Benarkah Tidur di Siang Hari Tingkatkan Risiko Alzheimer?

Sri Yanti Nainggolan 10 September 2018 13:36 WIB
alzheimer
Benarkah Tidur di Siang Hari Tingkatkan Risiko Alzheimer?
Apakah Anda kerap tidur atau mengantuk di siang hari? Ternyata, kebiasaan tersebut dapat memicu penyakit degeneratif. (Foto: Kinga Cichewicz/Unsplash.com)
Jakarta: Apakah Anda kerap tidur atau mengantuk di siang hari? Ternyata, kebiasaan tersebut dapat memicu penyakit degeneratif. 

Sebuah analisis jangka panjang yang ditulis oleh Sudhakar Jha melalui artikel yang berjudul "Sleeping during the day might be giving you Alzheimer’s disease" menunjukkan bahwa mereka mengantuk lebih dari tiga kali sehari lebih berisiko terkena Alzheimer dibandingkan mereka yang bugar di siang hari. 

"Studi tersebut menemukan bahwa mereka yang tidur di siang hari memiliki simpanan otak beta amyloid, protein yang menyebabkan penyakit Alzheimer, bertahun-tahun kemudian," sebut artikel lagi.


Selain itu, kualitas tidur yang buruk dapat mendorong perkembangan demensia, di mana tidur malam cukup adalah salah satu cara untuk mencegah munculnya Alzheimer.

"Faktor-faktor seperti diet, olahraga, dan aktivitas kognitif telah secara luas diakui sebagai target potensial yang penting untuk pencegahan penyakit Alzheimer. Tetapi kurang tidur dapat memicunya, meskipun bisa berubah," tukas peneliti utama Adam P. Spira.

"Jika tidur terganggu berkontribusi terhadap penyakit Alzheimer, kita mungkin dapat mengobati pasien dengan masalah tidur untuk menghindari hasil negatif ini," tambahnya. 

Penelitian tersebut menggunakan data dari Baltimore Longitudinal Study of Aging (BLSA), studi jangka panjang yang dimulai oleh NIA pada tahun 1958, yang mengikuti kesehatan ribuan relawan saat mereka bertambah tua. 


(Sebuah analisis jangka panjang yang ditulis oleh Sudhakar Jha melalui artikel yang berjudul "Sleeping during the day might be giving you Alzheimer’s disease" menunjukkan bahwa mereka mengantuk lebih dari tiga kali sehari lebih berisiko terkena Alzheimer dibandingkan mereka yang bugar di siang hari. Foto: Gregory Pappas/Unsplash.com)

Sebagai bagian dari ujian berkala studi, relawan mengisi kuesioner antara tahun 1991 dan 2000 yang menanyakan pertanyaan sederhana terkait dengan pola tidur mereka. Subkelompok relawan BLSA juga mulai menerima penilaian gambar saraf pada tahun 1994. 

(Baca juga: Alzheimer Bisa Dideteksi dari Sensitivitas Indra Penciuman)

Mulai tahun 2005, beberapa relawan menerima Positron Emission Tomography (PET) scan menggunakan senyawa Pittsburgh B (PiB), senyawa radioaktif yang dapat membantu mengidentifikasi plak beta-amiloid di jaringan saraf. 

Para peneliti menemukan bahwa ada 123 relawan yang menjawab pertanyaan sebelumnya dan melakukan PET scan dengan PiB rata-rata hampir 16 tahun kemudian. 

Mereka kemudian menganalisis data untuk melihat apakah ada korelasi antara peserta yang melaporkan mengantuk di siang hari atau tidur siang dan apakah mereka mendapat skor positif untuk deposisi beta-amiloid di otak mereka.

Hasilnya, relawan yang mengantuk di siang hari sekitar tiga kali lebih mungkin memiliki deposisi beta-amyloid dibandingkan mereka yang tidak merasakan hal serupa. Setelah menyesuaikan faktor demografi seperti usia dan jenis kelamin, risiko masih 2,75 kali lebih tinggi pada mereka yang mengantuk di siang hari.

"Belum ada obat untuk penyakit Alzheimer, jadi kami harus melakukan yang terbaik untuk mencegahnya. Memprioritaskan tidur dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mencegah atau memperlambat kondisi ini," pungkas Dr Spira. 





(TIN)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id