Albert Tei Roring, Dosen Sastra Cina di Universitas Indonesia (UI) sekaligus Relawan UI Peduli--Foto: Dokumen pribadi Albert Tei Roring
Albert Tei Roring, Dosen Sastra Cina di Universitas Indonesia (UI) sekaligus Relawan UI Peduli--Foto: Dokumen pribadi Albert Tei Roring

Relawan Itu Bukan Seperti Seminar

Rona kisah
Kumara Anggita • 17 Juni 2019 13:36
10 tahun sudah Albert Tei Roring, Dosen Sastra Cina di Universitas Indonesia (UI) merelakan sebagian waktu, tenaga dan pikirannya untuk menjadi seorang relawan. Asam garam telah di rasakannya. Menurutnya, menjadi seorang relawan adalah hal yang tidak mudah. Lantaran menguras, waktu, tenaga dan pikiran. Namun hal itu terbayar lunas dengan senyum bahagia dari korban bencana yang dibantunya.
 

Jakarta: Kehidupan tak lepas dari segudang permasalahan. Namun,  suara hati kerap menuntun, meyakinkan, dan melindungi kita.
 
Suara itu bukan muncul dari ocehan manusia. Dia muncul dari hati. Sebuah intuisi. Dengan ini, Anda yakin. Anda yakin memilih ke kiri atau ke kanan, Anda yakin memilih bertahan pada pekerjaan saat ini, Anda yakin memilih pasangan Anda dan tentunya yang paling penting, Anda yakin menjalankan takdir Anda. Baik atau buruk.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ide ini terkonfirmasi setidaknya oleh pria berkacata mata saat berjalan menuju ruangan. Albert Tei Roring, Dosen Sastra Cina di Universitas Indonesia (UI) sekaligus Relawan UI Peduli mulai membagikan ceritanya di tengah hujan di sore hari.  
 
“Kalau hati sudah yakin. Kalau mau melakukan sesuatu yang bukannya yang jahat pasti ada jalan walaupun sulit,” ujarnya kepada Medcom.id di Universitas Indonesia Depok, belum lama ini.
 
Buah pemikiran ini menjadi dasar Tei dalam mengambil segala keputusan. Termasuk keputusan untuk mendedikasikan separuh waktunya untuk menjadi relawan bencana bersama UI peduli.
 
Menjadi relawan adalah sebuah panggilan baginya. Dia tahu pasti bahwa apa yang dia lakukan hingga saat ini adalah hal yang memberikan kenyamanan pada batinnya.
 
“Ini panggilan jiwa di mana lihat orang susah ya harus menolong. Setiap ada kejadian saya sering langsung  sudah seperti ada insting harus ke sana. Dan selalu jadi,” tuturnya.
 
Sudah hampir 10 tahun Tei secara ofisial menjalankan perannya sebagai relawan. Hampir setiap bulan dia membagikan waktunya untuk membantu kawan-kawan yang berada dalam kesulitan bencana.
 
“Sebetulnya saya mulai menjadi relawan sejak menjadi manajer kemahasiswaan tepatnya pada tahun 2009, waktu kejadian sebelum padang. Ada kejadian di Tasik Jawa Barat. UI peduli belum ada namanya. Kita kirim tim tapi secara dadakan karena rasa empati kita,” katanya
 
“Saya belikan selimut. Besoknya tim UI berangkat. Resminya UI Peduli itu waktu bencana di Padang tahun 2009,” lanjutnya.
 
Tei memang dianggap sebagai anak yang mudah tersentuh. Sewaktu kecil saat pengamis datang, orang-orang berusaha untuk menjauh dan mematikan rasa ibanya. Dengan polosnya dia malah mengundang masuk pengemis tersebut ke dalam ruangan.
 
Perasaan lembut itu tetap dirawatnya hingga masa kuliah. Pada tahun 1985-an dia ikut membantu membangun kamar mandi di Sukabumi dengan bermodalkan tenaga dan niat tanpa koneksi. Ini adalah pengalaman yang menarik dan ternyata tanpa disadari, dia ulangi lagi dengan cara yang lain hingga saat ini. Menjadi relawan bencana.
 
“Dari waktu kuliah di Rawamangun  kita bangunin WC, kamar mandi untuk kuliah. 1985-1986. Ini inisiatif mahasiswa. Beli pakai mobil bak. Beli semen batu bata bawa ke kampung itu, sumur yang belum bagus kita bagusin. Cuma kuliah belum punya akses ke orang-orang tertentu,” katanya.
 
Komitmen menjadi relawan
 
Semua orang pasti pernah merasa tersentuh dan ingin membantu. Namun menurut Tei, untuk menjadi relawan bencana sungguhan dibutuhkan komitmen dari diri sendiri, selain semangat dan rasa ingin membantu.
 
Dalam komitmen ini terdapat dibutuhkan mental dan fisik yang kuat. Karena di lapangan, akan ada banyak hal yang akan Anda temui yang bisa mengguncang psikologis dan kesehatan Anda.
 
“Relawan itu lelah. Capek bukan seperti seminar. Itu fisik  harus tangguh dan mental juga. Kalau di Papua harus waspada nyamuk malaria. Ancamannya juga ada pasukan separatis atau kriminal  bersenjata. ada nyamuuk, ular, dan buaya. Itu tangggung jawab saya juga kalau ada sesuatu terjadi dengan tim,” ujarnya.
 
Relawan Itu Bukan Seperti Seminar
Albert Tei Roring, Dosen Sastra Cina di Universitas Indonesia (UI) sekaligus Relawan UI Peduli--Foto: Dokumen pribadi Albert Tei Roring.

 
Dalam praktiknya, sering ditemukan relawan yang suka foto-foto selfie untuk memfokuskan tentang dirinya daripada membantu. Tei prihatin dengan situasi semacam ini.
 
Selain itu, sewaktu dia membantu bencana di Palu ada pula orang yang begitu semangat di awal kedatangan dengan meneriakan kata-kata yang berkesan patriotik. Lucunya, keesokan harinya orang tersebut menghilang dan tak berada pada deretan relawan lagi.
 
“Ada relawan dari Kalimantan. Dia menyemangati orang “Palu kuat” “Palu bangkit” tahunya Subuh digoyang lagi, gempa. Besoknya dia pulang,” ujarnya.
 
Kejadian semacam ini menjadi hiburan juga buat para relawan lain. Ini dapat menjadi pelajaran untuk orang lain agar lebih kuat mental dan fisik jika mau terjun langsung ke lapangan.
 
“Jadi relawan itu bukan hanya niat dan semangat. Perlu sehat fisik dan mental. Mental termasuk itu, kalau ada gempa ya kuat,” ucapnya.
 
Selain itu, saat di lokasi bencana juga pasti banyak korban yang menderita baik secara fisik dan mental. Pada awalnya, mungkin orang akan terbawa sedih juga namun Tei mengingatkan bahwa sebagai relawan, seseorang tidak boleh terhanyut juga dan lebih fokus pada pemberian pertolongan.
 
"Di lapangan kita tetap ada simpati empati tapi tidak terbawa. Sedih saya lihat anak kecil waktu di Padang ada yang tidak dapat boneka karena habis stoknya dia menangis tapi kita tak pernah terbawa. Apapun yang kita bantu ya kasih semua,” katanya.
 
Namun di balik itu, Tei tetap memprioritaskan keselamatan timnya. Saat bertugas pastinya dia merencanakan segala hal sebelum berangkat.
 
“Nomor satu sebelum pergi adalah keselamatan. Selain target tercapai. Tidak asal pergi dan ambisi untuk nama UI. Makanya saya minta koneksi dengan TNI untuk keselamatan baru aksi,” katanya.
 
Bencana paling berkesan
 
Bagi Tei, semua bencana yang pernah dia datangi selalu menggores hati. Namun Bencana Likuifaksi di Palu pada tahun 2018 lalu sungguh mengejutkannya.
 
“Semua bencana sedih walaupun paling parah di Palu. Ini orang gak pernah lihat karena belum ada teknologi yang bisa ambil gambar seperti sekarang.  Jadi tanah seperti air. Mengalir bawa rumah dan lain-lain. itu terjadi di Palu. Itu paling dahsyat karena orang dikubur bersama rumahnya,” katanya.
 
Pada kejadian itu, Tei beserta tim UI peduli bisa mencium bau menyengat dari jenazah. Situasi ini  sangat berbahaya untuk relawannya sendiri.
 
“Bau mayat masih tercium mungkin dahsyatnya seperti bencana Aceh. Dalam arti jenazah menyangkut-nyangkut dalam keadaan basah. Ini repot untuk tim relawan untuk masukin ke kantong. Relawan harus pakai pakaian khusus. Luka sedikit kan bisa kena,” tuturnya.
 
Dalam keadaan bencana semacam ini. Relawan tidak boleh terlalu lama di lokasi, ada batas waktu. Tergantung orangnya juga psikologis dan lain-lain. Kalau sudah biasa ya bisa lebih kuat,” ujarnya.
 
Menolong adalah panggilan jiwanya
 
Dalam memaknai kehidupan, orang bisa menjalankan peran dengan berbeda. Ada yang panggilannya untuk menghibur orang, sukses dalam karier, menjalankan hobinya, dan tentunya bagi Tei menolong sesama.
 
Seperti yang disebutkan sebelumnya, melakukan sesuatu baiknya didasarkan oleh keyakinan hati. Dari sana, akan ada jalan yang diberi.
 
Contohnya, Tei waktu itu menjadi relawan ke Asmat. Umumnya orang akan pesimis mengingat untuk ke sana dibutuhkan usaha yang besar. Namun, ini tak menghentikannya. Dia tetap pergi dan benar ternyata semua berjalan dengan baik-baik saja.
 
“Seperti Asmat. Ini sulit. Ini  bukan seperti  ke Sentani naik pesawat sampai tapi harus ke Timika. Itu yang belum tahu naik pesawat atau naik apa,” ucapnya.
 
“Saat 2018 awal belum ada kepastisan tapi entah bagaimana adanya. Ada bantuan tak terlihat lewat  TNI yang bisa mengangkut kita,” lanjutnya.
 
Kejadian semacam ini menjadi kepuasan tersendiri. Dia percaya niat baik akan membuahkan hal baik.
 
"Panggilannya lebih menolong saudara setanah air. Sudah tidak lihat suka, agama, politik, dan lain-lain. Kami selalu diterima,” katanya.
 
Merenggang nyawa
 
Pada tahun 2015. Tei mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan. Dia berada di antara kehidupan dan kematian karena jatuh. Dia harus menjalani bedah otak yang berisiko tinggi.
 
“Saya jatuh pendarahan di otak  setelah dari bencana asap di Riau. Kebetulan UI ada Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sana dengan universitas di Riau, terlalu lelah saya. Kemudian bedah otak karena ada pendarahan,” katanya.
 
Untungnya, dia menjalani operasi tersebut dan pulih dengan cepat. Kejadian ini tak menghentikannya untuk melayani masyarakat. Dia justru semakin aktif membantu bencana hingga saat ini.
 
“Sebetulnya hampir meninggal. Ini dapat keajaiban bahkan setelah itu saya turun lagi  ke daerah yang lebih jauh di tahu 2016 saya ke Pidie Jaya, Aceh,” ujarnya.
 
“2016 ke Gunung Slamet karena ada mahasiswa UI yang jatuh. Setelah 2009 saya sudah ditakdirkan dimana ada bencana saya turun dengan UI sebagai relawan. Dengan segala kelengkapan ilmu yang dimiliki UI untuk membantu,” lanjutnya.
 
Relawan Itu Bukan Seperti Seminar
Albert Tei Roring, Dosen Sastra Cina di Universitas Indonesia (UI) sekaligus Relawan UI Peduli--Foto: Dokumen pribadi Albert Tei Roring.
 
Keluarganya pun juga setia mendukung panggilan hidup Tei. Saat bertugas, Tei total sebagi relawan. “Keluarga sudah tahu dari awal ini panggilan. Istri seperti ya sudahlah. Walaupun di lapangan ya kita berdoa berserah ke kuasa. Kalau keluar ya sudah tahu labelnya relawan. Malah kalau ada bencana istri tanya ‘tidak pergi’ ,” tuturnya.
 
Tei percaya apa yang dijalaninya memberikan kebahagaiaan yang tak dapat dijelaskan. Karena itu, ada tenaga tambahan saat bertugas yang menguatkannya.
 
“Entah dibilang sugesti Tapi kalau kita sudah berbuat sesuatu ke orang lain kayak  gimana. Ada tenaga tambahan juga yang bikin kita tidak lapar, tidak sakit. Seperti ke Asmat. Kami capek sekali dan tidak tidur. Ketika misi selesai kita pulang utuh senang,” tutupnya.
 
Walaupun terkesan sederhana, belajarlah dari sekarang untuk mendengar dan berbicara dengan hati Anda. Dengan seperti itu, Anda akan merasakan kebahagiaan.
 
Relawan Bencana, Pahlawan Bagi Warga

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif