Dalam studi yang dipublikasikan pada jurnal Science Advances, para peneliti mengamati perubahan pada jaringan lemak dan otot pada 15 pria muda sehat menanggapi kualitas tidur yang buruk.
Penulis studi Dr Jonathan Cedernaes mengatakan, lemak dan otot merespons kurang tidur dengan cara yang berlawanan. Tubuh meningkatkan kapasitasnya untuk penyimpanan lemak. Sementara jaringan otot menunjukkan tanda-tanda meningkatnya kerusakan.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Belum jelas seberapa cepat perubahan lemak dan otot ini terjadi ketika tidur terganggu, atau bagaimana mereka dapat memengaruhi metabolisme jika kurang tidur terjadi dalam jangka waktu yang lebih lama daripada satu malam yang diamati dalam penelitian," kata Cedernaes dikutip dari Livescience.
Dalam penelitian yang dilakukan, peneliti meminta peserta untuk tidur dalam waktu normal, selama 8,5 jam pada hari pertama. Selanjutnya, peserta diminta terjaga semalaman untuk mensimulasikan respons tubuh untuk bekerja atau pergi tanpa tidur.
(Baca juga: 3 Langkah Agar Lebih Mudah Tidur)

(Penulis studi Dr Jonathan Cedernaes mengatakan, lemak dan otot merespons kurang tidur dengan cara yang berlawanan. Tubuh meningkatkan kapasitasnya untuk penyimpanan lemak. Sementara jaringan otot menunjukkan tanda-tanda meningkatnya kerusakan. Foto: Kirill Balobanov/Unsplash.com)
"Dalam skenario ini, lampu di ruang peserta disimpan sepanjang malam dan harus tetap di tempat tidur mereka dan tetap terjaga selama 8,5 jam. Beberapa minggu kemudian, para peserta diminta kembali ke lab selama dua malam untuk mengulangi prosedur yang sama," ungkap Cedernaes.
Ketika para peneliti menganalisis sampel jaringan lemak dan otot peserta yang tidak tidur semalaman, mereka melihat perubahan dalam ekspresi gen dan tingkat protein. Hal itu memberikan peningkatan kerusakan otot skelet dan kapasitas untuk menahan lemak tubuh.
Salah satu mekanisme yang mendorong perubahan yang diamati para peneliti adalah fluktuasi kadar hormon, termasuk kortisol, hormon pertumbuhan, dan testosteron.
Cedernaes menyebutkan, perubahan itu membantu menjelaskan hubungan antara perubahan ritme sirkadian, peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas.
"Perubahan tersebut terjadi pada orang yang melakukan kerja shift atau mereka yang mengalami gangguan tidur kronis," ujar dia.
Sementara itu, Frank Scheer, seorang neuroscientist dan direktur Program Chronobiology Medis di Brigham and Women's Hospital di Boston, memuji teknik analisis komprehensif yang digunakan dalam penelitian ini. Menurutnya, hal itu memberikan wawasan baru terhadap efek tidur terbatas pada massa otot dan lemak.
"Para peneliti menemukan perubahan pada gen yang mempenaruhi jam sirkadian di otot dan lemak, serta perubahan spesifik jaringan pada jalur metabolisme," kata Scheer.
Meskipun begitu, Scheer mencatat bahwa penelitian itu memiliki keterbatasan. Salah satunya objek penelitian yang masih kecil dan hanya difokuskan pada jenis kelamin pria.
"Temuan ini juga perlu dikonfirmasi pada wanita dan pada orang-orang dari berbagai usia dan ras, serta pada individu obesitas dan diabetes," kata Scheer. Teknik analitik serupa juga perlu dilakukan pada orang-orang setelah mereka mengalami beberapa malam pembatasan tidur," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
