Meskipun biasanya digambarkan sebagai denging di telinga, hal itu bisa sangat bervariasi, beberapa orang merasakan ada suara berdegup di telinganya, dan beberapa orang lainnya merasa adanya suara desisan di telinganya.
Ini adalah kondisi yang tidak pernah kita duga akan terjadi pada kita, terutama jika kita tidak pernah memiliki masalah pendengaran sebelumnya atau tidak memiliki kecenderungan genetik mengalami tinnitus.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Tetapi, menurut Gemma Twitchen, audiolog senior dari Action on Hearing Loss kesukaan mendengarkan musik keras dapat menyebabkan tinitus semakin parah, dan akhirnya menjadi permanen.
(Baca juga: Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Telinga)

(Action on Hearing Loss mengatakan bahwa sepasang penyumbat telinga yang sederhana bisa cukup untuk melindungi Anda dari tinitus. Foto: Alfonso Scrapa/Unsplash.com)
"Mendengarkan musik keras pada malam hari atau dari pemutar musik pribadi Anda dapat mempengaruhi sel rambut Anda (sel sensitif di koklea yang bertanggung jawab untuk mendengar)," katanya.
Secara umum, waktu yang aman bagi seseorang adalah mendengarkan suara pada tingkat 85 desibel selama delapan jam. Namun ketika Anda berada di klub malam, tingakt suaranya bisa mencapai 120 desibel dengan waktu yang aman selama 15 menit saja.
Action on Hearing Loss mengatakan bahwa sepasang penyumbat telinga yang sederhana bisa cukup untuk melindungi Anda dari tinitus.
Paul Breckell, Chief Executive dari Action on Hearing Loss mengatakan, "Sangat mengkhawatirkan beberapa penelitian kami menunjukkan bahwa sebanyak 53,4 persen orang berusia 18 sampai 24 tahun mengalami tinitus, dan 40 persen orang tidak menyadari bahwa mendengarkan suara bising dapat menyebabkan tinitus permanen."
Dan sampai sejauh ini, masih belum ditemukan obat untuk tinnitus, oleh karena itu mencegah terjadinya tinnitus adalah cara terbaik yang bisa Anda lakukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
