NEWSTICKER
Diskusi Nasional Penanggulangan Kanker di Rumah Sakit Dharmais. (Foto: Krispen/Medcom.id)
Diskusi Nasional Penanggulangan Kanker di Rumah Sakit Dharmais. (Foto: Krispen/Medcom.id)

Penyintas Kanker Bisa Kambuh?

Rona penyintas kanker
Sunnaholomi Halakrispen • 07 Februari 2020 16:04
Jakarta: Sejumlah penyintas kanker yang telah menjalani terapi mengalami kambuh di beberapa tahun kemudian. Prof. Dr. dr. Soehartati A Gondhowiardjo, SpRad(K), OnkRad, menyatakan hal itu memungkinkan terjadi.
 
Sebelum mengkhawatirkan hal tersebut, ia mengimbau agar semua orang memahami bagaimana dasar kanker. Prof Soehartati menjelaskan bahwa kanker merupakan tumor ganas atau benjolan yang tidak normal di badan manusia.
 
Kanker dinyatakan sebagai tumor yang tidak memiliki batas. Sedangkan tumor jinak, memiliki batas yang diibaratkan dengan balon yang ada airnya, yang dicongkel bisa keluar kemudian tertangani hingga pulih.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau kanker tidak. Dia masuk di antara sel normal. Kedua, kalau ada pembuluh darah, terbuka, dia masuk. Punya kemampuan untuk hidup di tempat lain," ujar Prof. Soehartati dalam Diskusi Nasional Penanggulangan Kanker di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Barat.
 
Hal itulah yang menyebabkan bahwa kanker sangat berbahaya, bisa menyebabkan kematian, karena kanker mempunyai kemampuan untuk hidup. Maka demikian, sebelum diobati kankernya, orang harus diperiksa dahulu seluruh badannya.
 
"Livernya bagaimana, tulangnya, otaknya, parunya bagaimana. Karena begitu ada di tempat lain, bisa stadium empat. Pastinya pengobatannya akan berbeda," jelasnya.
 
Meskipun kanker dinyatakan telah bersih, penyintas kanker pun tetap harus menjalani pemeriksaan atau kontrol kesehatan secara rutin. Begitu pula perawatan intensif seumur hidup atau longlife.
 
"Satu titik ujung bolpoin ini, isinya 10 pangkat sembilan kalau kanker. Sel, sel itu kecil sekali. Jadi ada kemungkinan saat dikatakan bersih ya hanya saat itu," paparnya.
 
"Oleh karena itu, semua pasien kanker harus kontrol longlife, sepanjang hidup. Misalnya, pada kanker payudara, dua tahun pertama itu paling sering terjadinya kekambuhan," tambahnya.
 
Prof. Soehartati menceritakan kisah yang pernah dialaminya ketika seorang pasien mendatanginya. Pasien itu menyatakan bahwa dia pernah berobat pada 1991. Kondisi kankernya pulih, namun muncul kembali setelah 27 tahun.
 
"Kalaupun kemungkinanya kecil, tapi semua kanker memiliki kemungkinan untuk kekambuhan. Jadi walaupun dikatakan sembuh, harus tetap terkontrol," pungkasnya.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif