Eksposur kekerasan dapat merugikan perkembangan emosi dan mental pada anak. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Eksposur kekerasan dapat merugikan perkembangan emosi dan mental pada anak. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Atasi Trauma pada Anak dan Remaja Setelah Melihat Kekerasan

Rona psikologi anak Wiranto Diserang
Yatin Suleha, Sunnaholomi Halakrispen • 10 Oktober 2019 15:08
Jakarta: Kejadian yang sangat membuat syok terjadi hari ini, Kamis, 10 Oktober 2019 siang, di mana adanya upaya penusukan pada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Bapak Wiranto di Pandeglang, Banten.
 
Kejadian di siang hari tersebut terjadi di sebuah lapangan, di mana banyak berkumpul orang termasuk juga anak-anak sekolah dasar.
 
Dalam Theconversation, Mark I. Singer, selaku profesor kesejahteraan anak dan keluarga, dari Case Western Reserve University menerangkan dalam artikelnya yang berjudul "Here’s how witnessing violence harms children’s mental health" menyebutkan, eksposur kekerasan dapat merugikan perkembangan emosi dan mental pada anak yang masih muda serta remaja.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Anak-anak di usia tersebut belum bisa secara efektif memproses apa yang mereka lihat dan dengar. Ini mungkin karena sebagian fakta bahwa kekerasan kronis dapat memengaruhi bagian otak mereka," terang Singer.

Trauma pada anak

Trauma bisa terjadi kapan pun dan di mana saja. Bahkan tanpa diduga, kejadian bisa menjadi trauma dan membekas hingga waktu yang lama.
 
Peristiwa tak terduga saat di masa kecil misalnya, terbenam dalam benak hingga dewasa. Tak menutup kemungkinan, setiap orang berpotensi memiliki itu.
 
Prof. Singer menerangkan bahwa peran keluarga sangat penting. Keluarga perlu tahu di mana anak berada-jangan sampai orang tua tidak tahu anaknya di mana.
 
Penting juga orang tua tahu anaknya bermain dengan siapa dan tetap mendukung hal yang baik bagi anak, sama halnya yang dibutuhkan pada anak remaja.
 
Dalam hal trauma, Roslina Verauli, M.Psi, Psi. selaku Psikolog Anak dari Rumah Sakit Pondok Indah dalam kesempatan lain mengatakan soal trauma pada anak, terlebih dahulu harus dipahami apa saja yang bisa memicu trauma itu datang.
 
Orang tua yang anaknya terdampak pada taruma bisa mendekatkan diri pada anak.
 
Ia menerangkan, ajak anak cerita dulu tentang apa yang dia rasakan. Lakukan secara perlahan dan dekatkan diri Anda ke anak, bisa dengan mengajak anak bercerita.
 
"Orang tua harus tahu apa yang dirasakan anak, apa yang bisa orang tua lakukan untuk membuat perasaan dia jauh lebih baik," ucap Vera.
 
Senada dengan Vera, psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung juga mengatakan pastikan anak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tua.
 
"Di usia 7-12 tahun, awasilah lingkungan pergaulannya agar anak berada di lingkungan yang memberikan contoh perilaku yang baik," pungkas Efnie.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif