Perkawinan dipercaya bisa membelokkan depresi, mencegah stres, bahkan membantu orang hidup lebih lama--Ilustrasi--Pexels
Perkawinan dipercaya bisa membelokkan depresi, mencegah stres, bahkan membantu orang hidup lebih lama--Ilustrasi--Pexels

Menikah Turunkan Peluang Demensia?

Rona gaya demensia
Sunnaholomi Halakrispen • 31 Oktober 2019 17:07
Jakarta: Perkawinan dipercaya bisa membelokkan depresi, mencegah stres, bahkan membantu orang hidup lebih lama. Tapi, apakah benar bahwa menikah bisa menurunkan peluang terkena penyakit demensia?
 
Demensia adalah istilah umum untuk penurunan kemampuan mental yang cukup parah. Sehingga, bisa mengganggu kehidupan sehari-hari.
 
Orang yang menikah memiliki peluang jauh lebih rendah untuk didiagnosis dengan gangguan yang ditakuti ini. Hal tersebut dibandingkan dengan mereka yang bercerai, berpisah, janda, atau tidak pernah menikah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dilansir dari WebMD, Pernikahan lebih melindungi dalam hidup bersama. Orang yang bercerai memiliki lebih dari dua kali peluang soal penurunan mental dibandingkan dengan orang yang sudah menikah.
 
Akan lebih buruk dampak perceraian bagi para pria. Mereka memiliki peluang 2,6 kali lebih tinggi terkena demensia dari pada pria yang sudah menikah.
 
Sedangkan, wanita yang bercerai memiliki risiko 30 persen lebih tinggi. Hal ini dibandingkan dengan wanita yang sudah menikah dan memiliki hubungan percintaan yang awet.
 
"Ada banyak teori tentang mengapa pernikahan mungkin baik untuk kesehatan umum. Orang yang menikah, tentu saja, secara finansial lebih baik dari pada mereka yang tidak memiliki pasangan," ujar Hui Liu, ketua peneliti dan profesor sosiologi di Michigan State University.
 
Tetapi, ada faktor-faktor lain selain ekonomi yang berperan kuat dalam hal ini. Salah satunya, manfaat psikologi sosial. Penelitian ini hanya menemukan hubungan pernikahan dari pada hubungan sebab-akibat.
 
Ia mencatat bahwa perceraian dapat menyebabkan stres finansial dan emosional, yang dapat secara langsung memengaruhi fungsi mental atau kognitif. Stres dan depresi yang berasal dari perceraian berpotensi menyebabkan demensia.
 
Linda Waite selaku profesor sosiologi perkotaan di University of Chicago menyatakan, itu semua tentang bagian otak yang disebut korteks.
 
"Korteks berkembang sebagai pusat pemrosesan kognitif, mengatur tingkat fungsi kita. Jika itu berada di bawah tingkat fungsi normal, saat itulah demensia terjadi," papar Waite.
 
Dukungan emosional adalah kunci untuk mencegah demensia, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Orang yang menikah menemukan jaringan sosial mereka melalui pasangan mereka, teman dan keluarga mereka, rasa memiliki. "Menikah meningkatkan integrasi sosial, yang mempromosikan kesehatan kognitif," katanya.
 
Ada banyak faktor yang dapat membuat pria lebih rentan terhadap perceraian. Hal itu pun membuat pria lebih rentan terhadap demensia.
 
"Mereka terus-menerus berinteraksi satu sama lain, bernegosiasi dan berhubungan, dan itu membuat korteks tetap aktif," jelasnya.
 
Stres dapat membantu menjelaskan mengapa laki-laki yang bercerai mengalami kerugian besar saat pernikahan mereka berakhir. Lebih berisiko daripada pria yang belum menikah karena mereka telah melalui krisis-perceraian. Bisa menciptakan stres.
 
Bukan karena pernikahan juga tidak termasuk stres, tetapi bonus memiliki koneksi, jaringan, kadang-kadang meminimalkan risiko.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif