Ilustrasi--Pexels
Ilustrasi--Pexels

Bahaya Menghisap Vape di Sekitar Anak

Rona tips kesehatan
Anda Nurlaila • 28 Juni 2019 11:47
Asap vape ternyata berbahaya. Baik bagi penghisapnya, atau pun orang di sekitarnya, apalagi anak-anak. Anak dapat terpapar nikotin, kandungan timah, nikel, arsenik, formaldehida, dan produk sampingan kimiawi dari proses pemanasan.
 

Jakarta: Rokok elektrik atau vape berbeda dengan rokok. Jika rokok dinikmati dengan menghirup asapnya, menikmati vape adalah dengan menghirup aerosol atau uap dengan ribuan pilihan rasa dan aroma.
 
Orangtua sering kali menyangka vape lebih aman daripada rokok. Tak jarang mereka menghisap vape di dekat buah hati. Padahal, kandungan nikotin dalam vape lebih tinggi daripada rokok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Vaping di dekat bayi dan anak-anak dapat menyebabkan anak terpapar nikotin dan kandungan logam berat lainnya. Seperti timah, nikel, dan arsenik, formaldehida, dan produk sampingan kimiawi dari proses pemanasan.
 
"Seperti halnya rokok, bayi, balita dan anak yang terpapar uap dapat menghirup atau menelan uap beracun dan karsinogen dari tangan kedua dan ketiga. Termasuk hidrokarbon aromatik poliklik, nikotin, senyawa organik yang mudah menguap, dan partikel halus," kata Dokter anak di Cleveland Clinic Children's Ellen Rome seperti dikutip dari Parents.
 
Roma menambahkan, partikel logam dan silikat seringkali memiliki konsentrasi lebih tinggi dalam produk sampingan uap daripada dalam asap rokok. "Walau anak-anak tidak batuk atau mengi, umumnya akan akan mengalami penyakit pernapasan yang lebih sering, atau menunjukkan tanda-tanda keracunan nikotin," katanya.
 
Selain pada bayi, balita dan anak, vaping di dekat wanita hamil juga berisiko pada janin. Dalam sebuah studi di laboratorium, tikus neonatal yang terpapar aerosol dari larutan nikotin dalam rokok elektrik mengalami penurunan berat badan dan gangguan pertumbuhan paru-paru dibandingkan dengan tikus yang terpapar udara kamar.
 
“Anak-anak sering bersentuhan dengan lingkungan yang lebih besar daripada orang dewasa seperti lantai. Bayi selalu memasukkan dan menjilat benda-benda yang bisa terpapar bahan kimia pada permukaannya. Kami khawatir bahan kimia dari residu vape menyebabkan masalah pada paru-paru dan sistem saraf yang berkembang.” kata internis di Nicotene Dependence Center di Mayo Clinic J. Taylor Hays.
 
Selain menghirup residu, anak juga rentan mengalami risiko kecelakaan akibat e-rokok. Contohnya, balita dan anak dapat menelan isi ulang e-liquid atau menelan mod dan pod yang terlihat seperti lego.
 
Di Amerika kecelakaan tidak disengaja akibat cairan isi ulang vape meningkat secara eksponensial sejak 2011, bahkan  menyebabkan beberapa kematian. E-rokok juga menyebabkan luka bakar, cedera ledakan dan cedera kimia akibat ledakan baterai ion-lithium dalam elemen pemanas. Anak yang menelan nikotin kurang dari setengah sendok teh dianggap keracunan, yang semakin banyak terjadi.
 
Namun, karena e-rokok relatif baru, penelitian belum menentukan efek jangka panjang vaping pada anak-anak. "Bukti ilmiah tidak jelas mengenai paparan kronis uap rokok elektronik terhadap anak-anak. Kekhawatiran kami bahan kimia dalam vape dapat berdampak pada perkembangan sistem saraf, terutama otak, serta paru-paru," kata Dr. Hays.
 
Melindungi anak dari efek negatif Vape
 
Hal paling baik untuk melindungi anak adalah tidak merokok atau menghirup vape di dekat anak-anak atau lingkungan dimana anak menghabiskan banyak waktu. Seperti dalam ruangan, mobil, atau tempat-tempat anak sering bermain.
 
Saat merokok elektrik, gunakan "jaket vape" khusus yang di simpan jauh dari anak-anak. Dan praktikkan kebersihan menyeluruh untuk melindungi anak-anak dari residu uap . “Setelah menghirup vape, mandi, cuci tangan, ganti baju dan singkirkan semua partikel bau / vape sebelum menggendong atau bermain dengan anak Anda,” kata Dokter anak di Northwestern Medicine Cynthia Ambler.
 
Hal paling baik adalah dengan menghentikan kebiasaan menghisap semua produk nikotin. Meski beberapa penelitian menunjukkan ada potensi e-rokok sebagai alat menghentikan kebiasaan merokok, perlu lebih banyak percobaan untuk mengevaluasi klaim ini.
 
“Memang sulit tapi bukan tidak mungkin menghentikan kebiasaan mengonsumsi nikotin. Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk pilihan perawatan yang diperlukan," kata Ambler.
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(YDH)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif