasa/@warungselasa)
Warung Selasa, restoran terkecil di Queens, New York, menyajikan masakan khas Indonesia. (Foto: Dok. Instagram Warung Selasa/@warungselasa)

Warung Selasa, Restoran Terkecil di New York yang Sajikan Masakan Khas Indonesia

Rona amerika Warung Selasa Dewi Tjahjadi restoran terkecil New York
Raka Lestari • 20 Mei 2020 09:00
Jakarta: Warung Selasa merupakan salah satu restoran terkecil yang bisa Anda temukan di New York. Warung Selasa ini menjual makanan dan produk khas Indonesia. Disebut restoran terkecil karena Warung Selasa ini hanya mempunyai satu meja untuk pelanggannya.
 
Restoran ini berada di dalam toko kelontong yang bernama Indo Java milik Dewi Tjahjadi. Setiap hari Selasa, toko Indo Java ini berubah menjadi restoran. Itulah mengapa restoran miliknya dinamakan Warung Selasa.
 
“Kami membuka Indo Java sejak 10 tahun yang lalu. Dan setiap Selasa, saya memasak di sini untuk para pelanggan yang datang. Kami menyebutnya Warung Selasa, yang memiliki arti warung yang dibuka hanya pada hari Selasa,” ujar Dewi seperti dikutip dari Great Big Story.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain tempat duduk yang terbatas, dapur tempat memasaknya juga sangat kecil. “Dapur kami memang sangat kecil. Kami menyebutnya dapur cinta karena hanya cukup untuk dua orang berada di dalamnya,” ujar Dewi. Akan tetapi, dapur yang mungil tersebut tidak menghentikan Dewi untuk membuat masakan khas Indonesia.
 
Warung Selasa, Restoran Terkecil di New York yang Sajikan Masakan Khas Indonesia
(Nasi gudeg yang disajikan oleh Warung Selasa. Foto: Dok. Instagram Warung Selasa/@warungselasa)

Aneka masakan khas Indonesia

Beberapa masakan yang sering dibuat oleh Dewi adalah Gudeg dan Rendang Ayam. Beberapa pelanggan dari Restoran Warung Selasa merasa sangat puas dengan masakan Dewi karena rasa masakan yang dibuat Dewi tidak berbeda dengan rasa masakan aslinya.
 
“Sebelumnya, tidak ada toko khusus Indonesia. Sangat sulit untuk menemukan bahan-bahan masakan khas Indonesia dan kami (orang Indonesia) merasa rindu dengan suasana kekeluargaan seperti yang ada di Indonesia,” tutur Dewi.
 
Akhirnya Dewi berpikir, “Kalau kita memiliki toko, orang-orang Indonesia yang ada di sekitar sini bisa mengunjungi toko ini dan kita bisa mengobrol satu sama lain dan berbicara dengan bahasa Indonesia. Itu adalah mimpi kami dan ternyata sekarang itu semua bisa terwujud,” katanya.
 
“Saya sebenarnya bukan chef profesional. Saya juga tidak memiliki latar belakang di dunia chef atau pendidikan chef sebelumnya, sehingga saya belajar memasak dari ibu saya," katanya.
 
"Di restoran, chef selalu bersembunyi di belakang dapur, tetapi saya lebih senang mengantarkan masakan langsung ke pelanggan sambil mengobrol sehingga kami bisa saling bertukar cerita,” tutup Dewi.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif