Ilustrasi-BBC
Ilustrasi-BBC

Apa itu Wabah Bubonik yang Ada di Tiongkok?

Rona Wabah Bubonik
Kumara Anggita • 06 Juli 2020 14:00
Jakarta: Wabah pes atau sampar (plague) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia pestis, kembali terdengar lagi. Terdapat satu kasus wabah bubonik atau dikenal dengan Black Death, kerap diasosiasikan dengan penyakit pes di sebuah kota di wilayah Mongolia.
 
Dilansir dari BBC, kasus ini pertama kali dilaporkan pada Sabtu pekan lalu di sebuah rumah sakit di Banner Tengah Urad, di Kota Bayannur. Saat ini pihak berwenang di Tiongkok telah meningkatkan tindakan pencegahan.
 
Menurut perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Ulaanbaatar, Ibu Kota Mongolia, penyebaran wabah ini diduga dari marmut. Dikatakan, masyarakat lokal menganggap daging dan ginjal marmut sebagai obat tradisional. Padahal marmut di sini dikenal sebagai salah satu pembawa bakteri, dan sering diasosiasikan dengan wabah bubonik.

Wabah bubonik

Mengacu pada penjelasan WHO, wabah bubonik yang kerap diasosiasikan dengan penyakit pes adalah bentuk wabah yang paling umum, dan disebabkan oleh gigitan kutu atau hewan yang terinfeksi. Ini bisa tikus, tupai, atau kelinci.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Wabah bacillus, Y. pestis, masuk di gigitan dan bergerak melalui sistem limfatik ke kelenjar getah bening terdekat, di mana ia mereplikasi dirinya sendiri.
 
Kelenjar getah bening kemudian menjadi meradang, tegang dan nyeri, dan disebut 'bubo'. Pada tahap lanjut infeksi, kelenjar getah bening yang meradang dapat berubah menjadi luka terbuka penuh dengan nanah.
 
Penularan penyakit pes dari manusia ke manusia jarang terjadi. Wabah pes dapat berkembang dan menyebar ke paru-paru, yang merupakan jenis wabah yang lebih parah yang disebut wabah pneumonia.
 
Wabah ini juga dikenal lewat ciri-ciri pembengkakan di kelenjar getah bening. Namun sulit diidentifikasi di fase awal. Biasanya gejala baru muncul tiga hingga tujuh hari usai terinfeksi.
 
Meski wabah bubonik patut diwaspadai, sejumlah pakar menilai penyakit tersebut tidak akan sampai memicu epidemi atau pandemi.
 
"Tidak seperti di abad ke-14, saat ini kita sudah memahami penularan penyakit ini," kata Dr Shanti Kappagoda, seorang ahli penyakit menular dari Stanford Health Care.
 
"Kita sudah tahu cara mencegahnya. Kita juga sudah mampu mengobati pasien terinfeksi dengan antibiotik yang efektif," pungkasnya.
 
Melansir Healthline, jika infeksi tidak segera diobati, bakteri dapat menyebar dalam aliran darah dan menyebabkan sepsis atau wabah septikemia. Jika bakteri menginfeksi paru-paru, itu dapat menyebabkan pneumonia atau wabah pneumonia.
 
Menurut WHO, tanpa pengobatan, penyakit ini dapat menyebabkan kematian hingga 60 persen. Tetapi selama Anda tidak menyentuh binatang yang terinfeksi kuman pes, kemungkinan Anda terkena wabah, sangatlah rendah.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(FIR)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif