Menurut dia, hal ini terjadi karena para wanita cenderung mengekspresikan perasaannya saat menghadapi tekanan. Berbeda dengan pria yang lebih suka memendam masalah.
Data rekam medis Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara pada 2015 menunjukkan, ada 68 persen atau sekitar 9.400 orang pria yang mengalami masalah kejiwaan. Sementara wanita yang mengalami masalah kejiwaan berjumlah 32 persen atau sebanyak 4.499 orang.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Dari kasus gangguan jiwa yang saya pelajari, pengidapnya memang didominasi oleh pria. Untuk wanita, secara umum masih lebih memiliki daya tahan terhadap penyakit kejiwaan itu," jelas Irna kepada Metrotvnews.com, di Medan, Kamis (18/2/2016).
Irna menilai, tekanan kejiwaan memang cenderung menimpa pria daripada wanita.
"Wanita bisa curhat atau menangis untuk meredakan tekanan yang dihadapinya. Kalau wanita, rentannya lebih kepada depresi. Itu pun umumnya hanya berlangsung di saat menstruasi, usai melahirkan dan monopause. Wanita sangat jarang ada yang sampai mengalami gangguan jiwa," kata Irna, menambahkan.
Berpikir jernih dan rasional diperlukan agar tekanan yang dirasakan tidak memicu gangguan kejiwaan. Manajemen emosi yang tepat bisa menghindarkan diri pelarian yang tidak baik, seperti mengonsumsi narkoba atau alkohol.
"Kemampuan tersebut harus dilatih sejak kanak-kanak," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(DEV)
