"Nyeri ini menjadi pengalaman sensoris yang tidak menyenangkan karena kerusakan jaringan atau aktual kerusakan jaringan (Aktual: kerusakan jaringan yang sudah terjadi dan mengakibatkan rasa nyeri yang tidak bisa di toleransi sehingga di butuhkan penangan). Tiap orang memiliki rasa nyeri yang berbeda-beda, tergantung latar belakang riwayat penyakit dan lain sebagainya," kata Mahmud dalam salah satu acara di hotel kawasan Kota Yogyakarta pada Rabu (7/7/17).
Ia mengungkapkan di RSUP DR. Sardjito belum lama membuka klinik nyeri untuk menangani pasien yang memiliki rasa nyeri dari berbagai macam latar belakang penyakit.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Menurutnya, rasa nyeri bisa ditangani dengan melakukan intervensi dengan terapi radiofrekuensi. Melalui alat itu, kemudian menyalurkan termalfarma dengan alat penuntun menuju saraf yang terasa nyeri.
.jpg)
(Mahmud, dokter spesialis anestesi RSUP DR. Sardjito Yogyakarta. Foto: Dok. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)
(Baca juga: Tak Selalu Kanker, Ada 7 Penyebab Nyeri pada Payudara)
Menurutnya, ada sejumlah pasien yang sudah mencoba melakukan hal itu, seperti kanker pankreas dan sakit gigi. "Terapi yang dilakukan untuk menangani pusat nyeri yang dialami," kata penanggung jawab klinik nyeri RSUP DR. Sardjito ini.
Direktur Utama RSUP DR. Sardjito, M. Syafak Hanung menilai dampak terapi tersebut cukup baik bagi pasien. Sebab, rasa nyeri yang menyebabkan penurunan produktivitas seseorang menurun bisa berangsur tertangani.
Meskipun, hilangnya rasa nyeri itu bertahan bervariasi, dari tiga bulan, enam bulan, hingga satu tahun serta dengan mengonsumsi obat, "setidaknya, orang yang divonis kehidupannya sampai sekian lama, misalnya, tidak merasakan nyeri yang berkepanjangan," ungkapnya.
Syafak Hanung menyatakan rasa nyeri biasanya menjadi keluhan utama atau sertaan penyakit lain. Pasien yang merasakan nyeri di Klinik RSUP DR. Sardjito ditangai dari berbagai dokter spesialis, seperti ortopedi, neurologi, anestesi, rehap medik hingga bedah saraf.
Ia mengklaim klinik nyeri tersebut menjadi yang pertama di DIY. "Di rumah sakit lain pasien yang mengalami rasa nyeri ditangani secara parsial atau umum. Kini pasien tidak merasa nyeri lagi karena diberikan obatnya," kata Syafak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
