Studi: Wanita Lebih Mudah Merasa Jijik Dibandingkan Pria

Sri Yanti Nainggolan 06 Juni 2018 06:00 WIB
psikologistudi kesehatan
Studi: Wanita Lebih Mudah Merasa Jijik Dibandingkan Pria
Sebuah studi menemukan bahwa wanita lebih mudah merasa jijik dibandingkan pria pada hal-hal yang mendasar. (Foto: Sam Manns/Unsplash.com)
Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa wanita lebih mudah merasa jijik dibandingkan pria pada hal-hal yang mendasar. 

Para peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine menyurvei lebih dari 2.500 orang secara daring, dan menanyakan tingkat kejijikan mereka pada 75 skenario dari yang 'tidak jijik' sampai pada yang 'jijik dalam tahap ekstrem'. 

Mereka mengidentifikasi enam kategori umum jijik dan menemukan bahwa wanita bereaksi terhadap masing-masing dengan tingkat kejijikan yang lebih tinggi daripada pria.


Beberapa diantaranya berkaitan dengan kebersihan yang buruk, seperti bau badan dan toilet yang tidak disiram; kontaminasi hewan; makanan yang sudah kedaluwarsa dan perilaku seksual yang berisiko.

Penulis utama Val Curtis mengungkapkan bahwa skenario tersebut memprovokasi rasa jijik karena kecenderungan leluhur untuk menghindari apa yang diyakini dapat menyebabkan infeksi.


(Para peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine menyurvei lebih dari 2.500 orang secara daring, dan menanyakan tingkat kejijikan mereka pada 75 skenario dari yang 'tidak jijik' sampai pada yang 'jijik dalam tahap ekstrem'. Foto: Drop the Label Movement/Unsplash.com)

Menurutnya, rasa jijik adalah sistem di otak yang menyebabkan kita menolak dan menghindari hal-hal yang membuat kita sakit sejak dari zaman dahulu (mungkin juga sejak leluhur kita ada).

"Jadi kita cenderung untuk menghindari hal-hal seperti beberapa makanan, lesi kulit, hubungan seks dengan orang-orang yang tidak senonoh, juga dengan orang-orang dengan penampilan aneh, termasuk pada kebersihan yang buruk."

(Baca juga: Studi: Ibu yang Berpikiran Terbuka Membuat Anak Lebih Kreatif)

"Di masa lalu ini mungkin menandakan infeksi. Tentu saja, tak semua seperti itu."

Misalnya, secara historis, bersentuhan dengan makanan kedaluwarsa mungkin menyebabkan kolera sedangkan menghadapi orang dengan kebersihan yang buruk bisa saja menularkan penyakit berbahaya seperti lepra. Sementara, seks tak aman dapat menyebabkan sifilis.

Dari enam kategori umum, luka yang menjadi nanah dianggap yang paling menjijikkan, disusul dengan kurangnya kebersihan.

Curtis menjelaskan bahwa sangat penting untuk memahami apa yang menyebabkan rasa jijik dari perspektif emosional dan kesehatan masyarakat, dengan alasan bahwa hal itu dapat mengarah pada pengurangan penyakit.


(Menurutnya, rasa jijik adalah sistem di otak yang menyebabkan kita menolak dan menghindari hal-hal yang membuat kita sakit sejak dari zaman dahulu (mungkin juga sejak leluhur kita ada). Foto: Priscilla Du Preez/Unsplash.com)

"Kita perlu memahami bagaimana kita menanggapi ancaman infeksi sehingga kita dapat membuat orang tetap sehat. Misalnya, menunjukkan kejijikan dalam pesan kesehatan masyarakat adalah salah satu strategi untuk membuat orang-orang mencuci tangan mereka."

Sedangkan untuk disparitas dalam hal gender, Curtis menjelaskan bahwa wanita bisa lebih merasa jijik karena terkait akan ancaman kesehatan pada dirinya serta anak-anaknya.

Laki-laki dapat melakukan hal serupa tetapi mereka tak masalah untuk mengambil risiko dan tidak merasa jijik dengan hal-hal tersebut daripada pasangan mereka yang melahirkan anak.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Philosophical Transactions B milik Royal Society, tersebut juga menyebutkan bahwa penampilan atipikal, dengan kelainan bentuk wajah dan kondisi kulit, membuat beberapa partisipan merasa sangat jijik.






(TIN)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360