Prestasi tertinggi Jendi Pangabean meraih medali emas pada ajang Asian Para Games 2018 Jakarta. (Foto: Rommy Pujianto/MI)
Prestasi tertinggi Jendi Pangabean meraih medali emas pada ajang Asian Para Games 2018 Jakarta. (Foto: Rommy Pujianto/MI)

Jendi Pangabean: Melawan Trauma demi Mengubah Nasib

Rona kisah
Sunnaholomi Halakrispen • 31 Januari 2020 14:58
Jakarta: Jendi Pangabean, nama yang tak asing sebagai paralympian atlet renang disabilitas. Pria yang berhasil menyingkirkan stigma bahwa keterbatasan fisik tak menjadi penghalang kesuksesan.
 
Satu kaki yang dimilikinya, bisa mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Penghargaan demi penghargaan diterimanya sebagai peraih medali emas di berbagai olimpiade renang.
 
Tapi perjuangannya tidaklah mudah. Sebab Jendi kecil, terlahir sempurna dengan kondisi fisik yang lengkap. Ia merupakan anak yang sangat ceria dan aktif di bidang olahraga.

Kecelakaan dan trauma, tapi disabilitas bukan batas

Dilahirkan di tengah keluarga yang hangat dan harmonis, Jendi menjalani masa kecilnya dengan kebahagiaan. Rasa syukur diterimanya dalam setiap saat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tinggal di salah satu desa terpencil di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, hidupnya pun tak bergelimang harta. Jendi kecil gemar bermain di sungai dekat rumahnya. Hobi renang sudah dimulai sejak kecil.
 
Namun, ketika berusia 12 tahun, kecelakaan menimpanya. Saat itu Jendi diboncengi temannya dengan motor. Keadaannya tidaklah baik, kaki kiri yang dimilikinya telah hancur.
 
Kaki si anak yang baru beralih dari SD ke SMP itu, terpaksa harus diamputasi. Perih dirasakannya, bukan hanya soal kehilangan satu kaki. Tapi juga kepercayaan diri.
 
Jendi Pangabean: Melawan Trauma demi Mengubah Nasib
Jendi Pangabean tak mau terpuruk lama dalam kesedihan. (Foto: Krispen/Medcom.id)
 
"Tentu ini cobaan yang berat buat saya. Dulu saya belum bisa memikirkan apa yang akan terjadi pada diri saya nantinya. Awalnya ada trauma," kenangnya kepada Medcom.id di Oeang Coffee and Rostery, M Bloc Space, Jakarta Selatan.
 
Sedih dirasakannya, menikmati hari tanpa satu kaki. Tapi Jendi tak terpuruk lama dalam kesedihannya itu. Pikirnya, kecewa tidak berhak menyelimuti hidupnya karena dia harus bisa menerima bahwa itulah takdir.
 
"Ada titik balik dari apa yang sudah saya alami selama ini. Saya harus bisa menerima diri saya dengan keikhlasan bahwa fisik saya boleh tidak sempurna, tapi nasib saya harus sempurna," ucapnya.

Menerima diri sendiri

Jendi kecil berusaha melawan trauma mendalam yang dialaminya. Tantangan terberat dalam titik balik hidupnya, ialah menerima diri sendiri.
 
Menerima kondisi fisik yang tak sempurna dahulu. Hobi lamanya tak urung ditinggalkan. Justru, dijadikannya sebagai aktivitas fisik yang mengalihkan fokus rasa sakit dan kesedihannya.
 
"Jadi ibaratnya itu saya melampiaskan emosi dari trauma saya itu dengan hal yang positif. Akhirnya dengan berenang, saya lebih bisa menikmati hidup," ungkapnya.
 
Jendi Pangabean: Melawan Trauma demi Mengubah Nasib
Jendi saat memamerkan medali emas 200 meter gaya ganti S9, sekaligus memecahkan rekor Peparnas XIV pada 2016. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)
 
Dari trauma, tak hanya ada kepedihan, tapi juga ada energi positif yang didapatkannya. Tak banyak orang yang bisa kuat melawan rasa trauma. Namun, Jendi berhasil menyalurkan trauma itu.
 
Ketegaran hati dimilikinya mampu membuatnya melanjutkan hidup dengan lebih baik, tanpa rasa penyesalan. Ia pun memberanikan diri pergi merantau ke Kota Palembang dan diperkenalkan dengan olahraga renang.
 
Ketika di sekolah menengah atas (SMA) atau sekitar usia 16 tahun, Jendi bergabung dengan klub renang, berlatih dengan perenang normal lainnya. Namun, ia sempat diberikan program latihan renang yang tak sama dengan perenang normal.
 
"Waktu itu program latihan saya dibedakan dengan orang normal. Saya bilang tidak mau, karena saya maunya program sama, untuk mendorong kecepatan saya," tekadnya.

Kesetiaan keluarga

Jendi semakin giat memenuhi setiap program latihan renang, tak kalah dengan rekannya yang menggunakan dua kaki. Ia pun mengikuti kejuaraan-kejuaraan renang, mulai dari kompetisi di skala nasional hingga internasional.
 
Baginya, menekuni renang telah memberikan dampak positif bagi dirinya dan keluarga. Tanpa disadarinya, juga memberikan efek baik terhadap orang-orang di sekitarnya.
 
Akan tetapi, pria kelahiran 10 Juni 1991 itu sangat menyadari betapa pentingnya dukungan yang diterima dari luar dirinya. Utamanya, dukungan dari keluarga yang tiada henti didapatkan Jendi.
 
"Di balik ini ada keluarga, teman-teman, dan orang terdekat yang mendukung saya. Memperlakukan saya dengan sama. Jadi tidak masalah buat saya jika fisik saya harus kurang," tuturnya.
 
Orang tua Jendi tidak pernah memperlihatkan bahwa mereka kecewa dengan kondisi kaki Jendi yang telah diamputasi. Meskipun, ia memahami bagaimana perasaan rapuh kedua orang tuanya.
 
"Saya bukan dari keluarga berada tapi cara mereka berusaha mendidik saya, menyekolahkan dengan susah payah. Itu yang saya dapatkan dan ingat selalu dari orang tua saya," katanya. Perjuangan orang tua itu pula yang menjadi motivasinya lebih giat berlatih renang di setiap harinya.
 
"Memang awalnya berat tapi kita harus menerima diri kita dulu, bahwa kita harus menjadi leader buat diri kita sendiri, bahwa setiap orang punya potensi. Maka dari situ gali potensi diri dan benar-benar kita tekuni. Tidak usah dengar apa omongan orang, tidak usah malu, karena yang akan membuat sukses diri kita kelak itu adalah diri kita sendiri, bukan orang lain," tekannya.
 
Keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Rasa cinta kepada Tanah Air pun turut selalu menjadi motivasinya dalam meraih segudang prestasi dengan medali emas di setiap ajang para games yang diikutinya. Berikut prestasi yang telah diperoleh Jendi.
 
1. Peraih dua medali emas, satu medali perak, dan satu medali perunggu pada Pekan Nasional Paralympic Nasional 2012 di Riau.
 
2. Peraih dua medali emas, satu medali perak, serta pecahkan 50 meter gaya punggung pada Asean Para Games 2013 di Myanmar.
 
3. Peraih tiga medali emas, dua medali perak, satu medali perunggu, serta pecahkan rekor 100 meter gaya punggung dan 200 meter gaya ganti pada Asean Para Games 2015 di Singapura.
 
4. Peraih lima medali emas dalam nomor 400m gaya bebas, 100m gaya punggung, 200m gaya ganti, estafet 4×100m gaya bebas 34 point, dan 4x100m gaya ganti 34 poin, pada ASEAN Para Games 2017 di Malaysia.
 
5. Peraih satu medali perunggu pada APC World Championship di Berlin, German.
 
6. Peraih satu medali emas di nomor 100 meter gaya punggung S9, satu medali perak nomor 100 meter gaya kupu-kupu S9, satu medali perunggu di nomor 100 meter gaya bebas S9, dan satu medali perunggu di nomor 4x100 meter medley relay 34 poin, pada Asian Para Games 2018 di Jakarta.
 
Jendi Pangabean Persembahkan Emas untuk Palu-Donggala

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif