Acara: Peluncuran Duloxta bekerjasama dengan RSJ Dharmawangsa. (Foto: Krispen/Medcom.id)
Acara: Peluncuran Duloxta bekerjasama dengan RSJ Dharmawangsa. (Foto: Krispen/Medcom.id)

Penderita Gangguan Mental di Indonesia Meningkat

Rona orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)
Sunnaholomi Halakrispen • 22 November 2019 14:30
Jakarta: Jumlah penderita gangguan mental di Indonesia meningkat. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlahnya mencapai 9,8 persen dari total penduduk Indonesia.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS. Parahnya, gangguan mental tersebut mayoritas bertindak melakukan bunuh diri.
 
"Seringkali tidak terdeteksi dan tidak bisa kita cegah kejadian bunuh diri ini. Hampir 800 ribu orang meninggal akibat bunuh diri," ujar Dr. Diah di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 22 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penderita gangguan mental berisiko melakukan tindakan ekstrim, seperti bunuh diri. Sementara itu, dalam skala dunia, prevalensi depresi mencapai 3-8 persen dari total populasi masyarakat di dunia. 
 
Sebanyak 50 persen kasus di antaranya terjadi pada usia produktif, yakni 20-50 tahun. Bunuh diri juga dinyatakan sebagai penyebab utama di urutan kedua terkait kematian pada remaja hingga dewasa atau usia 15-29 tahun.  
 
Dr. Diah memaparkan, dampaknya bisa muncul karena orang-orang terdekat. Seperti keluarga, teman, kolega kerja, hingga masyarakat sekitar. Contohnya, terjadi pada orang tua yang merasa kesepian dalam menjalani hidupnya.
 
"Di Jogja ada namanya buluhgantung, artinya ada panggilan untuk bunuh diri. Di Gunung Kidul banyak orang tua hidup sendirian karena anak-anaknya banyak keluar dari desa untuk pergi merantau ke kota," paparnya.
 
Contoh sederhana lainnya, bahkan depresi bisa terjadi pada anak-anak. Terlebih anak sekolah yang merasa terbebani dengan tugas sekolah maupun ujian. 
 
Banyaknya beban itu, kata Dr. Diah, selanjutnya perlu diperhatikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. "Anak tidak lulus sekolah atau ujian lalu mencoba bunuh diri," imbuhnya.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif