Lody Korua bercerita alasan mengapa dirinya memiliki keinginan menjadi relawan. (Foto: Dok. Lody Korua)
Lody Korua bercerita alasan mengapa dirinya memiliki keinginan menjadi relawan. (Foto: Dok. Lody Korua)

Lody Korua dalam Sunyi Relawan Beraksi

Rona kisah
Raka Lestari • 06 April 2020 14:21
Jakarta: Menjadi relawan adalah sesuatu hal yang mulia. Akan tetapi, tidak mudah untuk bisa menjadi relawan. Terutama di tengah keterbatasan dan pilihan apakah harus menyelamatkan diri sendiri atau orang lain terlebih dahulu. 
 
Salah satunya adalah cerita dari Lody Korua, yang sudah mulai aktif menjadi relawan selama lebih dari 15 tahun dan mendirikan Global Rescue Network, sebuah organisasi nirlaba yang membantu orang-orang yang terkena bencana.

Alasan tergerak jadi relawan

Pria yang juga menyukai olahraga ekstrem ini menceritakan alasan mengapa dirinya memiliki keinginan menjadi relawan.
 
“Tekad saya dan teman-teman ingin menolong orang yang ada dalam kesulitan dan meringankan beban pemerintah dalam penanggulangan bencana. Kenapa pemerintah? Karena relawan akan lebih efektif jika berkoordinasi dengan pemerintah,” tutur Lody.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menekankan bahwa dalam menjadi relawan, hasil yang didapatkan akan bisa lebih maksimal jika bisa saling mendukung dengan berbagai pihak. Misalnya saja dengan pemerintah yang diwakili dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
 
“Relawan menurut saya ada tiga tipe. Tipe pertama itu tangan kiri memberi, tangan kanan memberi. Kemudian yang kedua, tangan kiri memberi tangan kanan menerima. Dan yang ketiga, tangan kanan menerima tangan kiri menerima,” tuturnya.
 
Lody Korua dalam Sunyi Relawan Beraksi
(Lody dalam membantu korban tsunami Aceh. Foto: Dok. Lody Korua)

Awal mula mendirikan Global Rescue Network

“Mulai serius bikin Global Rescue Network itu waktu banjir Jakarta pertama. Setelah itu GRN menjadi yang pertama masuk Aceh waktu Tsunami,” ujar Lody.
 
Menurut Lody, alasan mengapa ia dan teman-temannya mendirikan GRN karena menurutnya networking adalah salah satu hal yang paling penting. 
 
“Kami melakukan networking dengan segala lapisan, mulai dari pengusaha, pemerintah, militer, polisi, Basarnas, dan pihak-pihak lainnya.”
 
Menurut Lody, operasi yang paling sukses adalah ketika ia dan tim dari GRN melakukan bantuan di Aceh pada saat Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 lalu.
 
“Bahkan kami bisa networking dengan tim-tim militer asing. Networking itu yang pemerintah waktu itu tidak bisa melakukan,” tuturnya.
 
“Oh iya, yang penting kami juga memanfaatkan networking dengan televisi. Tiap bencana, televisi-televisi berebut mengikuti kami,” ujar Lody.
 
“Kami di Aceh memanfaatkan televisi untuk keamanan karena kami masuk daerah konflik dan tahu bahwa militer dan GAM masing-masing mencari simpati dunia. Jadi kami aman kalau bawa media televisi,” ujarnya sambil tertawa. Akan tetapi, Lody menceritakan bahwa dirinya sudah tidak lagi aktif di organisasi GRN tersebut.
 
Lody Korua dalam Sunyi Relawan Beraksi
(Lody di Desa Leupung Aceh. Foto: Dok. Facebook Lody Korua)

Kendala-kendala yang dirasakan sebagai relawan

“Kendala yang paling sering ditemukan, terkadang dari pemerintah (BNPB) sudah betul tapi kenyataan di lapangan tidak berjalan mulus. Misalnya tim medis hanya menunggu di Puskesmas, tidak mau datang ke lokasi bencana,” tutur Lody.
 
