Ilustrasi. (Foto: MI/Arya Manggala)
Ilustrasi. (Foto: MI/Arya Manggala)

Apakah Anak Stunting Selalu Identik dengan Kemiskinan?

Rona stunting
Raka Lestari • 30 Juli 2020 15:07
Jakarta: Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting di Indonesia mulai turun dari 37% (Riskesdas 2013) menjadi 30,8%. Meski angka stunting mulai turun, tetap saja ada 3 dari 10 balita Indonesia menderita stunting. Stunting juga biasanya diidentikkan dengan kemiskinan. Namun, apakah hal tersebut benar?
 
“Stunting sebenarnya bisa terjadi pada semua status ekonomi, tetapi memang porsi terbanyak pada kelompok yang berada pada kelompok miskin. Stunting juga tergantung pada akses makanan dan sekitar 30 persen tergantung pada perilaku dari orang tua,” ujar Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, Pakar Nutrisi, pada acara diskusi daring Peran Komunikasi Perubahan Perilaku dalam Pencegahan Stunting, Rabu, 29 Juli 2020. 
 
Widodo Suhartoyo, Senior Technical and Liasion Adviser Early Childhood Education and Development dari Tanoto Foundation juga menambahkan, angka terbanyak dari stunting terdapat pada kelompok miskin tetapi tidak menutup kemungkinan untuk kelompok menengah ke atas juga bisa terkena stunting. Hal ini karena masalah stunting tidak hanya masalah gizi saja tapi juga pola asuh dan juga pola makan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Jadi, korelasi antara stunting dengan kemiskinan mungkin karena adanya kesulitan untuk mendapatkan sumber makanan yang bergizi, dan lain sebagainya. Tidak semua yang mengalami stunting itu miskin dan stunting tidak selalu karena miskin,” tambah Widodo. 
 
Rita juga menambahkan bahwa, stunting adalah kondisi yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis secara akumulatif. "Bukanlah kasus akut, melainkan keadaan yang terjadi sedikit demi sedikit serta terjadi secara akumulatif,” katanya. 
 
Ia menyayangkan ada banyak perilaku selama 1000 hari pertama kehidupan yang meningkatkan kerentanan terjadinya stunting. Misalnya, masih banyak ibu hamil yang tidak paham soal stunting, dan tidak meyakini bahwa stunting bisa terjadi akibat pola makan yang salah, sehingga ia tidak melakukan pencegahan sejak awal.
 
Salah satu pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting, harus dilakukan jauh sebelum kehamilan bahkan ketika wanita yang akan hamil tersebut masih remaja.
 
“Kualitas gizi remaja akan menentukan kualitas saat hamil kelak. Namun masih banyak permasalahan gizi remaja yang belum teratasi. Misalnya anemia, dan kurang energi kronis (KEK). Ditambah lagi kondisi sekarang, di mana remaja sangat akrab dengan konsumsi GGL (gula, garam, lemak) yang berlebihan, dan pola hidup sedenter,” tutup Rita.
 

 

(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif