Gibran dan Selvi. (Foto:MI/Widjajadi)
Gibran dan Selvi. (Foto:MI/Widjajadi)

Gibran-Selvi Lalui Rangkaian Proses Siraman Hingga Midodareni

Rona romansa jokowi mantu
Torie Natalova • 10 Juni 2015 12:04
medcom.id, Jakarta: Gibran Rakabuming Raka dan Selvi Ananda akan menjalani serangkaian tradisi pernikahan adat Jawa mulai dari pemasangan bleketepe, siraman hingga midodareni dan akan diakhiri dengan ijab kabul dan resepsi pernikahan pada besok, Kamis 11 Juni.
 
Tradisi pernikahan adat Jawa memang harus dilalui keduanya mengingat keluarga calon pengantin berasal dari Jawa. Setelah kemarin, Selasa 9 Juni, kedua calon pengantin melalui proses tembungan atau lamaran, pagi ini Gibran dan Selvi melakukan tradisi siraman di kediaman masing-masing.
 
Pemasangan bleketepe
Sebelum memulai siraman, Presiden Jokowi dan ibu Iriana juga pihak keluarga Selvi memasang bleketepe (anyaman janur) di depan rumah masing-masing. Bleketepe dipasang di tarub (dekorasi tumbuhan) yang terdiri dari pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa, dan daun beringin. Tarub memiliki arti agar pasangan pengantin akan hodup baik dan bahagia dimanapun juga saling cinta dan merawat keluarga mereka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bleketepe sendiri adalah daun kelapa yang masih hijau dan dianyam. Bleketepe dipasang sebagai tanda seseorang akan mengadakan sebuah hajatan
 
Gibran-Selvi Lalui Rangkaian Proses Siraman Hingga Midodareni
(Bleketepe dan tarub)
 
Siraman
Siraman sendiri secara harfiah berarti mandi. Masyarakat Jawa biasanya menggunakan air siraman dari tujuh sumber air. Kenapa harus tujuh sumber? 
 
Tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu, yang berarti pitulungan atau pertolongan. Calon mempelai nantinya diharapkan mendapatkan pertolongan dalam mengarungi rumah tangganya.
 
Adapun tujuh sumber air yang akan dipakai sebagai air siraman dalam pernikahan Gibran dan Selvi berasal dari air Masjid Agung Surakarta, Mloyokusuman, Keraton Kasunanan, Keraton Mangkunegaran, Masjid Agung Mangkunegaran, air zam-zam dan air dari rumah mempelai.
 
Pihak keluarga putri mengirimkan sebaskom air kepada pihak keluarga pengantin putra. Air itu disebut air suci perwitosari yang berarti sari kehidupan yakni air yang dicampur dengan beberapa macam bunga.
 
Dodol dawet
Upacara ini dilakukan setelah prosesi siraman. Penjual dawet adalah ibu calon pengantin putri yang yang dipayungi oleh bapak calon pengantin putri. Pembelinya adalah para tamu dengan uang pecahan genting (kreweng). Upacara ini mengandung harapan agar nanti pada saat upacara panggih dan resepsi banyak tamu dan rezeki yang datang.
 
Gibran-Selvi Lalui Rangkaian Proses Siraman Hingga Midodareni
(Ayah dan ibu Selvi, Didit Suprijadi & Sri Partini dodol dawet)
 
Sungkeman
Calon pengantin melakukan sungkeman kepada ayah dan ibunya. Pada acara sungkeman ini menunjukkan tanda bakti seorang anak kepada orang tua dan sekaligus menjadi ajang mencurahkan rasa terima kasih dan permohonan maaf. Acara ini menandakan bahwa orang tua memberikan restu kepada anaknya untuk menikah. Biasanya saat sungkeman ini adalah saat yang paling mengharukan.
 
Gibran-Selvi Lalui Rangkaian Proses Siraman Hingga Midodareni
(Selvi Ananda akan jalani midodareni/foto:Phytag Kurniati)
 
Ngerik
Setelah siraman dan sungkeman, calon pengantin wanita akan menjalani proses ngerik dimana rambut-rambut kecil di bagian depan wajah akan dikerik oleh pemaes. Rambut pengantin akan diasapi dengan ratus/dupa wangi dan perias atau pemaes mulai merias calon pengantin. 
 
Midodareni
Upacara midodareni dilakukan malam ini sebelum prosesi ijab kabul. Malam nanti, keluarga beserta Gibran akan berkunjung ke rumah Selvi sekaligus melakukan serah-serahan atau paningsetan dimana keluarga calon pengantin pria memberikan beberapa barang kepada orang tua calon pengantin wanita.
 
Saat midodareni, calon mempelai putri setelah dirias di kamar pelaminan, nampak cantik bagai bidadari, dewi dari kahyangan. Sesuai kepercayaan kuni, malam itu mempelai wanita ditemani beberapa dewi cantik dari kahyangan. Malam itu, dia harus tinggal di kamar dan tidak boleh tidur dari pukul 18.00 sampai tengah malam. Biasanya, saat itu beberapa sesepuh atau orang yang tua menemani dan memberikan nasihat-nasihat.
 
Keluarga calon mempelai pria yang wanita boleh menengok calon mempelai wanita. Sesuai adat, di kamar pelaminan ada sesaji khusus untuk upacara midodareni seperti 11 macam makanan dan barang, selain itu ada tujuh macam barang lainnya.
 
Menurut adat perkawinan Surakarta, sewaktu rombongan tamu pamitan pulang, pihak tuan rumah akan memberikan angsul-angsulan, berupa buah-buahan, kue dan seperangkat pakaian kepada pengantin pria yang akan dipakai besok saat ijab kabul.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(LOV)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif