Selain usia dan jenis kelamin, stroke dipengaruhi riwayat penyakit yang diderita. Stroke acap kali mengintai penderita hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol.
"Penyakit yang disebutkan di atas, dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan stroke. Misalnya, penderita hipertensi umumnya akan menderita stroke setelah lima tahun, jika ditambah diabetes, maka kemungkinan mengalami stroke pada empat tahun ke depan semakin tinggi," jelas Dr H. Salim Harris , SpS (K), Ketua 1 Perhimpunan Dokter Spesialis Syaraf Indonesia (PERDOSSI) dalam acara edukasi kesehatan yang berlangsung di Jakarta, Senin (25/7/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Di sisi lain, ada satu penyakit yang bisa menyebabkan stroke dalam waktu singkat, yakni Fibrilasi Atrium (FA).
Penyakit ini dikenal juga dengan kelainan irama jantung, berupa detak jantung yang tak normal sehingga memicu iregularitas laju jantung, menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Hal ini kemudian menyebabkan penggumpalan darah yang dapat mengarah pada stroke.
Penderita FA biasanya merasa cepat lelah, irama jantung tak teratur, sesak napas, berdebar-debar, rasa nyeri, ada rasa tertekan di area dada, pusing, mata berkunang-kunang, intensitas buang air kecil menjadi sering, hingga tak sadarkan diri.
"Hari ini kena FA, besok bisa terkena stroke. Dalam waktu kurang dari 48 jam bisa kena," ujar Salim.
Berdasarkan Riskesdas 2007, angka kematian karena stroke mencapai 26,9 persen. Dari sekian banyak ksus stroke, 57,9 persen di antaranya telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan.
Mengapa Irama Jantung Bisa Tak Normal?
Prevalansi pasien fibrilasi atrium (FA) diprediksi semakin meningkat dalam 50 tahun mendatang.
FA adalah kelainan irama jantung dimana sumber listrik jantung yang seharusnya hanya satu menjadi sangat banyak, yaitu antara 450-600 sumber di serambi kiri, sehingga mengeluarkan impuls yang tak beraturan.
Penderita FA berisiko lima kali lebih tinggi berakhir pada stroke.
"Jika gumpalan cukup besar, maka bisa terjadi kecacatan parah," ujar Dr dr Yoga Yuniadi, SpJP (K), Ketua Panitia Atrial Fibrillation Campaign, dalam kesempatan sama.
Selain stroke, FA juga dapat menyebabkan gagal jantung karena kontraksi otot-otot jantung menjadi tidak sinkron, yang dalam jangka waktu panjang membuat pompa jantung menjadi melemah, kemudian diikuti gagal jantung dan kegagalan fungsi organ lainnya.
"Pasien yang mengalami gagal jantung memiliki peningkatan risiko kematian sebesar 50 persen dalam tiga tahun," tambah Yoga.
Penderita FA memiliki risiko mengalami serangan jantung sebesar tiga kali lipat dibanding mereka yang tidak menderita FA.
Irama yang tidak beraturan menyebabkan status pembekuan darah di seluruh tubuh meningkat, dan menyebabkan serangan jantung jika terjadi penyempitan di pembuluh koroner.
Ada dua jenis FA, yaitu Lone FA (FA sorangan) yang tidak jelas penyebabnya (sering dialami oleh kelompok usia muda atau karena faktor genetik) meskipun tak memiliki kelainan struktural pada jantung, dan FA yang berkaitan dengan berbagai kebiasaan hidup dan penyakit (hipertensi, diabetes, kebiasaan merokok, dan stres).
"Sekitar 20-40 penderita hipertensi terkena FA," papar Yoga.
Pencegahan
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk mengatasi fibrilasi atrium (FA), ada dua jenis pencegahan, yaitu primer dan sekunder.
"Pencegahan primer biasanya dilakukan sebelum terkena stroke secara patogenesis (dilihat faktor risiko) oleh kardiologi. Sementara pencegahan sekunder berfokus pada mencegah kambuhnya stroke," jelas Salim.
Pertama, konsumsilah makanan sehat rendah lemak jenuh, lemak trans, serta garam. Misalnya, buah atau sayuran, biji-bijian yang kaya serat, ikan (dua kali dalam seminggu), dan kacang-kacangan.
Disarankan juga untuk mengonsumsi susu rendah lemak, daging unggas, serta mengurangi asupan minuman manis dan daging merah.
Olahraga juga memegang peran penting dalam mengurangi risiko FA. Misalnya, jalan cepat selama 2,5 jam, jogging, dan berenang selama 1,5 jam.
Tanpa olahraga, risiko terserang penyakit kardiovaskular, terutama penyakit jantung dan stroke, dapat meningkat hingga 51 persen.
Kebiasaan merokok, baik secara aktif maupun pasif sebaiknya juga dihindari karena berdasarkan studi, perokok pasif 30 persen lebih berisiko terkena penyakit kardiovaskular.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(DEV)
