Fulki, Penyitas Diabetes Cilik yang Mandiri

Sri Yanti Nainggolan 01 November 2018 12:55 WIB
diabetes pada anak
Fulki, Penyitas Diabetes Cilik yang Mandiri
Acara temu media Anak Juga Bisa Kena Diabetes pada Kamis 31 Oktober 2018. (Foto: Dok. Medcom.id/Sri Yanti Nainggolan)
Jakarta: Memiliki keluarga tanpa riwayat diabetes, ternyata tak membuat Fulki Baharuddin Prihandoko (12) terlepas dari risiko diabetes. Bahkan, ia didiagnosa terkena diabetes melitus (DM) tipe 1 sejak 2015, saat kelas 4 SD.

Dalam temu media Anak Juga Bisa Kena Diabetes pada Kamis 31 Oktober 2018, bocah yang biasa disapa Uki tersebut mengungkapkan ia mengalami beberapa gejala diabetes.

"Saya merasa suka ngompol di malam hari, mudah haus, rambut rontok, lemas, dan berat badan drastis," ia memulai cerita.


Ia mengalami penurunan berat badan cukup signifikan, yaitu dari 45 kg menjadi 36 kg dalam waktu singkat. Perubahan itu pun dirasakan sang ibu, Aisyah Rahma (43).

"Saat itu saya lihat dia kurusan. Awalnya saya pikir karena banyak aktivitas, pulang sore. Sementara, ia ngompol karena memang banyak minum sebelum tidur, bisa satu liter," terang Aisyah pada kesempatan yang sama.

Selain itu, hal lain yang disadari Aisyah adalah Uki sering kali lemas, terutama saat berangkat sekolah. Lalu, ia melihat banyak semut di kamar mandi.

(Baca juga: Kebiasaan Ini Bantu Cegah Diabetes pada Anak)

Akhirnya, setelah beberapa kali periksa ke dokter, orang tua Uki meminta pemeriksaan gula darah, yang tak dilakukan para tenaga profesional.

Ternyata, kadar gula darah Uki adalah 750. Normalnya, kadar gula darah berada di angka 200 setelah makan, dan 126 saat berpuasa. Sementara, jika belum ada asupan yang masuk, angka baiknya berada di bawah 100.

"Saat itu, kita mau pulang dari rumah sakit. Langsung ditelepon dokter dan Uki opname selama seminggu," kata Aisyah. Setelah ditangani dokter spesialis penyakit dalam untuk diabetes dewasa, Uki kemudian diawasi oleh dokter pediatrik diabetes untuk pengobatan selanjutnya.

Beruntung, Uki tak mengalami koma meskipun kadar gula darah sangat tinggi saat itu. Dalam kebanyakan kasus, DM pada anak ditemukan ketika anak sudah dalam keadaan koma.

Saat mengetahui ia terkena DM, Uki mengaku merasa biasa saja karena ia memang belum mendapat informasi terkait penyakit tersebut. Ia mulai ketakutan ketika tahu bagaimana cara insulin dimasukkan, yaitu lewat suntikan.

"Tapi ternyata jarumnya kecil, jadi saya tak takut."

Sejak saat itu, Uki pun belajar untuk mengobati diri secara mandiri. Ia bahkan sudah terbiasa menyuntikkan insulin pada diri sendiri, setelah diajarkan oleh dokter dan ibunya.

Dalam sehari, Uki menyuntikkan insulin sekitar 5-6 kali di area yang berbeda-beda. Bagian perut, lengan, dan paha baik di kiri maupun kanan. Pergantian tersebut dilakukan agar insulin tidak tertahan pada satu area tubuh saja.

Setiap hari, Uki membawa 'bekal' sendiri yang terdiri dari beberapa suntikan insulin, alat cek gula darah, baterai, alcohol swipe, buku catatan yang selalu dibawa saat kontrol, termometer, dan jarum ganti.

"Saya juga selalu membawakan permen, jaga-jaga kalau dia kena hipoglikemia," tambah Aisyah, yang juga menyisipkan gula diabetes dalam kantong tersebut.

Di sekolah, Uki mengaku tak mengalami masalah terkait DM yang dideritanya. Ia masih bisa beraktivitas dengan normal. Bahkan, teman-temannya memberikan dukungan pada siswi kelas VII SMP Al azhar Jakarta tersebut.

"Mereka ikut membantu mencatat kadar gula darah dan merapikan."

Sementara, Aisyah mengaku memberitahu pihak sekolah terkait DM yang diderita Uki untuk bisa bekerja sama dalam menjaga anak ketignya tersebut.

"Pihak sekolah baik, ibu-ibu teman Uki juga. Kalau sedang main di tempat mereka, mereka tanya dulu ke saya jenis makan apa yang Uki bisa makan. Saya sampai merasa tak enak."





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id