"Saat terjadi serangan, kebanyakan penderita menyemprotkan inhaler sekali saja. Padahal, inhaler bisa diulang 3-4 kali selang beberapa menit," jelas Sr. Ratnawati, MCH, SpP(K), PhD, Spesialis Paru dan Pernapasan dari RS Siloam Asri.
Selain cepat, inhaler juga diklaim sebagai obat asma dengan efek samping yang minim dan banyak digunakan. "Dosis satu semprot inhaler 40 kali lebih kecil dari dosis obat oral yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek meredakan serangan asma. Lagipula, inhaler menjadi pilihan karena tidak semua orang bisa mengabsorpsi obat oral," paparnya.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Inhaler termasuk golongan obat pelega. Di samping itu, penderita juga harus mengonsumsi obat pengontrol sebagai terapi asma.
"Obat pelega sifatnya dikonsumsi saat terjadi serangan saja, sementara obat pengontrol dikonsumsi setiap hari secara rutin untuk mengurangi terjadi kekambuhan dan keparahan derajat asma," imbuh Ratna.
Hal lainnya, ditambahkan Ratna, pasien asma dianjurkan untuk selalu memonitor kondisinya dengan catatan harian. Pasien dapat mencatat keadaan jalan napas pada pagi dan malam hari.
Ratna menekankan kepada pasien asma supaya patuh pada pengobatan untuk kualitas hidup yang lebih baik. Sebab, seringkali ketidakefektifan pengobatan disebabkan oleh faktor pasien itu sendiri.
"Misalnya, seringkali pasien meremehkan keparahan suatu penyakit, termakan mitos-mitos efek samping pengobatan dokter dan masih banyak lagi," tukasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(LOV)