Dari situlah menurut Lody peran relawan dibutuhkan, yaitu untuk menutup kelemahan-kelemahan tersebut.
 
“Makanya kami sebagai relawan menutup kelemahan itu. Tim medis kami, mengevakuasi korban ke puskesmas. Korban bencana biasanya kesulitan untuk pergi ke puskesmas sendiri karena jalan-jalan biasanya sudah hancur,” tuturnya.
 
Ia juga menambahkan jika memang harus terpaksa mengevakuasi korban bencana ke kota besar, seperti Jakarta akan dilakukan.
 
“Kendala lain adalah kami sering berbenturan dengan tim-tim besar yang punya kepentingan politik yang negatif. Memberi bantuan sambil menghasut untuk melawan pemerintah. Ini yang saya bilang relawan tipe tiga itu tadi,” ujar Lody.  
 
Lody Korua dalam Sunyi Relawan Beraksi
(Lody di Cigobang Lebak. Foto: Dok. Facebook Lody Korua)

Rencana membantu masyarakat di tengah covid-19

Saat ini Indonesia sedang berjuang melawan pandemi covid-19. Butuh dukungan dari berbagai pihak untuk saling membantu antar masyarakat ataupun tenaga medis yang merupakan garda terdepan dalam menghadai covid-19.
 
Sebagai relawan, Lody bercerita, “Bencana kali ini memang sangat unik untuk kami. Saya belum berani gegabah untuk menggerakkan tim karena tim saya punya keluarga yang mungkin tidak semuanya setuju anggota keluarganya bergerak yang tidak sesuai dengan keahlian kami,” tuturnya.
 
“Saya memiliki tanggung jawab kepada keluarga mereka, tetapi kami terus melakukan koordinasi tentang apa yang akan kami lakukan. Untuk sementara saya hanya bisa berbicara di media sosial sambil memeringati relawan tipe 3 itu supaya jangan macam-macam,” tegas Lody.
 
Menurut Lody, saat ini apa yang dilakukan oleh pemerintah sudah betul. Untuk itu ia meminta untuk masyarakat saling membantu dan malah diganggu dengan kepentingan-kepentingan yang tidak jelas.
 
“Jadi melawan covid-19 ini sudah betul, tetapi yang sulit adalah menghadapi penjegal-penjegal ini. Saya di lapangan banyak menemui relawan-relawan yang tidak jelas. Semua rata-rata membawa nama besar. Kita kompak saja belum tentu menang lawan covid-19, apalagi tidak kompak,” ujarnya.
 
Lody Korua dalam Sunyi Relawan Beraksi
(Lody juga menyukai olahraga ekstrem. Foto: Dok. Facebook Lody Korua)

Pesan untuk para relawan di luar sana

Menjadi relawan tentu tidaklah mudah, apalagi dalam menjadi relawan pada umumnya tidak mendapatkan gaji atau uang sepeser pun.
 
Untuk itu Lody memberikan pesan kepada para relawan lain yang ada di luar sana, “Jadilah relawan yang tulus, ikhlas dan sesuai kemampuan dalam menolong sesama. Jangan terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan lain. Pertanggungjawaban dalam menjadi relawan itu ke Tuhan,” tuturnya.
 
“Dan untuk pemerintah, menurut saya selama ini apa yang dilakukan oleh pemerintah sudah betul. Hanya saja yang harus dievaluasi adalah tenaga-tenaga yang ada di lapangan sehingga pencapaiannya tidak maksimal,” ujar Lody.
 
“Dari bencana ke bencana penanganan pemerintah tidak pernah ada yang sempurna, pasti ada bolong-bolongnya. Ya, tugas kita sebagai relawan adalah menambal bolong-bolong tersebut,” tutup Lody.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif